MobilOtomotif

GAIKINDO Nilai Indonesia Harusnya Punya Pabrik Chip Semikonduktor Sendiri

BISNISBANTEN.COM — Industri otomotif Indonesia mengalami dampak serius menyusul krisis chip semikonduktor yang terjadi sejak munculnya wabah virus Corona (COVID-19) di awal 2020. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menilai, produksi mobil di Indonesia seharusnya tidak mengalami gangguan itu seandainya pabrik chip semikonduktor tersebut juga ada di Indonesia.

“(Industri otomotif) kita terpengaruh juga (dengan kelangkaan chip semikonduktor ini). Karena sekarang nggak ada satu pun mobil yang nggak pakai chip semikonduktor. Tinggal seberapa detail, semakin banyak detail semakin banyak semikonduktornya,” kata Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara

“Jadi itu wilayahnya stakeholder lain, bagaimana memikirkan masalah itu. Kami kan udah ngomong, kenapa nggak dari dulu kita kembangkan (chip) semikonduktor di sini. Kalau orang lain bisa, kenapa kita nggak bisa? Malaysia juga punya kan, Taiwan juga bisa,” kata Kukuh.

Advertisement

Menurut Kukuh, Indonesia harus mengembangkan kemampuan di bidang produksi chip semikonduktor ini supaya tidak tergantung dengan negara lain. “Semuanya hilirisasi. Jadi kita harus kita siapkan. Kalau kemudian tergantung (dengan negara lain), berat juga. Paling nggak kita bisa bikin,” kata Kukuh.

Krisis chip semikonduktor yang menimpa industri otomotif global juga berdampak ke industri otomotif Indonesia. Seretnya pasokan komponen tersebut membuat produksi sejumlah model mobil di Tanah Air terganggu. Bahkan sampai ada model mobil tertentu yang disetop sementara produksinya.

Chip semikonduktor adalah “otak” pada kendaraan bermotor yang mendukung fungsi-fungsi kelistrikan pada sebuah kendaraan, contohnya sistem panel instrumen digital atau sistem keyless. Dan tak hanya berdampak ke industri roda empat, krisis chip semikonduktor juga berdampak ke industri roda dua Tanah Air. (susi)

Advertisement
LANJUT BACA

Susi Kurniawati

Wartawan bisnisbanten.com