Keuangan

Institut Kemandirian Bekali Peserta Pelatihan dengan Literasi Finansial

BISNISBANTEN.COM — Institut Kemandirian tidak hanya membekali peserta pelatihan dengan keterampilan kerja, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan sebagai bekal menghadapi dunia usaha dan dunia kerja. Hal tersebut diwujudkan melalui kelas literasi finansial bertajuk Merawat Kebun Rezeki yang diikuti 27 peserta pelatihan Barber, Menjahit, dan Bright Migrant Worker di Karawaci, Tangerang, Rabu (10/6/2026).

Kelas tersebut dibawakan oleh Setiawan Chogah, instruktur, Personal Growth & Finance Storyteller, penulis, sekaligus Editor-in-Chief Techfin Insight.

Melalui pendekatan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, peserta diajak memahami pengelolaan uang melalui konsep Merawat Kebun Rezeki, yang menggambarkan uang sebagai air yang menghidupi sebuah kebun.

Menurut Setiawan, banyak orang berfokus pada cara mendapatkan lebih banyak penghasilan, tetapi sering kali melupakan pentingnya mengelola penghasilan yang sudah dimiliki.

“Banyak orang merasa penghasilannya kurang. Padahal dalam banyak kasus, masalahnya bukan hanya pada jumlah uang yang masuk, tetapi karena ada kebocoran-kebocoran kecil yang tidak pernah disadari. Seperti kebun yang kehilangan air karena selang bocor, kondisi keuangan juga bisa terganggu jika pengeluarannya tidak diperhatikan,” ujarnya.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami pentingnya mengenali aliran uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, membangun dana cadangan, serta membiasakan diri mencatat pemasukan dan pengeluaran.

Salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta adalah pentingnya memperhatikan aliran uang sebelum mengambil keputusan keuangan yang lebih besar.

Peserta pelatihan Barber, Menjahit, dan Bright Migrant Worker berdiskusi dalam kelompok sambil menggunakan uang simulasi dan lembar kerja pada sesi praktik kelas literasi finansial Merawat Kebun Rezeki di Institut Kemandirian, Karawaci, Tangerang.
Peserta pelatihan Barber, Menjahit, dan Bright Migrant Worker mengikuti simulasi pengelolaan keuangan dalam kelas literasi finansial Merawat Kebun Rezeki di Institut Kemandirian, Karawaci, Tangerang. Melalui permainan kelompok menggunakan uang simulasi, peserta belajar mengenali aliran uang, menentukan prioritas pengeluaran, serta memahami pentingnya menabung, mencatat keuangan, dan membangun Lega Finansial sejak dini.

“Petani tidak bisa merawat kebun yang tidak pernah ia lihat. Begitu juga dengan uang. Kalau kita tidak pernah melihat ke mana uang mengalir, akan sulit untuk mengelolanya dengan baik,” kata Setiawan.

Selain mendapatkan materi, peserta juga mengikuti simulasi pengelolaan keuangan secara berkelompok. Dalam simulasi tersebut, mereka diminta mengambil berbagai keputusan keuangan menggunakan uang dan skenario yang telah disiapkan.

Kegiatan tersebut mendorong peserta untuk berdiskusi, menentukan prioritas kebutuhan, mengelola pengeluaran, hingga mempertimbangkan pentingnya dana darurat dan tabungan.

Tak hanya membahas pengelolaan uang, peserta juga diperkenalkan pada konsep Lega Finansial, sebuah pendekatan yang menawarkan cara pandang lebih membumi dibandingkan target Financial Freedom yang sering diperbincangkan dalam berbagai konten keuangan.

Lega Finansial digambarkan sebagai kondisi ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, memiliki pengeluaran yang terkendali, memiliki dana cadangan, serta tidak hidup dalam kecemasan terus-menerus mengenai uang.

“Tidak semua orang harus menjadi kaya raya. Namun semua orang berhak hidup lebih lega. Karena itu kami ingin peserta memahami bahwa kesehatan finansial tidak selalu dimulai dari penghasilan yang besar, tetapi dari kebiasaan mengelola uang dengan lebih baik,” tambahnya.

Respons peserta menunjukkan bahwa materi yang disampaikan mampu menyentuh persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.

Erna Wati, peserta pelatihan Menjahit, mengaku kelas tersebut mengingatkannya akan pentingnya perencanaan dan pencatatan dalam keuangan keluarga.

“Materi ini mengingatkan saya bahwa kita perlu perencanaan, kendali, dan pencatatan dalam keuangan keluarga agar lebih terarah,” ujarnya.

Sementara itu, Saipul Bahari dari program Bright Migrant Worker mengatakan bahwa kelas tersebut membuka kesadarannya mengenai pentingnya memperhatikan pengeluaran sehari-hari.

“Materinya sangat menyadarkan saya. Saya jadi ingin mulai mencatat pengeluaran dan lebih memperhatikan penggunaan uang,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Institut Kemandirian berharap peserta tidak hanya memiliki keterampilan untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga kemampuan mengelola hasil kerja mereka secara lebih bijak dan berkelanjutan.

Sebab pada akhirnya, keterampilan menghasilkan uang dan keterampilan mengelola uang merupakan dua bekal penting yang perlu berjalan beriringan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. (SUSI)

bisnisbanten.com