Pengrajin Tas Sekolah di Serang Menjerit: Biaya Produksi Meroket, Pasar Offline Sepi Sejak Pandemi

BISNISBANTEN.COM – Industri kerajinan tas sekolah lokal tengah menghadapi masa-masa sulit. Kartika, seorang pengrajin tas sekolah asal Serang, mengungkapkan bahwa usahanya belum sepenuhnya pulih sejak dihantam pandemi Covid-19.
Meski sempat ada sedikit peningkatan dalam satu bulan terakhir, omzet pendapatannya secara umum terjun bebas jika dibandingkan dengan masa kejayaan sebelum Corona.
“Semenjak Corona itu menurun jauh. Apalagi kalau dibanding sebelum Corona, ya Allah… Dulu seminggu saya bisa dapat Rp1 juta, sekarang mah boro-boro. Paling sekarang Rp600 ribu seminggu,” ujar Kartika lesu, dikutip pada Sabtu (04/07/26).
Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya harga bahan baku pembuatan tas, mulai dari kain hingga plastik. Ironisnya, di tengah keterbatasan modal, bahan-bahan tersebut juga terkadang langka di pasaran.
Masalah tidak berhenti di situ. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus pelaku usaha, Kartika juga harus menghadapi meroketnya harga kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng.
“Semuanya sekarang mah pada naik, pusing. Bahan tas naik, tapi harga jual tasnya tetap, enggak dinaikin,” keluhnya.
Saat ini, tas sekolah buatan Kartika dibanderol dengan harga yang relatif terjangkau, untuk tas TK dibanderol Rp35.000 per buah, sedangkan untuk tas SD Rp50.000 per buah.
Berbeda dengan pedagang makanan yang bisa menyiasati kenaikan bahan baku dengan mengecilkan porsi, pengrajin tas tidak memiliki pilihan tersebut. Ukuran dan kualitas tas harus tetap sesuai standar agar tetap laku.
Penurunan daya beli masyarakat sangat terasa dari jumlah pesanan (order) yang diterima Kartika. Pasar grosir utama seperti Tanah Abang yang menjadi tujuan landasan produknya kini semakin sepi pembeli.
Menurut Kartika, sebelum pandemi pemesanan tas kurang lebih sebanyak 300 lusin, dan diambil 4 kali dalam sebulan dan itu rutin setiap bulan.
“Kalau sekarang cuma 100 lusin, kadang kurang dari itu, dan mereka ambil 2 kali sebulan, bahkan kadang atidak ada pemesanan sama sekali,” terangnya.
Menghadapi modernisasi dan sepinya pasar fisik (offline), Kartika mengaku tidak punya pilihan lain selain beralih ke ranah digital. Baginya, jualan online kini menjadi satu-satunya penyelamat agar dapurnya bisa tetap ngebul.
“Sekarang pasaran sepi, kadang enggak ada pembeli sama sekali. Kalau enggak dibantu online, gimana bisa dapat jualan? Sekarang pembeli justru lebih banyak dari online,” jelasnya.
Melalui penjualan online, Kartika masih bisa mengantongi pesanan hingga puluhan buah langsung dari konsumen ritel. Kini, ia harus memutar otak lebih keras dan “pintar-pintar berbagi penghasilan” agar usahanya yang berbasis di Serang ini bisa terus bertahan di tengah gempuran zaman modern. (Siska









