Disporapar Wacanakan Pembangunan Museum Literasi Jejak dan Keilmuan Syekh Nawawi

BISNISBANTEN.COM – Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang saat ini tengah melakukan pengembangan tempat ziarah Syekh Nawawi al-Bantani di Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang yang sudah dicanangkan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah sebagai Kawasan Wisata Religi. Salah satunya, mewacanakan pembangunan Museum Literasi Jejak dan Keilmuan ulama yang pernah mengajar di Masjidil Haram, Mekkah tersebut.
Demikian disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) pada Disporapar Kabupaten Serang Amar Ma’ruf saat ditemui bisnisbanten.com di ruang kerjanya, Kantor Disporapar Kabupaten Serang, Jalan Moh Yusuf Martadilaga, Cipare, Kecamatan/Kota Serang, Rabu (22/2/2023).
Diketahui, Syekh Nawawi Al-Bantani dikenal sebagai seorang ulama dari tanah Banten dengan kitab-kitab hasil karyanya yang memberikan andil sangat besar pada bidang pendidikan dan khazanah keilmuan kaum muslimin dunia, khususnya masyarakat tradisional atau pesantren di tanah Jawa.
Ma’ruf mengatakan, pihaknya saat ini sedang mendorong dua desa di Kecamatan Tanara yang dicanangkan Bupati Serang sebagai Kawasan Wisata Religi, yakni Desa Pedaleman dan Desa Tanara. Diakui Ma’ruf, saat ini Wisata Religi Syekh Nawawi Al-Banteni di Kecamatan Tanara masih tahap pengembangan dan penggalian potensi. Ma’ruf menilai, kegiatan Haul Syekh Nawawi yang rutin digelar setiap tahun menjadi salah satu potensi yang bisa dikemas menjadi even besar keagamaan di Kecamatan Tanara.
Ma’ruf menargetkan, pada 2024 sudah mulai ada penataan Kawasan Wisata Religi di Tanara. Alasan Tanara dijadikan Kawasan Wisata Religi, dijelaskan Ma’ruf, karena terdapat bangunan dan sejarah ulama besar di Banten yang mensyiarkan Agama Islam, mulai dari Patilasan Syekh Nawawi dan Makom Pangeran Sunyararas.
“Patilasan Syekh Nawawi dan Makom Pangeran Sunyararas ramai dikunjungi peziarah setiap hari, terutama Jumat, Sabtu, dan Minggu. Peziarah datang darimana-mana, kebanyakan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ungkap Ma’ruf.
“Itu (kunjungan peziarah-red) berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Ketika ada kunjungan, maka pendapatan masyarakat yang menjadi pelaku ekonomi di lokasi destinasi wisata meningkat,” imbuh mantan Kabid Sekolah Dasar (SD) pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang ini.
Ma’ruf mencontohkan, peningkatan ekonomi bisa dirasakan para pelaku ekonomi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjual souvenir hingga kuliner khas daerah di kawasan wisata ziarah. Kata Ma’ruf, saat ini juga sudah berdiri gerai-gerai souvenir dan kuliner di Yayasan Syekh Nawawi Al-Bantani.
“Untuk pengembangan Kawasan Wisata Religi di Tanara, kami mewacanakan pembangunan Museum Literasi Jejak dan Kelimuan Syekh Nawawi yang diketahui memiliki 115 kitab karya sendiri, selain menggelar kajian kitabnya,” ungkap Ma’ruf.
Menurut Ma’ruf, warga Banten harus memiliki tanggung jawab bagaimana kitab karya Syekh Nawawi yang merupakan seorang Aulia bisa dikenalkan kepada generasi muda. Apalagi, berdasarkan informasi yang didapat Ma’ruf, Kitab Syekh Nawawi sudah dipelajari di lima universitas di lima negara, di antaranya Institut Studi Islam di Universitas UP yang merupakan pusat studi Islam terkemuka di Filipina dan sekira 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang juga mempelajari kitab karya Syekh Nawawi sebagai kurikulum belajarnya.
Kitab karya Syekh Nawawi juga, lanjut Ma’ruf, menjadi kurikulum di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan Malaysia, begitu pula di negara tetangga Thailand dan Mesir.
“Kitab-kitab beliau (menyebut Syekh Nawawi Al-Banten-red) juga menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia. Makanya, sekarang kami dituntut menggali informasi bagaimana cara menetapkan kawasan wisata religi hingga semua potensi tergali,” ujar Ma’ruf.
Intinya, kata Ma’ruf, pihaknya saat ini sedang menyusun konsep filosofis perenungan budaya, implementasi pembelajaran, pembelajaran intelektual, program pengembangan destinasi wisata, industri pariwisata, pemasaran pariwisata, dan kelembagaan pariwisata di Kabupaten Serang. Salah satunya, kata Ma’ruf, pengembangan wisata religi di Tanara, dimana para wisatawan ke depan akan diajak melakukan perjalanan terencana untuk mengenali dan mendalami nilai-nilai dan warisan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kontek kekinian di wilayah Kecamatan Tanara dan sekitarnya, yang diwujudkan dalam pengalaman religius dan spiritual, intelektual, serta pembelajaran.
Ma’ruf berharap, ke depan program Disporapar Kabupaten Serang mampu membangkitkan perekonomian masyarakat di sektor pariwisata, baik dari sisi ekraf maupun wisatanya dengan konsep Pentahelix melibatkan berbagai stakeholder. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskoumperindag) untuk melakukan pembinaan kepada pelaku ekraf di kawasan wisata.
“Wacana ini sudah terkoneksi dan terorganisasi dengan lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Jadi, masing-masing OPD, siapa dan berbuat apanya sudah jelas. Kami berharap tahun 2024 wacana ini (pengembangan Wisata Religi Syekh Nawawi-red) terealisasi,” harap Ma’ruf. (Nizar)









