Travel

Marak, Membuka Usaha di Tepi KM 40-42 Tol Tangerang-Merak

BISNISBANTEN.COM – Jika melintas tol Tangerang-Merak, tentu tidak asing dengan fenomena para wanita yang menjajakan dagangan di pinggiran jalan.

Perhatikan saja, biasanya mereka ada di KM 40-42 di Tol Tangerang-Merak arah Jakarta dan arah Merak di KM 46.

Mereka hanya duduk-duduk di samping barang dagangan yang tak seberapa, itu pun hanya terbatas pada kopi dan minuman lain juga mi rebus dalam kemasan.

Advertisement

Keberadaan deretan wanita penjual kopi ini menjadi fenomena tersendiri. Mereka tidak melintasi jalan tol yang dilalui kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi, kebalikannya biasanya pengendaralah yang menepi.

Lebih dari enam bulan lamanya mereka di sana. Sesekali bergeser mendekat ke rest area KM 44 karena takut dirazia petugas

Biasanya, mereka berjualan kopi hingga pukul 21.00 WIB. Saat malam hari beberapa dari para pedagang wanita ini mengaku, tidak jarang pula menjumpai sopir berprilaku genit.

Keuntungan mereka tidak seberapa. Dalam sehari dapat meraup keuntungan Rp50 ribu hingga Rp100ribu dari berjualan kopi.

Advertisement

Entah panas atau hujan, berbekal payung seadanya, mereka berjuang mendapatkan rupiah dengan termos berisi air panas di tangan. Target utama mereka biasanya sopir truk yang melintas.

Menjelang malam, jumlah penjual kopi di tepi tol semakin menjamur. Truk-truk besar terparkir di tepi jalan.

Sekadar tahu, Jalan Tol Tangerang–Merak adalah jalan tol yang menghubungkan Kota Tangerang hingga Pelabuhan Merak.

Jalan Tol Tangerang–Merak dibangun secara bertahap melalui skema Build, Operate and Transfer (BOT) pada 1992 sampai 1996.

Jalan tol ini mempunyai gerbang tol Cikupa, Balaraja Timur, Balaraja Barat, Cikande, Ciujung, Serang Timur, Serang Barat, Cilegon Timur, Cilegon Barat, dan Merak.

Jalan tol ini juga merupakan kelanjutan dari Jalan Tol Jakarta–Tangerang dan menjadi bagian dari Jalan Tol Jakarta-Merak.

Kilometer 0 berada di Tomang, Jakarta, dan berakhir di Kilometer 98 di Merak. Panjang jalan tol ini adalah 72,45 kilometer.

Itulah sekelumit kehidupan dan perjuangan mendapatkan Rupiah di tepi jalan. Jadi, tak perlu bertanya-tanya lagi bukan, apakah mereka layak diperjuangkan atau ditertibkan? (Hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.