Travel

Track Baru Aseupan, Lebih Landai Namun Tetap Menakjubkan

BISNISBANTEN.COM — Bagi para pendaki, pasti sudah tahu tiga gunung di Pandeglang yang terangkum dalam Akarsari alias Aseupan, Karang, dan Pulosari. Ketiganya punya daya tarik tersendiri. Termasuk Aseupan, gunung berketinggian 1174 Mdpl di daerah Jiput, Pandeglang, Banten ini.

Gunung Aseupan dengan ketinggian 1174 Mdpl dalam kondisi berkabut.

Untuk menuju Aseupan, dari arah Pandeglang maupun Carita, bisa mengambil jalan ke arah Sikulan, Jiput, Pandeglang. Nah di sini ada dua basecamp (BC) resmi dengan guide mumpuni yang akan mengantar ke Puncak Gunung Aseupan.

“Di sini ada dua basecamp resmi, BC Kantong Semar Kang Beno dan BC Abah atau Pak RT,” jelas salah satu guide yang mengantar para peserta Rawat Bumi Camp pada 13-14 Februari 2021 lalu.

Advertisement

Rawat Bumi Camp merupakan event sharing komunitas yang peduli terhadap alam seperti Kemangteer Serang, Pepelingasih Banten, Rehabilitasi Pantai Teluk, dan Earth Hour Serang. Kegiatan yang diikuti sekitar 40 orang dari berbagai kabupaten dan kota di Banten ini sekaligus ngecamp dan menikmati sunrise di puncak Gunung Aseupan.

Track baru menuju Gunung Aseupan.

Di basecamp Kantong Semar, motor dan mobil peserta dititipkan di sini. Biaya parkir hanya Rp20 ribu untuk motor dan Rp30 ribu untuk mobil. Tiket masuk per orang Rp10 ribu. Karena hari itu pengunjung yang camp di beberapa pos di Gunung Aseupan ini cukup ramai, rombongan Rawat Bumi yang berjumlah 27 orang menggunakan track baru.

“Kata guidenya, kita adalah rombongan kedua yang naik memakai track baru ini. Dibanding track lama, yang ini lebih landai dan lebih cepat,” jelas Hani, salah satu peserta Rawat Bumi Camp.

Peserta Rawat Bumi Camp 2021.

Karena masih baru, pos yang ditempati untuk camp terlihat baru dibabad di beberapa spot. Pos camp ini adalah pos 3. Menurut Satria, peserta lainnya, setelah mengecek melalui aplikasi, lokasi camp pos 3 berada di ketinggian 280 mdpl. Untuk mencapai ke ketinggian ini, peserta nanjak dari pukul 16.30 WIB dan sampai 19.30 WIB dengan beberapa kali istirahat.

Advertisement

Di pos ini terdapat sumber air. Namun harus turun dari tempat camp, sekitar 10 menit di lokasi ini terdapat curug. Curug dengan air alami serta jernih dan menyegarkan ini terletak di dekat ladang jagung milik warga sekitar. Ini sangat membantu bagi pengunjung yang melakukan camp dan membutuhkan air untuk minum, masak, mencuci muka dan lain sebagainya.

Jarak pos camp ke puncak Aseupan, durasi perjalanan dari pukul 04.30 WIB berangkat dan sampai 07.30 WIB. Menurut guide, sebenarnya bisa ditempuh kurang lebih sejam. Namun karena banyak istirahat, waktu yang dibutuhkan lebih lama dari biasanya.

Sementara saat pulang, jauh lebih cepat dari biasa. Dari pos camp turun pukul 11.30 WIB dan tiba di basecamp Kang Beno pukul 13.00 WIB.

Banyak hal yang bisa dinikmati di Gunung Aseupan ini. Kalau sedang beruntung ketika puncak Aseupan tidak diselimuti kabut, bisa melihat puncak Gunung Karang dan Pulosari. Di gunung ini pun tumbuh Kantong Semar, tanaman pemakan serangga.

Nepenthes atau yang biasa dikenal sebagai kantong semar adalah tumbuhan karnivora terdiri dari 160 spesies yang bisa ditemukan di kawasan tropis, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan sebagainya. Tanaman itu memilik penyebaran luas, baik dataran rendah dan dataran tinggi. Namun ada larangan untuk tidak memetik tumbuhan ini.

Larangan lain yang harus dipatuhi adalah dilarang duduk di atas kayu atau pohon yang roboh dan dilarang mengangkat makanan saat hendak disantap. Makanan yang dimaksud adalah makanan pokok seperti nasi. Larangan lumrah seperti dilarang berbuat mesum dan membuang sampah sembarangan, tentu saja harus dipatuhi.

Mengenai nama aseupan, beberapa peserta menjelaskan ada dua versi. Namun versi yang paling mendekati adalah karena bentuk gunung ini kerucut seperti aseupan atau tempat masak. Sementara versi lain menganggap gunung ini kerap berasap atau berkabut.

“Dulu waktu ibu masih MTs (SMP-red) pernah nanjak ke puncak, gak nginep. Itu tahun 1986. Belum seramai sekarang. Jalannya juga belum seperti sekarang,” tutur wanita yang menjaga warung tak jauh dari basecamp Kantong Semar Kang Beno.

Nah, bagaimana? Tertarik mengunjungi gunung ini seperti saya? (hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.