Banten24

QRIS Jadi ‘Game Changer’, Transaksi Non-Tunai di Banten Meroket Hingga 100%!

BISNISBANTEN.COM – Sistem pembayaran non-tunai di Indonesia, khususnya di wilayah Banten, mencatat pertumbuhan yang sangat signifikan. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah menjadi kanal pembayaran paling aktif dan disebut sebagai “game changer” dalam transaksi ritel, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hal ini disampaikan oleh Kepala Deputi Bank Indonesia, Agus Sumirat, dalam taklimat media di salah satu resto, Kamis (06/11/25).

Data menunjukkan, perkembangan QRIS di Banten sangat pesat, terbukti dengan tingginya porsi pengguna dan merchant dibandingkan populasi.

Advertisement

Agus Sumirat memaparkan perkembangan sistem pembayaran non-tunai melalui kanal Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) antara Triwulan II dan Triwulan III tahun 2025.

“Kalau lihat dari secara grafik tadi sistem pembayaran antara triwulan II dan triwulan III 2025. Untuk yang SKNBI itu terjadi peningkatan secara nominal dari 6,69 triliun di triwulan ketiga menjadi 8 triliun lebih. Dan secara volume juga otomatis akan meningkat dari Rp157.185 transaksi meningkat dari Rp179.500 Rp179.503. Itu untuk SKNBI,” ujarnya.
Untuk BI RTGS secara nominal terjadi penurunan dari transaksi triwulan II yang tercatat Rp251,92 triliun menjadi Rp246,476 triliun. “Tapi secara volume justru ada leningkatan Dari 45.526 transaksi menjadi52.809 transaksi,” tambahnya.

Dalam transaksi ritel, QRIS telah membuktikan diri sebagai kanal pembayaran yang paling “happening” dan sangat efektif, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di Pulau Jawa, jumlah merchant QRIS mencapai 27.861.609, dengan Banten menyumbang 2.470.990 merchant. Mayoritas (96,07%) merchant di Banten didominasi oleh UMKM.

Sampai dengan posisi September 2025, jumlah pengguna QRIS secara nasional mengalami peningkatan 9,31% (yoy), atau sekitar 3,2 juta user.

“Perbandingan antara pengguna QRIS dengan penduduk usia produktif di Banten mencapai 34,48%, jauh lebih tinggi dari porsi nasional yang sebesar 25,74%,” terang Agus.

Inovasi terbaru dalam sistem pembayaran QRIS adalah peluncuran QRIS Tap, yang menggunakan teknologi NFC (Near Field Communication) untuk kemudahan transaksi tanpa perlu membuka aplikasi.

“Banten menjadi pilot project nasional untuk implementasi “Mall Siap QRIS Tap”, yang pertama kali diresmikan di Bintaro Jaya Exchange,” katanya.

Inovasi ini diharapkan terus didorong, tidak hanya di wilayah utara (Tangerang Raya) yang menyumbang 73-75% merchant QRIS, tetapi juga di Kota Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Lebak, termasuk di sektor transportasi dan pariwisata.

Kepala KPw BI Banten, Ameriza M. Moesa, menyebut Banten menjadi penyumbang terbesar kelima untuk pengguna QRIS, dengan porsi 5,43 persen dari nasional, dan untuk merchant dengan porsi 5,98 persen.

Secara nasional, hingga September 2025, jumlah pengguna QRIS telah meningkat 9,31 persen (yoy), atau sekitar 3,2 juta pengguna baru. Khusus di Banten, perbandingan antara pengguna QRIS dengan penduduk usia produktif mencapai 34,48 persen, jauh melampaui porsi nasional yang sebesar 25,74 persen.

“Total Volume Transaksi QRIS (Januari-September 2025) mencapai 769,8 juta volume dengan kenaikan hampir 100 persen (99,9 persen yoy), dan nilai transaksi mencapai Rp68,8 triliun, meningkat 76,61 persen (yoy),” jelasnya.

Pihak BI berkomitmen untuk terus mendorong penggunaan QRIS sebagai alat pembayaran yang mudah dan aman di seluruh lapisan masyarakat, guna mengakselerasi ekonomi dan keuangan digital di Banten.(siska)

Advertisement
bisnisbanten.com