Info Travel

Apa Kabar Negeri di Atas Awan? Masih Punya Daya Tarik Terhadap Wisatawan?

BISNISBANTEN.COM – Beberapa tahun lalu Gunung Luhur di Lebak, Banten, viral di media sosial. Foto dan video hamparan awan di Gunung Luhur yang viral di media sosial memicu ledakan kunjungan wisatawan menuju ke sana. Banyak netizen terkesima dengan pemandangan lautan awan. Dan inilah cikal bakal tempat ini disebut Negeri di Atas Awan.

Data yang dicatat Kompas.com, saat itu, sekitar 32.000 wisatawan memadati Gunung Luhur dalam satu hari. Angka ini jauh di atas kunjungan rata-rata atau hari biasa sekitar 1.000 pengunjung. Imbasnya, kawasan Gunung Luhur di Desa Citorek Kidul tersebut macet parah bahkan sepanjang 9 kilometer. Mendekati akhir 2019, Pemerintah Kabupaten Lebak menutup obyek wisata Gunung Luhur.

Sebelum destinasi wisata ini viral, pertama kali ditemukan oleh para pekerja yang sedang melakukan perbaikan jalan provinsi pada daerah Lebak Utara dan Selatan pada September 2018. Ini memunculkan penasaran warga sekitar untuk mendatangi tempat tersebut kemudian difoto dengan tampilan hamparan awan yang menyelimuti Desa Citorek untuk diunggah ke sosial media hingga akhirnya viral.

Advertisement

Sejak viral akhir 2019 lalu, kondisi terkini obyek wisata di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), tepatnya di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten ini ada sejumlah perubahan. Yang paling terlihat, seperti muncul banyak homestay yang dikelola warga setempat.

Akses jalan ke Gunung Luhur pun sudah dicor mulus hingga ke gerbang masuk dan parkiran kawasan wisata yang berada di tepi Jalan Raya Cipanas-Warungbanten ini. Jalan tersebut bisa menghubungkan Lebak bagian utara dan selatan tanpa memutar lewat Rangkasbitung-Malingping. Tentu ini menjadi kabar gembira karena sebelumnya, akses jalan ke kawasan tersebut sebagiannya masih tanah merah.

Jembatan yang sempat putus akibat banjir bandang pada 1 Januari 2020 lalu juga sudah dibangun kembali. Dan sudah bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Untuk penambahan fasilitas, selain penginapan dan jalan raya, juga warung-warung di sepanjang jalan area pandang hamparan awan. Sementara spot area pandang hamparan awan juga tidak hanya di satu titik, tapi di beberapa tempat.

Advertisement

Oh ya, Pemerintah Provinsi Banten juga sempat membangun masjid di kawasan tersebut. Meski sempat terhenti akibat pandemi.

Untuk menuju Gunung Luhur dapat ditempuh sekitar lima jam berkendara dari Jakarta atau dapat ditempuh berkendara 140 kilometer. Mulailah dengan berkendara ke Jalan Tol Jakarta-Tangerang, lalu masuk ke Jalan Tol Merak-Jakarta.

Kemudian turun menuju Jalan Cisoka hingga bertemu Jalan Raya Maja. Setelah itu lanjutkan perjalanan hingga Jalan Raya Maja-Koleang. Ikuti jalan sampai ke Pasir Haur, Babakan Tipar, dan Guradog. Saat sampai ke Jalan Raya Cikotrek itu artinya sudah sampai di Gunung Luhur. Ikuti jalan dan petunjuk yang ada hingga sampai ke Negeri di Atas Awan.

Jika menggunakan kendaraan umum, bisa memakai kereta ke stasiun akhir Rangkasbitung. Lama tempuh naik kereta dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Rangkasbitung sekitar dua jam.

Dari sini bisa menumpang elf lokal jurusan Citorek dari Terminal Mandala Rangkasbitung. Jarak tempuh membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam atau 78 km. Dari Rangkasbitung mengarah ke Cipanas – Lebak Gedong – Citorek hingga Gunung Luhur.

Tenang saja, tidak perlu mendaki untuk sampai di Negeri di Atas Awan ini. Tidak perlu trekking karena lahan parkir juga sekarang ada di atas. Jarak dari lahan parkir ke area kemah cukup dekat.

Sebelum pergi menikmati keindahan hamparan awan, disarankan berkunjung pada pukul 04.30-08.00 WIB. Ini untuk mendapatkan momen pemandangan indah seperti di foto-foto yang diunggah di media sosial. Pastinya waktu kunjungan dilakukan saat cuaca cerah. Jika saat hujan, pemandangan akan tertutup kabut tebal.

Banyak gardu pandang yang bisa kamu gunakan untuk berfoto di sini. Kalau sedang beruntung, bisa melihat hamparan awan begitu luas. Kumpulan awan tersebut seakan-akan membentuk daratan, sangat indah. Ditambah lagi cahaya saat matahari terbit, benar-benar menakjubkan seperti benar-benar berada di atas awan. Magis!

Untuk bisa melihat hamparan saat pagi hari, pengunjung harus meluangkan waktu bermalam di sekitar obyek wisata agar tidak tertinggal momen sunrise. Penginapan yang disediakan di sini memadai untuk ditinggali. Harga sewa per malam cukup terjangkau dan bervariasi, sekitar Rp150.000/malam.

Jika ingin berkemah, ada area camping ground. Di sini bisa menyewa tenda dengan biaya sekitar Rp80.000. Atau kalau ingin membawa tenda pribadi bisa menyewa lahan Rp30.000/malam.

Hampir lupa, setelah menikmati panorama di atas awan saat pagi hari, spesialnya lagi, lokasi ini cukup berdekatan dengan destinasi wisata air terjun. Jadi bisa mengunjungi air terjun ini. Bukan cuma satu, bahkan lebih. Ada Curug Cipamiceunan, Cipangasahan, dan Cisuren.

Wao! Tertarik datang kesini? Direkomendasikan memakai kendaraan pribadi ya kalau tidak ingin membuang waktu menunggu angkutan umum yang terhitung tidak banyak yang melintas ke area ini. (Hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.