Unik dan Antik, Gerabah Bumi Jaya Sudah Ada Sejak Abad 16 Masih Eksis Hingga Kini!

BISNISBANTEN.COM – Banten memiliki budaya, alam, wisata hingga seni yang beragam.
Hal tersebut tentunya harus tetap dilestarikan. Seperti halnya dengan kerajinan dari Gerabah Bumi Jaya Abad 16 Estetika Jaya ini. Lokasinya ada di Desa Bumi Jaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang.
Suhaimi, Selaku pemilik dari Gerabah Bumi Jaya Abad 16 Estetika Jaya ini merupakan mengatakan, dirinya merupakan pemilik generasi yang ke-4.
Ia mengatakan, gerabahnya sudah ada sejak zaman dahulu dan kini masih tetap eksis.
“Gerabah Bumi Jaya ini sudah ada sejak dahulu kala, bahkan dari Kesultanan Banten Juga sudah ada gerabah ini. Untuk pengrajinnya pun turun-temurun termasuk saya yang merupakan generasi ke-4 dari nenek kakek untuk melanjutkan usaha dan kesenian ini. Selain menjadi sebuah ladang bisnis kebetulan memang saya juga menyukai seni dan alhamdulillah Gerabah Bumi Jaya tetap eksis hingga kini,” ujar Suhaimi, Selasa (14/2/2023).

Suhaimi mengatakan, untuk nama dari Gerabah Bumi Jaya Abad 16 tersebut diambil dari sejarahnya yang dimaksudkan agar mudah diingat tentang sejarah munculnya gerabah tersebut, sedangkan estetika diambil dari kesenian, terlebih dirinya juga menyukai dalam bidang seni dan kerajinan.
Adapun kerajinan yang diproduksi dan dijual ini ada berbagai macam gerabah, kemudian cobek, cowet, kuali kowi, gentong, vas bunga, pot bunga hingga souvenir. Dan harganya pun bervariasi dari ukuran terkecil hingga besar.

“Untuk kuali kowi dari ukuran terkecil sampai besar mulai dari Rp2.000-Rp35.000an saja, kemudian ada harga sampai Rp5 jutaan juga ada itu bentuknya gentong, bisa dipakai untuk air minum dan hiasan baik itu untuk interior dan eksterior menampilkan tradisi Banten,” ungkapnya.
Saat ini, Suhaimi memiliki tujuh karyawan dan 200 pengrajin untuk pembuatan kerajinan gerabah ini, dalam sehari bisa memproduksi ratusan kerajinan.
“Jadi tergantung besar dan kecil produknya ya, kalau yang terkecil itu sehari mencapai 100-150 pcs untuk karyawan perempuan, sedangkan kalau karyawan laki-laki itu bisa mencapai 100-300 pcs dalam sehari,” katanya.

Untuk proses pembuatan, Suhaimi mengatakan, masih menggunakan proses tradisional, namun dalam pembakaran kini sudah mengalami kemajuan menggunakan teknologi.
“Dulu pembakaran menggunakan manual, alhamdulillah sekarang ini dengan bantuan dari Bank Indonesia Banten ini kita sudah memiliki oven yang memakai gas jadi mempermudah. Kami tidak perlu khawatir saat musim hujan dan repot untuk cari kayu bakar,” paparnya.
Adapun dalam penjualan, Suhaimi mampu menjual jenis gerabah sebanyak 3.000-10.000 pcs dalam kurun waktu sebulan atau 2/3 bulan. Produknya pun laris di pasaran baik tingkat nasional hingga mancanegara.
Suhaimi berharap, usahanya dapat berkembang dan maju lebih pesat. Ia mengajak generasi bangsa untuk mencintai produk lokal dan kesenian ini. (Ismi)









