Ekonomi

BI Banten Dorong Ekosistem Digital Terintegrasi Lewat Casual Talk Digiwara 2026

BISNISBANTEN.COM Bank Indonesia Provinsi Banten terus mendorong penguatan ekosistem digital melalui gelaran Casual Talkshow Digiwara Tap Kalcer: Transaksi Cepat, Terhubung Tanpa Sekat dalam rangkaian hari kedua Shafara x Digiwara 2026 di Bintaro Jaya Xchange, Tangerang Selatan.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai sektor, di antaranya Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Bapenda Kota Tangerang Selatan Adhityawarman, Influencer Traveler Marischka Prudence, serta Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Agus Sumirat.

Dalam paparannya, Adhityawarman menilai ekosistem digital yang terintegrasi dapat menjadi kekuatan baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan sektor usaha di daerah. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, sektor pariwisata, hingga industri berbasis teknologi menjadi hal penting dalam menghadapi perkembangan digital saat ini.

“Ini akan menjadi suatu ekosistem digital yang sangat bagus kalau kita terus mengasah dan bersinergi seperti ini. Kemudian diterapkan juga dalam media-media dinas, pelaku usaha, sektor pariwisata, bisnis keamanan, hingga produk berbasis digital lainnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar transformasi digital tidak hanya berkembang di sektor tertentu, tetapi mampu menjangkau berbagai lini usaha dan pelayanan masyarakat.

Menurutnya, forum seperti Digiwara juga menjadi ruang diskusi bagi pelaku industri untuk bertukar gagasan terkait inovasi bisnis, pemanfaatan teknologi digital, hingga penguatan keamanan digital di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

“Kami berharap sinergi ini terus berjalan dan dapat menciptakan peluang-peluang baru bagi dunia usaha maupun pelayanan publik,” katanya.

Sementara itu, Influencer Traveler Marischka Prudence menilai digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia sudah berkembang sangat pesat dan memudahkan aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Aku lihat sih sangat-sangat praktis. Misalnya sekarang bayar parkir tinggal scan aja. Kita nggak perlu lagi ngitung berapa jam parkir atau harus siapin uang cash,” ujarnya.

Ia membandingkan kemudahan tersebut dengan pengalaman saat berada di Taiwan yang menurutnya masih menggunakan sistem pembayaran parkir manual.

“Waktu di Taiwan, setiap kali bayar parkir harus ke box dulu, masukin jam parkir, bayar cash, terus tiketnya nggak boleh hilang. Sementara di sini semuanya sudah lebih mudah,” katanya.

Marischka juga menilai perkembangan teknologi pembayaran di Indonesia bahkan lebih maju dibanding sejumlah negara lain. Ia mencontohkan masih adanya penggunaan cek kertas di beberapa negara maju.

“Aku sampai bilang, ini tahun berapa masih pakai cek kertas. Jadi sebenarnya digitalisasi di negara kita itu sudah advance,” ucapnya.

Ia menilai masyarakat Indonesia sudah memiliki budaya teknologi yang cukup kuat, terlihat dari kebiasaan menggunakan transfer instan, pembayaran digital, hingga layanan keuangan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Sistem kita sebenarnya luar biasa. Transfer antarbank juga cepat, pembayaran gampang, semuanya sudah terintegrasi,” katanya.

Meski demikian, ia berharap kerja sama digital Indonesia dengan negara-negara lain dapat terus diperluas agar sistem pembayaran nasional semakin terkoneksi secara global.

“Jadi sebenarnya ada banyak hal yang harus kita banggakan. Tinggal bagaimana kerja samanya diperluas dengan negara-negara lain,” tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Agus Sumirat menegaskan bahwa transformasi digital menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem pembayaran nasional yang cepat, aman, dan efisien.

Melalui Shafara x Digiwara 2026, Bank Indonesia Banten berharap literasi masyarakat terhadap sistem pembayaran digital dan ekonomi syariah terus meningkat serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Provinsi Banten.

bisnisbanten.com