Insight

Perubahan Iklim, Kekeringan, dan Masa Depan Air Kita

Oleh: Prof. Dr. Delly Maulana, MPA (Guru Besar Kebijakan Lingkungan Universitas Serang Raya)

BISNISBANTEN.COM — Perubahan iklim merupakan fenomena kompleks yang dampaknya semakin nyata, baik secara global maupun regional. Fenomena ini tidak hanya ditandai oleh peningkatan suhu bumi, tetapi juga oleh semakin sering dan intensnya berbagai kejadian cuaca ekstrem. Pemanasan global, yang dipicu oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan aktivitas industri, menjadi salah satu wajah utama perubahan iklim. Di sisi lain, perubahan pola iklim juga memicu berbagai peristiwa cuaca ekstrem, seperti banjir, kekeringan, gelombang panas, dan kebakaran hutan.

Dalam konteks kekeringan, perubahan iklim turut memengaruhi frekuensi, intensitas, dan durasi kejadian kekeringan. Dampaknya tidak sederhana, berkurangnya curah hujan dan memanjangnya periode kering dapat mengancam ketersediaan air bagi masyarakat, pertanian, maupun berbagai sektor ekonomi. Kondisi ini menjadi semakin serius ketika fenomena El Nino turut memperkuat kondisi kering di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa El Nino 2026 telah aktif dan berada pada kategori kuat, dengan potensi berkembang menjadi sangat kuat. Pada akhir Juli 2026, indeks  Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) di wilayah Nino 3.4 mencapai +2,45. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan menekan ketersediaan air.

Kondisi ini membutuhkan upaya bersama pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat adaptasi serta mengkampanyekan penggunaan dan pengelolaan air secara berkelanjutan. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, terutama di kawasan perkotaan adalah meningkatkan resapan air hujan melalui pembuatan lubang biopori di sekitar rumah. Langkah sederhana ini dapat membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah sekaligus mengurangi limpasan air hujan.

Pada dasarnya, kekurangan air terjadi ketika kebutuhan air melebihi ketersediaan pasokan atau ketika kualitas air yang tersedia tidak lagi layak digunakan. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kekeringan, peningkatan konsumsi air, pencemaran, hingga pengelolaan sumber daya air yang kurang baik. Karena itu, menghadapi ancaman kekeringan tidak cukup hanya dengan mencari sumber air baru, tetapi juga dengan menjaga agar air yang turun sebagai hujan dapat disimpan dan dimanfaatkan secara lebih bijak.

Memanen Air Hujan, Mengisi Kembali Air Tanah

Salah satu cara sederhana untuk menghadapi ancaman kelangkaan air adalah memastikan lebih banyak air hujan meresap ke dalam tanah. Di sinilah lubang resapan biopori dapat menjadi salah satu solusi yang bisa dilakukan dari lingkungan rumah. Lubang biopori membantu meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah sehingga sebagian air tidak langsung mengalir ke saluran drainase, tetapi memiliki kesempatan untuk meresap dan menjadi bagian dari cadangan air tanah.

Manfaatnya tidak berhenti pada peningkatan resapan. Air yang lebih banyak tersimpan di dalam tanah dapat membantu menjaga kelembapan tanah dan mendukung ketersediaan air pada periode kering. Biopori juga dapat menjadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan karena dapat membantu mengurangi limpasan air hujan sekaligus mendukung aktivitas organisme tanah.

Tentu, lubang biopori bukanlah solusi tunggal untuk mengatasi kelangkaan air. Namun, ketika dilakukan secara luas dan terintegrasi dengan upaya konservasi air lainnya seperti pemanenan air hujan, penghijauan, perlindungan daerah resapan, dan penggunaan air secara bijak, langkah sederhana ini dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi kekeringan. Pada akhirnya, menghadapi krisis air bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak air, tetapi juga bagaimana menjaga air yang sudah tersedia agar tidak hilang  begitu saja.

Mendorong Gerakan Biopori: Masyarakat Bergerak, Pemerintah Mendukung

Lalu, apakah membuat lubang biopori cukup dilakukan oleh segelintir masyarakat? Tentu tidak. Agar manfaatnya terasa lebih luas, diperlukan kampanye yang mendorong masyarakat untuk menjadikan biopori sebagai bagian dari kebiasaan menjaga lingkungan. Kampanye dapat dimulai dari sekolah, lingkungan permukiman, hingga kawasan perkotaan. Masyarakat tidak hanya perlu diberi tahu cara membuatnya, tetapi juga perlu memahami mengapa air hujan harus diberi ruang untuk kembali meresap ke dalam tanah.

Gerakan ini juga membutuhkan dukungan pemerintah. Pemerintah dapat mengambil peran melalui kebijakan, edukasi, penyediaan fasilitas, hingga pemberian insentif bagi masyarakat atau komunitas yang aktif melakukan konservasi air dan lingkungan. Pada saat yang sama, aturan dan sanksi yang tegas tetap diperlukan terhadap aktivitas yang merusak daerah resapan atau memperburuk kondisi lingkungan. Dengan demikian, upaya konservasi air tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi menjadi gerakan bersama.

Kampanye biopori juga dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim. Ketika ancaman kekeringan semakin nyata dan fenomena seperti El Nino dapat memperpanjang periode kering, kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air menjadi semakin penting. Air yang kita biarkan meresap hari ini dapat menjadi bagian dari cadangan yang membantu menjaga lingkungan tetap memiliki kelembapan ketika musim kering datang.

Karena itu, gerakan membuat biopori seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sekadar memenuhi target jumlah lubang yang dibuat. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa setiap tetes air hujan merupakan sumber daya yang berharga. Pemerintah menyediakan kebijakan dan dukungan, masyarakat mengubah perilaku, sementara sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas ikut memperluas gerakan. Dari langkah kecil di halaman rumah, kita dapat mulai membangun ketahanan air dari tingkat yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

bisnisbanten.com