Youngpreneur

Puja Salasabila ; Mashitda.id, Makanan Korea Hasil Iseng yang Direspons Positif

BISNISBANTEN.COM — Puja Salasabila mulai menekuni usaha di bidang kuliner yang dinamai Mashitda ini sejak 10 Juni 2020. Ide kreasi usaha yang muncul saat pandemi ini menurut Puja sangat pas dimunculkan, yakni saat orang-orang butuh asupan makanan selama proses isolasi mandiri.

“Nah melalui survey dan yang Puja alami sendiri, selama di rumah ngisi kegiatan selain kuliah itu nonton drama Korea sambil bm makanan Korea biar kerasa feelnya aja gitu. Akhirnya Puja coba bikin iseng makanan-makanan Korea gtu, Puja bagi-bagiin ke keluarga. Respons mereka positif, katanya enak dan memiliki nilai jual. Alhasil Puja bangun deh usaha tapi hanya di rumah aja belum buka outlet,” jelas Duta Untirta 2019 ini.

Puja Salsabila

Beragam menu dihadirkan, antara lain kimbab, rappoki, tteokboki, mentai, mandu, odeng, dan dalgona matcha. Untuk menu unggulan, Puja menyebut, ada mentai, rappoki dan kimbap. Harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp18 ribu dan paling mahal Rp28 ribu.

Advertisement
Menu makanan unggulan Mashitda.id

Cewek asal Pandeglang ini membuka usaha di rumahnya di Kp Talaga RT 02 RW 07 Karaton Majasari, Pandeglang. Selain bisa order offline mendatangi alamat tersebut, bisa juga secara online melalui akun Instagram mashitda.id juga bisa melalui gofood dan profood.

Minuman unggulan Mashitda.id

“Untuk saat ini masih melayani area Pandeglang aja,” ujar lulusan SMKN 1 Pandeglang ini.

Mengatur waktu antara kesibukan kuliah sebagai mahasiswi Teknik Sipil Untirta dan menjalankan usaha, Alpha Zetizen Banten 2017 yang juga Youth Ambasador New Zealand untuk area Banten ini bilang, gampang-gampang susah.

“Kebetulan aku dibantu sama mamah dan saudara, jadi kalau aku banyak kegiatan aku cuma handle di pemasaran dan desain aja. Sebelumnya pernah usaha online shop, cuma enggak kepegang jadi enggak jalan sekarang,” pungkas remaja yang piawai menari dan make up selain memasak ini. (hilal)

Advertisement

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.