KeuanganUMKM

Begini Cara BI, Pemkot Cilegon dan BRI Tingkatkan Kualitas Pedagang Tempe

BISNISBANTEN.COM — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten melakukan sosialisasi QRIS dan Peningkatan Kapabilitas pelaku usaha tempe di Kota Cilegon. Kegiatan ini merupakan sinergi BI Banten, Pemkot Cilegon, dan BRI Cilegon. Kegiatan ini dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja, Deputi Sistem Pembayaran & Pengelolaan Rupiah Erry P Suryanto, Walikota Cilegon Helldy Agustian, Pemimpin BRI Cabang Cilegon Sigit Yudanto, Camat Cibeber, dan lainnya. Sosialisasi yang diikuti lebih 100 pedagang tempe tersebut berlangsung di Cilegon Creative Center, Selasa (5/10).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja, pelaku usaha tempe di Cibeber Kota Cilegon memiliki potensi yang cukup besar dan ini bisa dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi di kota baja ini. Untuk itu, para pelaku usaha tahu tempe ini bisa terus kuat, tumbuh, dan memproduksi tempe untuk memenuhi pasar di Banten dan nasional. Bahkan, tempe dari Cilegon bisa sampai mendunia.
“Untuk komunitas, pedagang tahu tempe ini bisa terus mengembangkan produksi pengelolaannya,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan, BI Banten melakukan pengembangan kapasitas usaha berbasis komunitas di Cibeber tersebut. Ia menilai, UMKM sangat dekat dengan ekonomi masyarakat dan diharapkan dapat tumbuh sekaligus membuka lapanpan pekerjaan dan memperkuat perekonomian.

Advertisement

Ia menuturkan, Tempe memiliki potensi pasar yang besar dikarenakan gizinya cukup tinggi, sehingga pelaku usaha harus terus meningkatkan kapabilitas dalam memproduksi tempe. Ke depan, tempe akan dijadikan warisan budaya kuliner dunia oleh Kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif. “Untuk itu, pelaku usaha mempersiapkan diri dan juga diharapkan dapat tekun dan adaptif menyesuaikan perkembanpan teknologi dalam produksi tempe dan melihat peluang pasar,” katanya.

Walikota Cilegon Helldy Agustıan dalam sambutannya memberikan motivasi kepada para pedagang tempe untuk terus berproses dengan baik. Untuk kesuksesan harus melewati berbagai proses dan tidak ada sesuatu yang instan. Persaingan dalam usaha dimulai dari sejak lahir karena mengalahkan jutaan sel.

Ia juga memberikan salah satu contoh pengusaha tempe yang sukses yakni Rustono yang saat ini berdomısıli dı Jepang dan berhasil memproduksi tempe mencapai 1 0.000 bungkus per hari, hıngga dıekspor ke berbagai negara termasuk Meksıko.

Advertisement

“Tıdak ada yang tidak mungkin dan tidak ada yang sulıt selama kıta berusaha. Kota Cılegon mendukung pengembangan UMKM melalui pembiayaan sebesar Rp1 juta lewat Dınas Koperasi dan UM K dengan bunga 0% untuk jangka pemınjaman selama 1 tahun. Ini untuk mendorong UMKM semakin berkembang,” katanya.

Dalam kegiatan ini, BI Banten bersinergi dengan Pemkot Cilegon dan BRI Cilegon. Pemimpin BRI Cabang Cilegon Sigit Yudanto mengungkapkan, 26 dari 108 pelaku usaha tempe yang hadır telah memiliki rekenıng BRI. Selain itu, 9 dıantaranya telah memperoleh pembıayaan dari BRI.
“Ke depan harapannya pelaku usaha tempe ını dapat menggunakan QRIS sebagai kanal pembayaran untuk mendukung pengembangan usaha,” katanya.

Selain itu, dilakukan sosialisasi QRIS dan CBP.
Deputi Sistem Pembayaran & Pengelolaan Rupiah Erry P Suryanto, QRIS adalah standarisasi pembayaran mengunakan metode QR Code dari Bank Indonesia apar proses transaksi dengan QR Code menjadi lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya. Melalui QRIS, pedapang dapat menerima pembayaran dari berbagai penerbit uanp elektronik Server-baSed.

BRI juga menyampaikan informasi terkait dengan cara pendaftaran QRIS melalui BRI serta persyaratan pengajuan pinjaman KUR Mikro melalui BRI. Sedangkan, Kegiatan pengembangan kapabiltas tempe disampaikan oleh Turifah/lpeh pemilik usaha Rumah Tempe Ipeh yang memproduksi keripik tempe Macaca. Ia menyampaikan bahwa pembuatan tempe dilakukan melalui enam proses yakni penyortiran kedelai, perebusan kedelai hingpa mendidih, perendaman selama 24 jam, pemecah kedelai dari kulit ari sampai bersih, perapian basah atau kering IaIu packing, dan fermentasi selama 36 jam. Semula ia memproduksi tempe separ kemudian sekarang telah melakukan pemrosesan tempe kering. Beliau juga memperapakan proses produksi kripik tempe macaca. (susi)

Advertisement
LANJUT BACA

Susi Kurniawati

Wartawan bisnisbanten.com