Banten24

Geliat Bazar Ramadan Masjid Agung Ats-Tsauroh: 150 Tenan Ludes Diserbu Pembeli Setiap Sore

BISNISBANTEN.COM – Halaman Masjid Agung Ats-Tsauroh kembali menjadi pusat perhatian selama Ramadan 1447 H. Ratusan warga memadati area masjid sejak sore hari untuk berburu aneka takjil dan menu berbuka puasa di bazar tahunan yang dikelola oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Bazar yang diikuti sekitar 150 tenan ini menyajikan ragam kuliner khas, mulai dari kudapan tradisional seperti ketan bintul dan kolak, hingga lauk-pauk siap santap dan minuman segar.

Pantauan di lokasi pada Senin (22/02/26), arus pengunjung mulai memuncak sejak pukul 16.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka.

Advertisement

Ketua DKM Masjid Agung Ats-Tsauroh, Khaeroni, mengungkapkan bahwa antusiasme pedagang maupun pembeli tahun ini sangat luar biasa. Sejak pendaftaran dibuka, kuota lapak langsung terisi penuh.

“Alhamdulillah setiap hari ramai. Pendaftarnya langsung penuh, total ada sekitar 150 tenan. Warga antusias datang untuk berburu kuliner berbuka,” ujar Khaeroni.

Selain menjadi ajang silaturahmi, bazar ini bertujuan menggerakkan ekonomi pelaku usaha kecil. Sebagai bentuk dukungan, pengelola membebaskan biaya parkir bagi para pedagang yang berjualan di dalam area masjid.

Bagi sebagian pedagang, bazar di Ats-Tsauroh bukan sekadar tempat berjualan musiman, melainkan tradisi tahunan. Itoh, warga Kotabaru, mengaku sudah 16 tahun rutin berjualan di lokasi ini. Meski harus bersiap sejak selepas Subuh untuk mengolah masakan, ia mengaku omzet di bazar masjid jauh lebih menjanjikan.

“Kalau jualan di rumah kadang habis kadang tidak. Tapi kalau di sini alhamdulillah biasanya habis menjelang Magrib,” ungkap Itoh yang menjajakan ketan bintul dan bubur sumsum.

Senada dengan Itoh, Akmal, seorang mahasiswa asal Bumi Agung Permai 2, turut memanfaatkan momen ini untuk membantu usaha keluarga. Ia menjajakan urap, pecel, hingga risol mayo.

Meski pengunjung membludak, beberapa pedagang mencatat adanya perubahan tata letak tahun ini. Akses jalan di tengah yang ditiadakan membuat area terasa lebih sempit dan padat. Namun, hal tersebut rupanya tidak menyurutkan minat warga untuk datang.

“Cukup ramai tiap hari. Memang agak susah kalau lalu lalang karena lebih sempit, tapi tetap ramai pembeli,” kata Akmal.

Hingga azan Magrib berkumandang, sebagian besar dagangan di lapak-lapak terpantau ludes terjual. Bazar takjil Masjid Agung Ats-Tsauroh pun membuktikan perannya sebagai episentrum ekonomi dan kebersamaan warga di bulan suci Ramadan.(siska)

Advertisement
bisnisbanten.com