Kisah Ardi dan Holikul Amin: Kakak Beradik di Serang yang Menggantungkan Masa Depan pada Sekolah Rakyat

BISNISBANTEN.COM – Harapan Ardi dan Holikul Amin untuk bisa terus mengenyam bangku pendidikan kini berada di ujung tanduk. Dua kakak beradik asal Lingkungan Karundang Kolektor, RT 02 RW 05, Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang ini, tengah cemas menunggu penetapan sebagai peserta Sekolah Rakyat.
Sejak ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya yang telah berpisah, Ardi dan Holikul kini diasuh oleh sang nenek, Bu Wacih. Di tengah keterbatasan ekonomi yang menghimpit, keduanya sempat terancam putus sekolah. Sekolah Rakyat menjadi satu-satunya asa bagi mereka untuk memperbaiki masa depan.
Meski telah diusulkan sebagai calon peserta sejak Mei 2026, langkah keduanya tidak langsung mulus. Proses verifikasi administrasi dihadapkan pada kendala perbedaan data kependudukan (Adminduk).
Berdasarkan aturan, calon peserta Sekolah Rakyat diprioritaskan bagi keluarga yang masuk dalam kategori desil 1 atau desil 2.
Di atas kertas, status kedua anak ini berbeda, Holikul Amin tercatat dalam Kartu Keluarga (KK) neneknya dan masuk dalam kategori desil 1, sementara Ardi masih tercantum dalam KK orang tuanya yang berada pada desil 3.
Padahal, fakta di lapangan menunjukkan kondisi Ardi sama memprihatinkannya dengan sang adik. Kedua orang tua mereka telah lama berpisah dan keberadaannya tidak diketahui hingga saat ini.
Farhah Syibli, Penata Layanan Operasional sekaligus Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada tim verifikator.
“Penjangkauan Sekolah Rakyat sudah berjalan sejak Mei. Ardi dan Holikul Amin sudah kami lakukan penjangkauan, datanya sudah masuk ke aplikasi Setara dan sekarang tinggal menunggu SK penetapan. Hasil pendataan sudah kami sampaikan sesuai kondisi yang sebenarnya di lapangan,” ujar Farhah, dikutip pada Sabtu (11/07/26).
Farhah menambahkan, Bu Wacih sebenarnya sudah meminta agar kedua cucunya didaftarkan sejak Februari lalu. Namun karena penjaringan belum dibuka, pendataan baru bisa dieksekusi saat program resmi berjalan.
Berdasarkan hasil pendampingan dan koordinasi dengan pihak sekolah, kedua anak tersebut memang berada dalam kondisi rentan putus sekolah. Ardi hampir saja tidak bisa melanjutkan sekolah setelah lulus SD jika tidak dibantu oleh gurunya. Kini, Ardi bersiap masuk jenjang SMP, sementara adiknya, Holikul Amin, akan naik ke kelas IV SD.
“Informasi dari pihak sekolah sama, kedua anak ini memang rentan putus sekolah karena kendala biaya. Dalam beberapa bulan terakhir saya juga sudah lebih dari enam kali mengunjungi rumah Bu Wacih untuk melakukan pendampingan. Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Mudah-mudahan mereka bisa diterima,” tambah Farhah.
Di sebuah rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan, Bu Wacih berjuang sendirian mengasuh tiga orang cucunya. Satu cucu lainnya sengaja tidak didaftarkan ke Sekolah Rakyat agar bisa menemaninya di rumah, dan biayanya akan diusahakan sendiri semampunya. Namun untuk Ardi dan Holikul, Bu Wacih sudah angkat tangan terkait biaya.
“Saya tidak bisa membiayai sekolah mereka. Harapan saya Ardi dan Holikul Amin diterima di Sekolah Rakyat supaya tetap sekolah, jadi anak pintar, sukses, dan saleh. Jangan seperti neneknya yang hidup serba kekurangan,” tutur Bu Wacih lirih.
Keinginan kuat untuk belajar juga terpancar dari Ardi. Ia berharap bisa diterima di Sekolah Rakyat agar tidak menjadi beban pikiran bagi neneknya yang sudah tua.
“Saya memilih Sekolah Rakyat karena nenek tidak mampu membiayai sekolah. Saya ingin mendapat teman baru, fasilitasnya bagus, masih banyak yang ingin saya pelajari dari guru-guru. Harapan saya bisa diterima sampai lulus sekolah dan nanti menjadi orang sukses,” ungkap Ardi penuh harap.
Perjuangan Ardi dan Holikul dipastikan tidak mudah. Saat ini, kuota Sekolah Rakyat di Kota Serang masih sangat terbatas. Jenjang SD dan SMP masing-masing disiapkan dua rombongan belajar dengan kapasitas 30 siswa setiap rombongan belajar.
Tingginya jumlah pendaftar, khususnya pada jenjang SMP, membuat proses seleksi administrasi berlangsung ketat sebelum penetapan resmi peserta yang dijadwalkan keluar pada bulan Juli ini. Pengumuman tersebut akan menjadi penentu apakah mimpi Ardi dan Holikul untuk terus belajar dapat terwujud atau harus kandas di tengah jalan. (Siska)









