Ekonomi

Talkshow Akses UMKM ke Modern Market, SOGO dan Indomaret Ungkap Peluang hingga Tantangan Produk Lokal

BISNISBANTEN.COM – Akses pasar modern menjadi salah satu peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan penjualan, memperluas jangkauan konsumen, serta mengembangkan bisnis ke level yang lebih tinggi. Namun, untuk menembus pasar modern, pelaku UMKM perlu memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari kualitas produk, konsistensi produksi, legalitas, standardisasi, hingga strategi pemasaran.

Hal tersebut mengemuka dalam talkshow bertajuk Akses UMKM ke Modern Market yang menghadirkan perwakilan SOGO Indonesia, Indomaret, dan pelaku usaha Cokelatin Signature. Diskusi ini membahas peluang kemitraan dengan pasar modern sekaligus berbagai tantangan yang perlu dipersiapkan UMKM agar mampu bersaing.

Store Manager SOGO Indonesia, Surung Pasaribu, mengatakan, pihaknya terus mengikuti perkembangan tren pasar dan menyesuaikan produk yang ditawarkan dengan kebutuhan konsumen. SOGO juga menjalin kerja sama dengan pusat perbelanjaan tertentu untuk memastikan produk dan layanan tetap relevan dengan karakteristik pasar yang dituju.

Advertisement

Menurutnya, SOGO memiliki lebih dari 1.000 merek dan 72 department store yang terus berkembang. Perusahaan juga melakukan renovasi toko dengan mengadopsi teknologi terkini, memperbarui merek yang ditawarkan, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan.

Surung menjelaskan, SOGO turut mendukung penguatan ekonomi nasional melalui produk dalam negeri yang memiliki kandungan lokal dan melibatkan banyak tenaga kerja. Dengan menghadirkan produk berkualitas untuk segmen menengah atas, konsumen diharapkan tidak perlu pergi ke luar negeri untuk mendapatkan produk yang sesuai dengan kebutuhannya.

SOGO juga menjalin kemitraan dengan pemerintah untuk mempromosikan produk Nusantara, termasuk produk budaya dan wastra dari Banten. Sekitar 450 merek produk budaya Nusantara pernah dihadirkan dalam kegiatan promosi di kawasan Alun-Alun dan destinasi wisata.

Dari sisi ketenagakerjaan, Surung menyebutkan, kegiatan usaha SOGO melibatkan sekitar 1.000 hingga 1.500 karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan pasar dan produk lokal juga berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi serta penyerapan tenaga kerja.

Ia menambahkan, pelaku UMKM perlu terus memantau perubahan tren, memahami persaingan, dan menjaga kualitas produk. Produk yang lambat terjual perlu dievaluasi agar tidak membuat konsumen bosan dengan pilihan yang tersedia.

Selain itu, UMKM harus memperhatikan standardisasi, termasuk Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk yang diwajibkan, serta ketentuan label berbahasa Indonesia. Surung juga mendorong pelaku usaha untuk mulai memperhatikan sertifikasi halal sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, kemampuan membaca pasar dan melakukan efisiensi menjadi faktor penting, terutama karena operasional toko di lokasi premium membutuhkan biaya tinggi, mulai dari sewa tempat hingga kebutuhan listrik, air, pendingin ruangan, dan pelayanan pelanggan.

Indomaret: Kredibilitas Produk Menjadi Modal Utama

Sementara itu, Purwanto Wahyudi dari Microeconomics Executive Indomaret menjelaskan, masuk ke pasar modern dapat meningkatkan kredibilitas produk UMKM sekaligus membuka akses distribusi yang lebih luas.

Menurutnya, ketika sebuah produk berhasil masuk ke jaringan distribusi atau distribution center (DC), peluang penyebarannya ke berbagai gerai akan semakin terbuka. Namun, proses tersebut membutuhkan kesiapan produk dan bisnis secara menyeluruh.

Purwanto menyebutkan, salah satu tantangan utama UMKM adalah memenuhi standardisasi produk, terutama bagi usaha mikro yang masih membutuhkan pendampingan terkait sertifikasi halal, legalitas, dan administrasi usaha.

Selain itu, pelaku UMKM perlu memastikan kapasitas produksi mampu memenuhi permintaan pasar. Perluasan distribusi harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia, ketersediaan bahan baku, modal, serta rantai pasok yang stabil.

Dari sisi produk, Purwanto menekankan pentingnya kejujuran dalam mencantumkan informasi, khususnya berat bersih atau gramasi. Kemasan dan harga juga harus diperhitungkan secara cermat agar produk memiliki daya saing.

Ia mencontohkan, penggunaan ukuran yang mudah dipahami konsumen dapat membantu mempermudah perbandingan harga. Pelaku UMKM juga perlu memastikan harga yang ditawarkan tetap kompetitif, terutama ketika berhadapan dengan produk dari produsen berskala besar.

Terkait mekanisme kemitraan, Purwanto menjelaskan, pemasok perlu memahami tahapan pengajuan produk, proses penilaian, serta sistem distribusi yang berlaku. Produk dapat dipasarkan melalui mekanisme pengiriman langsung ke toko atau melalui DC untuk distribusi yang lebih luas, bergantung pada skema yang ditetapkan.

Ia juga menegaskan bahwa Indomaret tidak menerapkan biaya listing fee bagi UMKM. Meski demikian, setiap produk harus mampu menunjukkan produktivitas penjualan agar dapat terus dipertahankan di jaringan ritel.

Purwanto mengingatkan, pelaku UMKM sebaiknya fokus mengembangkan produk, melakukan riset dan pengembangan, serta tidak terlalu sering mengganti produk tanpa mempertimbangkan kebutuhan konsumen.

Ia turut menyoroti pentingnya memahami karakteristik pasar. Tidak semua produk cocok dipasarkan di jaringan minimarket, sehingga pelaku UMKM perlu memilih saluran distribusi sesuai kategori produk dan target konsumennya.

Cokelatin Signature: Kualitas dan Konsistensi Menentukan Keberlanjutan

Dari sisi pelaku usaha, Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, membagikan pengalaman membangun bisnis cokelat lokal sejak 2016. Usaha yang dirintis bersama istrinya tersebut berangkat dari keinginan memperkenalkan cokelat Indonesia sebagai produk premium yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Menurut Nugroho, Indonesia memiliki potensi besar sebagai penghasil kakao, tetapi potensi bahan baku tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan membangun merek dan menghasilkan produk berkualitas.

Karena itu, Cokelatin Signature sejak awal memilih segmen menengah atas dengan menitikberatkan kualitas dan konsistensi produk. Strategi tersebut membuat perusahaan harus selektif dalam menentukan target pasar, harga, dan saluran pemasaran.

Nugroho mengatakan, kepercayaan menjadi faktor penting dalam memperluas akses pasar. Keikutsertaan dalam kompetisi dan pencapaian penghargaan UMKM, termasuk dari Kementerian Perdagangan, menjadi bagian dari upaya membangun kredibilitas produk.

Dalam mengembangkan pasar, Cokelatin Signature menyasar hotel, kafe, berbagai acara, serta pameran. Perusahaan juga memilih bermitra dengan pihak lain untuk memasuki ritel modern karena distribusi bukan menjadi keahlian utama yang mereka kembangkan sendiri.

Ia mencontohkan, keikutsertaan dalam kegiatan Karya Kreatif Banten (KKB) dan dukungan Bank Indonesia Provinsi Banten turut membuka peluang pemasaran dan memperluas jaringan kemitraan.

Menurut Nugroho, keberhasilan mengikuti pameran tidak cukup diukur dari transaksi selama acara berlangsung. Pelaku UMKM perlu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membangun hubungan bisnis jangka panjang, mendapatkan mitra baru, dan memperluas distribusi produk.

Penataan produk atau display juga menjadi perhatian. Pelaku usaha perlu melakukan survei lokasi, menyesuaikan penempatan produk, serta memahami karakteristik tempat pemasaran agar produknya lebih mudah menarik perhatian calon pembeli.

Ia menambahkan, ketika bisnis berkembang, UMKM harus mulai membangun sistem pengelolaan yang lebih profesional, meliputi keuangan, produksi, dan standar operasional prosedur (SOP).

“Peluang itu jangan hanya ditunggu atau dicari, tetapi harus diciptakan,” menjadi pesan yang disampaikan Nugroho kepada pelaku UMKM. Menurutnya, produk berkualitas, penataan yang baik, konsistensi, dan kemampuan membangun relasi menjadi modal penting untuk menciptakan peluang baru.

Cokelatin Signature sendiri memiliki rencana ekspansi dengan target membuka hingga 500 outlet secara nasional.

Kolaborasi untuk Membuka Akses Pasar UMKM

Talkshow ini menegaskan bahwa memasuki pasar modern bukan sekadar mendapatkan tempat untuk menjual produk. UMKM perlu membangun kesiapan usaha secara menyeluruh, mulai dari kualitas dan legalitas produk, kemampuan produksi, pengelolaan stok, strategi harga, hingga pengembangan merek.

Kolaborasi antara pelaku UMKM, jaringan ritel, lembaga pendamping, dan pemerintah juga diperlukan agar proses peningkatan kapasitas usaha dapat berjalan berkelanjutan.

Dengan memahami karakteristik pasar dan menyiapkan bisnis secara lebih profesional, UMKM diharapkan mampu memanfaatkan peluang pasar modern untuk memperluas distribusi, meningkatkan daya saing, serta memperkuat kontribusi produk lokal terhadap perekonomian nasional.

bisnisbanten.com