Selami Kedalaman Filosofi Haji 2026: Berikut Tips Agar Jemaah Tak Terjebak Rutinitas Mekanis

BISNISBANTEN.COM – Penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M menandai era baru dengan transisi komando ke Kementerian Haji dan Umrah. Namun, di balik kecanggihan fasilitas dan layanan teknis yang diprediksi makin prima, jemaah diingatkan untuk tidak terjebak dalam rutinitas mekanis.
Pesan reflektif tersebut ditegaskan oleh Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Primagraha (UPG) Kota Serang, Dr. H. Deni, dikutip pada Jum’at (07/05/26).
Menurutnya, tantangan terbesar jemaah tahun ini bukan lagi soal logistik, melainkan kedalaman spiritual.
Pria yang akrab disapa Kang Deni ini menjelaskan bahwa esensi haji dimulai dari Ihram. Baginya, selembar kain putih tanpa jahitan adalah simbol dekonstruksi identitas manusia.
“Ihram adalah pengingat tajam akan kain kafan. Di hadapan-Nya, menteri dan petani berdiri sejajar. Inilah momen mematikan ego dan menjadi pribadi yang paling tidak berbahaya bagi alam semesta,” ujar Deni.
Ia menambahkan, jika akomodasi, transportasi, dan konsumsi sudah memuaskan, maka tugas besar jemaah adalah memastikan perjalanan ini menjadi sebuah “evolusi” jiwa menuju Sang Pencipta.
Dr. Deni menguraikan makna mendalam di balik setiap rukun haji sebagai panduan bagi jemaah. Puncak haji di Padang Arafah disebutnya sebagai “miniatur Padang Mahsyar”. Di sana, manusia dipaksa berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk mengenal (Arafah) jati diri yang paling jujur.
Sementara dalam Tawaf, pergerakan mengelilingi Ka’bah melambangkan harmoni alam semesta. Deni menekankan bahwa setiap putaran adalah ikrar bahwa Allah harus menjadi pusat dari setiap keputusan dan tindakan manusia setelah pulang ke tanah air.
Tak kalah penting, filosofi Sa’i (berlari kecil antara Shafa dan Marwah) mengajarkan totalitas ikhtiar. “Meski tampak mustahil mencari air di padang pasir, Sa’i membuktikan bahwa mukjizat akan datang justru di saat keringat terakhir kita menetes,” ungkapnya memotivasi.
Sedangkan ritual Melempar Jumrah dipandang sebagai “Revolusi Internal”. Musuh yang dilempar bukanlah pilar batu, melainkan sifat-sifat buruk, kesombongan, dan ketamakan yang bersarang di dalam dada jemaah.
Menutup pesannya, Deni menegaskan bahwa kemegahan hotel atau fasilitas selama di Tanah Suci sama sekali tidak berkorelasi dengan kemabruran haji. Ukuran keberhasilan ibadah ini adalah perubahan karakter.
“Haji bukan tentang seberapa megah hotel tempat menginap, tapi tentang seberapa besar perubahan karakter yang dibawa pulang,” tegasnya.
Ia berharap, jemaah haji, khususnya dari Banten, mampu membawa pulang “jiwa yang baru”. Jiwa yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan mampu menebar manfaat bagi sesama di tanah air.(siska)








