Info TravelTravel

Inovasi ASDP Wujudkan Waterfront Kelas Dunia, Labuan Bajo Jadi Percontohan

BISNISBANTEN.COM – Pandemi bukan kendala bagi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk melakukan inovasi dan peningkatan layanan berkelanjutan bagi pengguna jasa penyeberangan di seluruh Indonesia. Sejak awal pandemi Covid-19 pun, layanan penyeberangan tetap hadir untuk sektor logistik demi menjaga pasokan di daerah tetap stabil.

Hadir sejak hampir setengah abad, ASDP menyatukan nusantara melalui layanan kapal ferry antarpulau, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Sampai saat ini tercatat 35 pelabuhan di bawah 29 kantor cabang, melayani transportasi negeri dengan mengoperasikan 204 unit kapal yang menghubungkan 266 lintasan.

ASDP hadir sebagai moda transportasi umum yang diandalkan masyarakat, baik di Kawasan Barat maupun di Timur Indonesia. Bahkan, ASDP telah menjadi tulang punggung transportasi bagi sektor logistik.
Perlahan namun pasti, pencapaian ASDP berhasil melakukan peningkatan taraf peradaban pada industri penyeberangan modern. Mau bukti?

Advertisement

Pada 2019, ASDP melakukan inovasi dengan menerapkan transformasi digitalisasi melalui penerapan cashless dan online ticketing. Keberadaan layanan Terminal Eksekutif Merak dan Bakauheni juga menjadi salah satu bukti nyata peradaban modern pelabuhan penyeberangan di Indonesia.

ASDP juga melakukan transformasi digital dengan menghadirkan layanan pembelian tiket online melalui website Ferizy.com dan juga aplikasi. Digitalisasi ini juga mampu mengubah wajah industri penyeberangan menjadi lebih modern, dengan penguatan pada sisi kualitas layanan dan keselamatan penumpang.

Sebagai implementasi digitalisasi, pembelian tiket Ferry di 4 pelabuhan utama Merak, Bakauheni, Ketapang dan Gilimanuk hanya bisa dilakukan melalui online via website www.ferizy.com atau aplikasi yang terdapat di ponsel.

Saat ini membeli tiket via online semakin mudah, bisa melalui ponsel dan dapat beli tiket mulai H-60 hingga maksimal lima jam sebelum keberangkatan. Layanan ini semakin memudahkan masyarakat, karena tidak perlu antre lagi di pelabuhan. Cukup scan barcode yang didapat saat pembelian online, lalu akan mendapat boarding pass untuk naik kapal.

Advertisement

Apalagi, di masa adaptasi kebiasaan baru, pengguna jasa harus senantiasa menjaga jarak (physical distancing) sehingga dengan membeli tiket secara online, maka akan semakin mengurangi interaksi dengan petugas loket.

Melalui sistem online ini, masyarakat tak butuh jasa calo, yang nota bene justru membuat layanan makin kacau.

Layanan digital ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2017, namun karena baru opsional, animo masyarakat rendah.

ASDP sepertinya akan terus melakukan berbagai langkah inovasi dan peningkatan kualitas layanan bagi pengguna jasa penyeberangan. Sehingga masyarakat Indonesia mampu mengakses layanan transportasi massal yang manusiawi, andal, mudah, cepat, aman dan nyaman.

Layanan penyeberangan dengan kualitas layanan prima menjadi hak setiap masyarakat, termasuk bagi yang berada di pulau terluar sekalipun.

Waterfront City
Di luar itu, ASDP juga berperan aktif mengembangkan sektor pariwisata dengan menjadi pionir yang turut membuka rute penyeberangan daerah wisata baru seperti Raja Empat, Mentawai, Nias, Belitung.

Selanjutnya, sebagai enabler melalui rute penyeberangan reguler yang melayani penumpang dan barang, dan terakhir sebagai active player yang berkontribusi tidak hanya menyediakan akses transportasi, tetapi juga penyedia waterfront property.

Waterfront city merupakan salah satu konsep pengembangan daerah tepian air yang memiliki banyak fungsi.

Dilansir dari jurnal ilmiah International Conference in Architecture and Urban Design di Albania, waterfront city merupakan pembangunan perkotaan yang berdekatan dengan sumber air seperti pantai, danau, sungai dan terdapat unsur alam lainnya seperti matahari, langit, tanaman hidup yang dianggap sebagai sumber daya yang unik dan tak tergantikan. Waterfront city diyakini memiliki daya tarik wisata yang tinggi.

Pengelolaan tata letak bangunan yang selaras dengan kondisi alam sekitar, berpotensi menciptakan kondisi tempat tinggal unik dan berkesan. Diketahui, istilah waterfront city pertama kali pada abad ke-19 pada saat peremajaan kawasan industri di pesisir pantai San Fransisco, Amerika Serikat. Lalu dilanjutkan oleh negara Dubai yang telah berhasil membangun kawasan kota yang menarik di area yang dikelilingi perairan.

Untuk meningkatkan peminat, kawasan hunian yang berada pada waterfront city umumnya dibuat semenarik mungkin.
Pada sektor ini, ASDP mulai membangun properti yang mendukung destinasi pariwisata, yakni Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo yang menjadi salah satu milestone kebanggaan Indonesia. Kawasan ini telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada awal 2020.

Dalam hal ini, kontribusi ASDP tidak hanya mendukung konektivitas wilayah menuju destinasi wisata melalui penyeberangan, tetapi juga membangun infrastruktur kawasan pendukung pariwisata.

Labuan Bajo, NTT merupakan destinasi wisata super premium, sehingga ASDP mengambil peran penting juga sebagai enabler dalam memajukan sektor pariwisata yang diharapkan mendongkrak trafik wisatawan domestik dan mancanegara. Nantinya, menaikkan perekonomian lokal dan pengembangan wisata bahari.

Seperti tertulis pada situs Kementerian PUPR Indonesia, Labuan Bajo atau disebut juga dengan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo merupakan salah satu kawasan yang menggunakan konsep kota di tepi perairan. Labuan Bajo sudah terkenal hingga mancanegara.

Fasilitas yang ada di kawasan ini berkelas internasional. Terdapat hotel dan resort mewah yang memanjakan pengunjung dengan service kelas dunia. Terdapat pula beberapa ruang terbuka untuk masyarakat umum agar bisa menikmati kawasan ini.

Potensi pemandangan alam mengagumkan, yang menunjukkan keindahan matahari terbenam di sore hari, dengan pemandangan laut alami.

Labuan Bajo memiliki semua potensi untuk menjadi waterfront city pertama di Indonesia dengan kualitas dan standar dunia. Hal ini didasarkan pada keindahan panorama alamnya terutama saat matahari tenggelam (sunset) yang menjadi andalan Labuan Bajo.

Jika Bali memiliki Pantai Kuta sebagai spot bagi para wisatawan menyaksikan sunset, Labuan Bajo lebih dari satu spot dengan dimensi lebih panjang. Jadi tak mengherankan jika Labuan Bajo didatangi 600 kapal biasa, dan 40 kapal pesiar mewah (cruise) dari berbagai negara per tahun.

Labuan Bajo dapat memanjakan wisatawan tanpa mengabaikan kehidupan masyarakat lokal. Ruang-ruang terbuka dibuat di setiap sudut destinasi wisata agar dapat diakses publik, termasuk masyarakat lokal, nelayan, dan warga kampung pesisir. Di panggung-panggung terbuka juga masyarakat dan wisatawan dapat berbaur menikmati pertunjukkan seni tradisional atau atraksi seni lainnya.

Selain Labuan Bajo, wilayah lain yang berpotensi untuk pengembangan waterfront adalah Palembang , Batam, Makssar, dan Semarang.

Palembang terkenal dengan sungai Musi-nya yang membentang di sepanjang jalan di kota tersebut. Sungai Musi merupakan jantungnya perekonomian masyarakat di kota ini. Pasar terapung, yang terjadi di atas Sungai Musi, merupakan sebuah jenis pasar yang terkenal di seluruh Indonesia.

Transaksi jual beli yang terjadi di pasar ini menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. Pada beberapa bagian kota ini terdapat pusat perbelanjaan, hotel, rumah makan, dan fasilitas lainnya yang memadati kawasan ini.

Sementara Kota Batam di Provinsi Kepulauan Riau memang dikembangkan dengan konsep waterfront city untuk digunakan sebagai pusat perdagangan terbesar di Indonesia bagian barat. Batam, sebuah pulau yang dikelilingi perairan ini, bertetangga dengan negara lain seperti Singapura dan Malaysia.

Kota ini merupakan salah satu akses keluar masuk perdagangan di tiga negara di ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia dan Singapura. Di kota ini banyak dibangun hotel, bangunan dan fasilitas umum lainnya yang menunjang proses transaksi perdagangan ekspor dan impor.

Untuk Makassar di provinsi Sulawesi Selatan, memiliki perencanaan yang cukup matang dalam menata kotanya. Makassar merupakan salah satu dari delapan kota terbersih di . Pantai Losari yang terletak di kota ini, salah satu kawasan yang menerapkan konsep kota tepi perairan.

Kawasan pantai ini tampak indah, ditambah lagi dengan deretan kapal khas kota ini yakni Perahu Pinisi yang menjadi daya tarik pariwisata di kota tersebut.

Sedangkan Kota Semarang, sebagai salah satu kota yang dilalui jalur pantura (pantai utara) pulau Jawa merupakan denyut nadi perdagangan. Kawasan ini memadukan pemandangan sungai dan pantai di tepian kotanya. Konsep waterfront city pada kota Semarang diperindah dengan arsitektur bersejarah yang kental yang menjadikan kota ini sebagai salah satu destinasi wisata berpotensi.

Seperti diketahui, kondisi perekonomian melibatkan potensi yang dimiliki wilayah. Apabila suatu kawasan memiliki potensi pariwisata, maka kawasan pembangunan waterfront yang cocok adalah pembangunan yang mampu mendukung potensi tersebut seperti pembangunan recreational waterfront.

Dengan adanya sarana rekreasi yang dibangun di kawasan waterfront untuk mendukung potensi wilayah tersebut, diharapkan mampu memberikan pemasukan untuk mendukung perekonomian masyarakat sekitar.

Pada saat melaksanakan pembangunan kawasan waterfront, memperhatikan kearifan lokal setempat adalah semacam keharusan. Selain itu, mengetahui budaya dan adat istiadat masyarakat setempat diperlukan untuk menyelaraskan tujuan dan fungsi waterfront.

Penyelarasan jenis waterfront dengan aktivitas masyarakat sekitar juga merupakan salah satu prinsip yang harus diperhatikan pada saat pembangunan kawasan tersebut.

Dalam memberikan layanan, ASDP mengedepankan faktor keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. ASDP juga memastikan terciptanya operational excellence dan service excellence untuk para pengguna jasa. Upaya perbaikan dan peningkatanan layanan dilakukan secara berkelanjutan (continuous improvement) untuk mengimbangi dinamika bisnis dan perubahan tuntutan pengguna jasa.

Perkembangan kawasan di tepi perairan cukup berkembang dengan pesat di Indonesia. Beberapa kawasan kota berkonsep waterfront city, sudah cukup terkenal dan maju pesat, baik dari segi ekonomi, pariwisata maupun budaya. (Hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.