Maudy Ayunda Beri Klarifikasi Soal Mindfullness Usai Disebut Tone Deaf

BISNISBANTEN.COM — Maudy Ayunda memberikan klarifikasi setelah video yang dibuatnya mendapat beragam komentar dan perspektif dari warganet. Ia mengaku telah membaca banyak komentar tersebut dan menyadari ada hal penting yang belum cukup ia sampaikan dalam video sebelumnya.
Maudy menjelaskan bahwa kemampuan untuk menjauh sejenak dari pemberitaan merupakan sebuah privilese. Menurutnya, tidak semua orang memiliki pilihan tersebut, terutama ketika suatu peristiwa berdampak langsung terhadap kehidupan, keluarga, pekerjaan, maupun komunitas mereka. “Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya,” tulis Maudy dalam pernyataannya.
Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf karena bagian tersebut belum cukup ia refleksikan dalam video yang dibuatnya. Maudy juga menyinggung sejumlah persoalan yang tengah terjadi, termasuk Karhutla, bencana gempa, kebijakan dan program yang dinilai tidak tepat sasaran, serta berbagai isu lain yang berdampak langsung kepada masyarakat. “The situations we are dealing now are so frustrating and heartbreaking. Adanya Karhutla, bencana gempa, berbagai kebijakan dan program yang nggak tepat sasaran dan berdampak langsung pada masyarakat, maupun berbagai isu-isu lain yang juga sama pentingnya,” ungkapnya.
Maudy mengatakan bahwa saat membuat video tersebut, dirinya sebenarnya sedang melakukan refleksi mengenai perjuangan pribadi. Ia berusaha mencari cara untuk tetap peduli dan mengikuti berbagai hal yang terjadi, sembari menjaga diri agar tetap mampu hadir dan terlibat dengan lebih berarti. “Waktu membuat video ini, aku sebenarnya sedang berbagi refleksi tentang suatu struggle pribadi: bagaimana tetap peduli dan mengikuti apa yang terjadi, sambil menjaga diri supaya kita tetap bisa hadir dan engage dengan lebih berarti,” jelas Maudy.
Ia pun menegaskan bahwa mindfulness yang dibicarakannya tidak dimaksudkan sebagai alasan untuk mengabaikan keadaan di sekitar. Maudy justru tidak ingin konsep tersebut membuat seseorang menjauh dari realitas atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. “Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja,” tegasnya.
Menurut Maudy, mindfulness justru dapat membantu seseorang melihat suatu persoalan dengan lebih jelas, termasuk memahami hubungan sebab dan akibat. Dengan begitu, seseorang tetap dapat peduli, hadir, serta memiliki kepekaan terhadap apa yang dirasakan oleh masyarakat yang terdampak. “Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Maudy berterima kasih kepada orang-orang yang telah meluangkan waktu untuk memberikan masukan dan memperluas perspektifnya. Ia mengaku menghargai berbagai feedback yang diterimanya dan menjadikan hal tersebut sebagai bagian dari proses belajar. “Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedback-nya. I’m listening and learning,” tutup Maudy.
(Sarah)









