Menaker Prof. Yassierli: Pelatihan Vokasi dan Magang Jadi ‘Game Changer’ Atasi Pengangguran di Indonesia

BISNISBANTEN.COM – Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat ekosistem pelatihan vokasi sebagai solusi utama menekan angka pengangguran.
Dalam acara kick-off Pelatihan Vokasi Batch 4 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang, Menaker menyebut program ini sebagai strategi krusial bagi masa depan tenaga kerja Indonesia.
“Bagaimana negara hadir untuk memastikan generasi muda para pencari kerja memiliki skill siap kerja yang memadai. Pelatihan vokasi inilah, kalau saya mengambil istilah dari Pak Menko (Airlangga Hartarto), sebagai game changer selain magang,” ujar Prof. Yassierli di hadapan ribuan peserta pelatihan, dikutip pada Selasa (02/09/26).
Menaker mengungkapkan ambisinya untuk meningkatkan skala pelatihan secara masif. Berkat dukungan Anggaran Belanja Tambahan (ABT), kapasitas pelatihan vokasi dan magang mengalami lonjakan signifikan. Pemerintah mengalokasikan Rp4,2 triliun untuk program magang dengan kapasitas 150.000 orang, serta Rp1,7 triliun untuk tambahan pelatihan vokasi bagi 270.000 peserta.
“Sejak awal jadi menteri, saya punya visi minimal 1 juta orang harus kita latih 1 tahun. Semoga nanti dengan dukungan dari Pak Menko, ini bisa kita wujudkan sebagai bukti bagaimana negara ingin hadir memastikan adik-adik memiliki kompetensi yang memadai,” tegasnya.
Untuk mendukung visi tersebut, pemerintah berencana menambah jumlah balai pelatihan. Saat ini, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengelola sekitar 40 balai, dan direncanakan akan bertambah 15 hingga 19 balai baru tahun depan, sehingga totalnya mencapai sekitar 60 balai di seluruh Indonesia.
Prof. Yassierli menyoroti adanya tantangan besar berupa ketidaksesuaian (mismatch) antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan industri. Data menunjukkan sekitar 54 persen perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan kandidat dengan keterampilan yang tepat.
“Ada sebuah paradoks. Generasi muda di satu sisi mengeluhkan kesulitan memperoleh pekerjaan, tapi di lain sisi ketika kita coba cross check ke industri, industri juga mengatakan kami kesulitan untuk mendapatkan orang yang memiliki skill yang kami inginkan,” jelas Menaker.
Menjawab tantangan tersebut, Kemnaker kini mengubah pendekatan dari supply driven menjadi demand driven. Artinya, pelatihan didesain berdasarkan identifikasi kebutuhan langsung dari industri.
“Kami menuju kepada demand driver. Jadi mulai dari industri yang mengidentifikasi kebutuhan, kemudian balai-balai Kemnaker menyiapkan suplainya, dilatih basic skill siap kerja, lanjut pelatihannya di industri, kemudian penempatannya sesuai dengan jejaring industri tersebut,” tambahnya.
Pada Batch 4 ini, sebanyak 12.100 peserta terpilih dari 30.000 pendaftar untuk mengikuti pelatihan di berbagai bidang prioritas seperti welding, green skill, smart operation, AI digital skill, hingga hospitality.
Seluruh peserta mendapatkan fasilitas secara gratis, termasuk uang saku sebesar Rp50.000 per hari dan sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) setelah lulus.
“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Pastikan Anda lulus dengan baik sehingga Anda mendapatkan sertifikat kompetensi. Sertifikat inilah yang nanti kita harapkan menjadi daya saing, menjadi sesuatu yang adik-adik bisa tunjukkan ke industri: ‘Ini loh bisanya saya’,” pesan Prof. Yassierli kepada para peserta.
Menaker berharap para lulusan tidak hanya mampu bersaing di level nasional, tetapi juga merambah pasar kerja global. “Jadilah generasi ke depan yang benar-benar kompeten dan memiliki daya saing. Siap bekerja tidak hanya di skala nasional tapi juga di skala global internasional,” pungkasnya. (Siska)









