Travel

Masjid Kuno Tertua di Banten Ini Berusia Lebih dari 400 Tahun Loh, Wow!

BISNISBANTEN.COM – Tak banyak yang tahu kalau di kaki Gunung Karang, Pandeglang, Banten, masih berdiri kokoh masjid yang berusia lebih dari 400 tahun. Ya inilah Masjid Baitul Arsy.

Masjid yang juga disebut sebagai masjid pasir angin ini, berada di Dusun Pasir Angin, Desa Pager Batu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Masjid berukuran 13 x 10 meter ini disebut-sebut sebagai masjid tertua di Kota Santri. Sebagian konstruksi masjid ini dibangun menggunakan kayu tersebut diperkirakan berusia lebih dari 400 tahun. Meski demikian masih terawat dengan baik dan sering dijadikan tempat ibadah oleh warga.

Advertisement

Bangunan masjid ini menghadap ke Gunung Karang dan memiliki tiga pintu. Dua pintu samping (kiri-kanan) dan satu pintu masuk bagian depan masjid.

Masjid yang dibatasi pemukiman-pemukiman warga yang mengelilinginya ini memiliki kontur tanah tempat berdiri bangunan yang melandai.

Masjid ini terdiri dari dua bangunan yang bahan bangunan dan bentuknya sangat berbeda namun menyatu. Di bagian atas terdapat atap tumpang tiga yang terbuat dari genteng, yang dahulunya merupakan jerami. Di puncak atap terdapat memolo bertumpang tiga.

Bentuk bangunan masjid ini berupa bangunan panggung dengan ketinggian dari tanah hingga lantai masjid sekira 73 cm dengan ketinggian dari lantai kayu hingga puncak atap sekira 6,45 m.

Advertisement

Tiang penyangga lantai masjid berdiri di atas umpak yang rendah dan terbuat dari semen. Atap masjid ditopang 10 tiang penyangga atap, empat di antaranya berada di tengah ruangan dan enam lainnya sebagai tiang pendukung.

Di bagian atap antara empat tiang penyangga utama, terdapat papan kayu berbentuk persegi. Biasanya, pada bagian ini dapat digunakan sebagai tempat untuk beriktikaf atau mengumandangkan azan.

Jendela ruangan masjid berjumlah enam buah, tiga jendela di sisi utara dan tiga lagu di sisi selatan.

Pada bagian dalam terdapat mihrabbpersegi panjang dan mimbar di sisi barat. Di kanan dan kiri mihrab dan mimbar terdapat ruangan penyimpanan.

Di sudut tenggara ruangan, untuk tempat salat wanita.

Lantai masjid terbuat dari kayu yang biasanya beralaskan karpet hijau.

Di bagian luar bangunan sisi selatan, tergantung tungtung dan bedug yang biasa ditabuh saat azan hendak dikumandangkan. Di samping kanan masjid terdapat sumber mata air yang tidak pernah habis.

Bahan material bangunan masjid mayoritas terbuat dari kayu dengan ukuran rata-rata 13 x 10 meter. Di atap masjid terdapat kubah dari kayu, tiang masjid masih terlihat kokoh, termasuk pondasi bawah masjid yang juga terbuat dari kayu.

Bagian depan masjid tempat imam masih terlihat utuh, termasuk benda kuno seperti kentongan kayu, masih tergantung di luar masjid dan terlihat masih bagus. Uniknya, sambungan tiang kayu dan lainnnya, tidak menggunakan paku.

ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Masjid kayu ini belum pernah direhab berat. Kalaupun ada perluasan bangunan dengan konstruksi tembok, bertujuan menampung jamaah yang melaksanakan salat Jumat Idul Fitri, dan Idul Adha.

Konon masjid yang sering dikunjungi ulama-ulama kharismatik di Banten dan luar Banten ini dibangun oleh almarhum Syekh Ageng Karan, sebagai sarana peribadahan umat Islam kala itu.

Syekh Karan disebut sebagai ulama besar pada masa Kesultanan Banten. Selain masjid, waliyullah ini juga mendirikan pondok pesantren (Ponpes) di wilayah tersebut.

Masjid ini juga kerap didatangi penziarah. Selain ke makam Syekh Ageng Karan juga ke makam Syekh Rako, yang lokasinya hanya sekitar 500 meter dari masjid.

Saat masa penjajahan Belanda, masjid ini difungsikan sebagai tempat bersembunyi para warga dari serangan Belanda. Masjid ini juga kerap digunakan warga sebagai tempat berkumpul untuk menyusun strategi dalam melawan penjajahan Belanda.

Salah satu bukti sejarah, yang menguatkan, beberapa bagian dinding pada masjid ini masih memiliki lubang. Diperkirakan, lubang pada beberapa bagian dinding merupakan bekas peluru dari senjata Belanda.

Sayangnya bangunan kuno ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya loh. Hmmm, semoga bisa terus terawat ya. (Hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.