Menko Airlangga: Investasi Capai Rp 1.010 Triliun, Fokus Dorong Vokasi dan Talenta Digital

BISNISBANTEN.COM – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, bahwa investasi tetap menjadi pendorong utama dalam menciptakan lapangan kerja formal di Indonesia. Berdasarkan data terbaru, realisasi investasi pada semester ini telah mencapai angka yang signifikan, yakni sebesar Rp 1.010,6 triliun.
“Investasi adalah motor utama penciptaan lapangan kerja secara formal. Jadi kalau kita lihat semester ini investasi telah mencapai 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen setara dengan 49,5 persen ,” ujar Airlangga, dikutip pada Kamis (03/09/26).
Menko Airlangga juga menyoroti capaian investasi Provinsi Banten yang berpotensi terus merangkak naik mengejar posisi daerah lain.
“Tahun kemarin investasi Banten mencapai Rp130,2 triliun, berada di posisi empat setelah Jawa Barat, DKI, dan Jawa Timur yang mencapai Rp145,1 triliun. Jadi, sebetulnya Jawa Timur bisa dikejar oleh Banten,” ujar Airlangga.
Ia menjelaskan bahwa realisasi investasi di Banten didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang melakukan ekspansi sebesar Rp73,2 triliun, serta Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 5,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp56 triliun. Secara nasional, penyerapan tenaga kerja di semester ini mencapai sekitar 1,4 juta orang, sementara Banten menyerap 214.216 tenaga kerja pada tahun lalu.Meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) melandai ke angka 4,65 persen, tantangan struktural masih membayang. Sebanyak 6,7 persen angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaan didominasi oleh generasi muda setara dengan 4,8 juta orang dengan tingkat pengangguran kelompok usia ini berada di kisaran 7 persen hingga 12 persen. Persaingan kerja pun kian ketat, ditandai rasio pelamar per lowongan kerja yang melonjak tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menko Airlangga menjelaskan bahwa pertumbuhan investasi ini berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja. Secara nasional, pada semester ini tercatat telah tercipta 1,4 juta lapangan kerja baru. Di sisi lain, pemerintah juga fokus menekan tingkat pengangguran terbuka yang kini berada di angka 4,65 persen.
Untuk memastikan angkatan kerja mampu terserap maksimal, pemerintah meluncurkan Program Vokasi Nasional Batch Keempat. Program ini ditargetkan mampu melatih 220.000 orang per tahun guna memperkecil celah keahlian (skill gap).
“Program vokasi ini adalah penting untuk retraining dan reskilling karena memang supply dan demand-nya berbeda karena adanya revolusi industri mulai dari industri 4.0 kemudian dengan digitalisasi,” kata Airlangga.
Menko Airlangga juga menyoroti pergeseran kebutuhan industri masa depan, terutama di sektor digital dan ekonomi hijau. Ia memproyeksikan kebutuhan talenta digital di Indonesia mencapai 458.000 hingga 600.000 orang per tahun hingga tahun 2030.
“Sektor lain yang juga dibutuhkan yaitu sektor digital. Di mana talenta digital ditargetkan dibutuhkan 458.000 per tahun dan diproyeksikan di tahun 2030 mencapai 2,7 juta,” ungkapnya.
Selain digital, transisi ekonomi hijau membuka peluang profesi baru seperti teknisi panel surya dan turbin. Hal ini sejalan dengan dorongan Presiden untuk program 100 GW energi terbarukan. Airlangga menekankan bahwa jika Indonesia tidak segera melakukan pelatihan ulang, maka angkatan kerja akan semakin tertinggal oleh pesatnya perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence.
Guna mempercepat pencapaian target vokasi, pemerintah mengajak kerja sama aktif dari dunia usaha. Airlangga mengingatkan adanya fasilitas perpajakan bagi perusahaan yang bersedia terlibat dalam pendidikan vokasi.
“Kalangan industri sendiri kita sudah memberikan fasilitas perpajakan yaitu apabila kalangan industri mendorong pendidikan atau vokasi maka mereka dapat tax deduction sebesar 200 persen,” tegas Airlangga.
Menko Airlangga optimis bahwa melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan industri, daya saing tenaga kerja Indonesia akan meningkat di kancah global. Ia juga mendorong generasi muda untuk terus meningkatkan soft skill dan etika kerja guna menghadapi tantangan revolusi industri lanjutan.
“Melalui program pelatihan vokasi, kompetensi meningkat, ekonomi berjaya,” pungkasnya dalam sebuah pantun penutup. (Siska)









