DPP REI Dorong Pengelolaan Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Kawasan Perumahan

BISNISBANTEN.COM — Pengelolaan sampah dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi baru sekaligus mendukung terciptanya kawasan perumahan yang nyaman, sehat, dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Sekjen DPP REI Raymond A. Arfandy dalam acara diskusi pengelolaan lingkungan dan perumahan yang digelar REI Banten bersama Waste4Change di Swissbell Hotel Serpong, Kota Tangerang Selatan, Kamis (21/5).
Dalam sambutannya, Raymond menilai sampah ke depan bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi dapat menjadi “bisnis emas” apabila dikelola dengan baik dan terintegrasi dengan ekosistem kawasan hunian.
“Kalau dipakai di sini, sampah kelihatannya akan menjadi sebuah bisnis emas yang akan datang. Di beberapa daerah saya lihat sudah menyiapkan konsep pembangkit listrik tenaga sampah,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah di Makassar yang membutuhkan kapasitas hingga 1.000 ton sampah per hari untuk mendukung operasional pembangkit listrik.
Menurut Raymond, masyarakat saat ini semakin kritis dalam memilih hunian. Faktor yang menjadi pertimbangan bukan hanya harga rumah atau lokasi strategis, tetapi juga kualitas lingkungan kawasan.
“Masyarakat sekarang makin kritis. Bukan hanya karena rumahnya murah atau lokasinya bagus, tetapi kawasannya harus nyaman, indah, dan sehat,” katanya.
Karena itu, DPR mendukung berbagai inovasi pengelolaan lingkungan di kawasan perumahan, termasuk pengolahan sampah yang mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Raymond juga mendorong agar konsep pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses daur ulang semata, tetapi turut melibatkan penghuni kawasan agar memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.
Ia meminta Waste4Change memperluas ekosistem pengelolaan sampah dengan melibatkan masyarakat dalam pengumpulan hingga pemasaran hasil olahan sampah bernilai ekonomis.
“Libatkan user-nya supaya mereka bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Kalau mereka bisa membantu menjual hasil olahan atau mengumpulkan sampah yang masih punya nilai ekonomis, kenapa tidak?” ucapnya.
Menurutnya, kawasan-kawasan besar seperti BSD City, Alam Sutera, hingga Ciputra Group memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem ekonomi berbasis pengelolaan sampah karena jumlah penghuni dan luas kawasan yang sangat besar.
Selain itu, Raymond juga menyoroti pentingnya dukungan berkelanjutan bagi masyarakat setelah memiliki rumah melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ia berharap perbankan, khususnya Bank Tabungan Negara atau BTN, dapat menghadirkan konsep pendampingan atau “after sales service” bagi nasabah KPR.
“Jangan dilepas begitu saja setelah tanda tangan KPR. Mereka punya kewajiban mencicil sampai 10–15 tahun. Harus ada dukungan supaya mereka nyaman dan mampu membayar cicilan,” katanya.
Ia berharap ekosistem perumahan di Indonesia dapat berkembang tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan berkelanjutan. (susi)









