Lewat Shafara x Digiwara 2026, BI Dorong Akselerasi Ekonomi Syariah dan Digital untuk Banten Maju

BISNISBANTEN.COM — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah serta ekonomi digital melalui akselerasi dan sinergi lintas sektor demi mewujudkan Banten yang maju dan sejahtera.
Dalam paparannya di agenda Shafara dan Digiwara Festival 2026, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Banten Ameriza M Moesa menyampaikan bahwa ekonomi dan keuangan syariah kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah, termasuk di Provinsi Banten.
Ia menyebutkan, terdapat lima momentum strategis yang mendorong penguatan ekonomi syariah di Indonesia. Mulai dari besarnya potensi pasar halal, meningkatnya konsumsi produk halal, pertumbuhan industri halal global, keuangan syariah yang semakin inklusif dan digital, hingga semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai pusat halal dunia melalui dukungan kebijakan dan kolaborasi ekosistem halal nasional.
“Ekonomi syariah ini tumbuh rata-rata setiap tahun 11 persen. Aset keuangan syariah nasional diproyeksikan lebih dari Rp2.800 triliun dan penggunanya mencapai 38 juta,” ujarnya.
Momentum tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi Banten untuk mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang mandiri, modern, dan berdaya saing global.
Dalam kesempatan itu juga dipaparkan bahwa ekonomi Banten tetap tumbuh resiliens. Pada triwulan I-2026, ekonomi Banten tumbuh sebesar 5,64 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,61 persen.
“Kami memproyeksikan tahun ini Banten masih tumbuh di atas lima persen, antara 5,1 sampai 5,9 persen,” katanya.
Banten disebut memiliki posisi strategis sebagai gerbang ekonomi dan industri nasional dengan dukungan kawasan industri di Cilegon, Serang, dan Tangerang, akses pelabuhan internasional Merak, kawasan wisata alam dan religi, hingga keunggulan geografis yang dekat dengan DKI Jakarta.
Selain itu, BI Banten juga menyoroti potensi besar ekosistem syariah di Provinsi Banten, mulai dari basis muslim dan pesantren yang kuat, UMKM halal, pariwisata halal, hingga meningkatnya digitalisasi pembayaran.
Bahkan, Tangerang Selatan disebut sebagai daerah paling digital di Jawa dan Bali pada tahun 2025. “Tangsel tercatat sebagai daerah yang paling digital di Jawa dan Bali,” ungkapnya.
Bank Indonesia juga mengapresiasi terbentuknya Zona KHAS atau Kuliner Halal, Aman, dan Sehat di lingkungan Masjid Raya Bintaro Jaya. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Masjid Raya Bintaro Jaya, Bank Indonesia, Bank Syariah Indonesia, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Zona KHAS dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem halal berbasis masjid sekaligus mendorong peran masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Di sektor keuangan syariah, BI Banten mencatat pertumbuhan pengguna perbankan syariah rata-rata mencapai 12,5 persen. Sementara transaksi QRIS syariah tumbuh hingga 46,2 persen dengan nilai transaksi mencapai Rp114 triliun.
Tak hanya itu, pembiayaan UMKM halal juga tumbuh 15,9 persen menjadi Rp81 triliun, sedangkan digital Islamic finance tumbuh rata-rata 26,5 persen.
“Ekosistem keuangan syariah digital kini mencakup perbankan syariah, fintech syariah, e-commerce halal, asuransi syariah, hingga instrumen sosial keuangan seperti ziswaf,” jelasnya.
Sebagai bentuk penguatan ekonomi umat, BI Banten bersama berbagai stakeholder juga meluncurkan program wakaf produktif bertajuk “Banten Berkah dan Berdaya”.
Melalui program tersebut, BI bersama para pemangku kepentingan berkomitmen mengoptimalkan wakaf melalui pemberdayaan seribu UMKM di Kota Tangerang Selatan.
“Mudah-mudahan program ini bisa menjadi role model dan bisa direplikasi ke daerah lainnya,” tutupnya. (susi)









