PropertiHome

Dari Rumah, Setiawan Chogah Bekerja dan Memanen Ide: Ketika Hunian Menjadi Ruang Kreatif

Bagi pekerja independen, rumah bukan sekadar tempat beristirahat. Di Rumah Chogah 2.0, ruang tinggal sekaligus menjadi kantor, perpustakaan, kebun, dan tempat berbagai gagasan tumbuh.

bisnisbanten.com – Pagi di rumah Setiawan Chogah tidak selalu dimulai dari meja kerja. Kadang justru dimulai dari halaman.

Dari menyiram tanaman, memeriksa daun baru, menyapu kerikil, atau duduk sebentar dengan secangkir kopi. Setelah itu laptop dibuka. Pekerjaan dimulai.

Tidak ada perjalanan menuju kantor. Tidak ada pintu yang harus ditutup untuk memisahkan pekerjaan dari kehidupan sehari-hari.

Advertisement

Sebab bagi Setiawan, keduanya memang tidak harus selalu dipisahkan.

“Saya banyak bekerja dari rumah. Jadi rumah bagi saya bukan hanya tempat pulang. Rumah juga menjadi tempat saya memproduksi gagasan.”

Setiawan merupakan pekerja independen yang menjalankan berbagai pekerjaan kreatif dari rumah. Menulis, mendesain, mengelola proyek, berdiskusi, hingga mengembangkan berbagai gagasan dilakukan dari ruang yang sama.

Karena itu, rumah tidak hanya membutuhkan ruang untuk tinggal. Ia juga membutuhkan ruang untuk berpikir.

Ketika Rumah Menjadi Kantor

Rumah Chogah 2.0 berada di Perumahan Sukawana Asri, Kelurahan Sukawana, Kecamatan Curug, Kota Serang.

Secara ukuran, hunian ini bukan rumah yang besar. Namun keterbatasan ruang justru membuat setiap bagian memiliki fungsi yang cukup fleksibel.

Meja kerja menjadi pusat produktivitas. Rak buku menjadi sumber referensi. Halaman menjadi tempat beristirahat sekaligus mencari inspirasi.

Bahkan sebuah meja sederhana di bawah pohon dapat berubah menjadi ruang kerja terbuka.

Bagi pekerja yang mengandalkan pikiran sebagai bagian utama dari pekerjaannya, lingkungan semacam itu bukan sekadar latar.

Ia menjadi bagian dari proses kreatif. “Saya membutuhkan ruang yang membuat pikiran bisa bergerak. Kadang saya bekerja di meja, kadang membaca di ruang lain, kadang justru mendapatkan ide ketika sedang duduk di halaman.”

Konsep tersebut membuat batas antara workplace dan living space menjadi cair. Rumah bekerja sebagai ekosistem kecil.

Ada ruang untuk menghasilkan sesuatu, tetapi juga ada ruang untuk mengisi kembali energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan sesuatu.

Ide Tidak Selalu Lahir di Depan Laptop

Ada anggapan bahwa produktivitas selalu berhubungan dengan meja kerja yang rapi, perangkat yang lengkap, dan rutinitas yang terstruktur.

Setiawan melihatnya sedikit berbeda.

Baginya, produktivitas juga membutuhkan jeda.

Itulah sebabnya ia menghadirkan ruang-ruang kecil yang tidak secara langsung berkaitan dengan pekerjaan.

Salah satunya adalah Pandora Corner.

Sudut halaman tersebut menjadi tempat untuk duduk, minum kopi, melihat tanaman, atau sekadar membiarkan pikiran berjalan tanpa target.

“Saya sering merasa ide itu seperti tanaman. Ia tidak bisa dipaksa tumbuh hanya karena kita sedang membutuhkannya. Kita hanya bisa menyiapkan tempat yang baik, merawatnya, lalu menunggu.”

Pandangan tersebut kemudian memengaruhi bagaimana rumah dirancang.

Tanaman tidak hanya ditempatkan sebagai dekorasi. Cahaya alami dibiarkan masuk. Ruang-ruang dibuat terbuka dan saling berhubungan.

Rumah diharapkan menjadi tempat yang tidak hanya membuat tubuh nyaman, tetapi juga memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat.

Perpustakaan yang Menyimpan Modal Pengetahuan

Bagian lain yang menonjol adalah keberadaan buku. Rak dan dinding rumah dipenuhi buku, poster, karya seni, dan berbagai benda yang berkaitan dengan perjalanan intelektual pemiliknya.

Bagi seorang penulis, buku tentu memiliki fungsi lebih dari sekadar dekorasi. Namun menariknya, koleksi itu tidak dibuat agar rumah terlihat seperti perpustakaan.

“Buku-buku itu datang dari perjalanan hidup saya. Ada yang sudah selesai dibaca, ada yang belum. Sebagian bahkan saya beli hanya karena tertarik pada satu hal kecil di dalamnya.”

Dengan begitu, rumah menjadi semacam knowledge workspace yang tidak resmi.

Buku dapat menjadi referensi pekerjaan pagi ini. Percakapan sore hari bisa berubah menjadi gagasan tulisan. Sebuah tanaman di halaman bisa menjadi metafora untuk sesuatu yang sedang dipikirkan.

Semua saling berhubungan.

Rumah sebagai Infrastruktur Kehidupan

Rumah Chogah 2.0 pada akhirnya menunjukkan bahwa ruang kerja tidak selalu harus berbentuk kantor.

Bagi pekerja independen, rumah dapat menjadi infrastruktur produktivitas sekaligus ruang pemulihan.

Ada meja untuk bekerja. Ada buku untuk belajar. Ada halaman untuk berhenti. Ada tanaman untuk dirawat.

Dan ada ruang kosong untuk membiarkan gagasan datang.

“Saya tidak terlalu membutuhkan rumah yang besar. Saya membutuhkan rumah yang cukup untuk menjalani pekerjaan dan kehidupan dengan baik.”

Mungkin itulah nilai penting dari sebuah hunian bagi orang yang bekerja secara mandiri.

Bukan seberapa mahal furniturnya. Bukan seberapa luas bangunannya.

Melainkan apakah ruang tersebut mampu membantu penghuninya bekerja, berpikir, beristirahat, dan terus berkembang.

Di Rumah Chogah 2.0, semua fungsi itu berlangsung dalam satu tempat.

Sebuah rumah sederhana yang perlahan berubah menjadi kantor, perpustakaan, kebun, ruang kontemplasi, sekaligus laboratorium kecil tempat berbagai gagasan dipanen.

bisnisbanten.com