Travel

Ziarah ke Gunung Santri, Ada Makam Syekh Ini di Sana!

BISNISBANTEN.COM – Kawasan wisata religi di Banten cukup banyak dan beragam. Selain kawasan Banten Lama, salah satu wisata religi yang populer adalah Gunung Santri.

Gunung Santri berada di Kawasan Pantai Utara Banten, Kampung Merapit, Desa Ukir Sari, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten. Letaknya sekira 25 kilometer (km) dari arah Serang dan tujuh km dari Cilegon.

Letak gunung santri berada di tengah dikelilingi gugusan gunung-gunung yang memanjang dimulai dari pantai dan berakhir pada gunung induk yaitu gunung gede.

Advertisement

Jika melintas di jalan raya Bojonegara-Puloampel, dari pinggir jalan terlihat bukit di sebelah kiri jalan. Terlihat tandus tanpa pepohonan besar yang tumbuh di atasnya. Di puncak bukit, terlihat bangunan kecil yang di dalamnya terdapat makam keramat. Warga menyebut bukit ini dengan nama Gunung Santri.

Di sekitar Gunung Santri terdapat perkampungan di antaranya Lumajang, Beji, Kejangkungan, Gunung Santri, dan Pangsoran. Khusus di kaki bukit Kampung Beji terdapat Masjid Beji yang merupakan tonggak sejarah Kota Cilegon. Kampung Beji juga dikenal sebagai tempat kelahiran pahlawan nasional Brigjen KH Syamun pada 5 April 1894.

Sebetulnya, Gunung Santri tidak memenuhi kriteria untuk disebut gunung. Namun, warga setempat sudah menyebut bukit tersebut dengan sebutan Gunung Santri.

Jalan menuju ke sini, siap-siap menanjak dengan kemiringan 70-75 derajat. Butuh stamina prima untuk mencapai tujuan jika akan berziarah.

Advertisement

Destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi umat muslim di Banten maupun luar Banten ini terdapat makam Muhammad Sholeh.

Tidak diketahui secara pasti Syekh Muhammad Soleh dilahirkan. Namun, sejarah mencatat Syekh Muhammad Soleh meninggal pada 1550 M/958 H.

Ia adalah salah satu murid dari Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Muhammad Soleh datang ke Banten atas perintah Sunan Gunung Jati untuk mencari anaknya, yakni Sultan Maulana Hasanuddin di Banten. Sultan Maulana Hasanuddin sudah lama tak kunjung pulang ke Cirebon.

Kala itu Banten masih dikuasai oleh kerajaan Hindu di bawah kekuasaan Kerajaan yang dipimpin Prabu Pucuk Umun.

Syekh Muhammad Soleh dan Sultan Maulana Hasanuddin kemudian bertemu di puncak Gunung Lempuyang, bukit yang lokasinya tak jauh dari Gunung Santri. Gunung Lempuyang juga mempunyai tekstur perbukitan yang sama dengan Gunung Santri.

Gunung Lempuyang menjadi tempat munajat Sultan Maulana Hasanuddin sebelum berperang melawan Pucuk Umun untuk menaklukkan Banten.

Muhammad Soleh mengajak pulang Sultan Maulana Hasanuddin ke Cirebon berdasarkan perintah sang ayah. Namun, sultan pertama Banten itu menolak dengan alasan ingin menyiarkan agama Islam di Banten. Akhirnya, Muhammad Soleh pun menetap di Gunung Santri sambil mendampingi Sultan Maulana Hasanuddin menyiarkan agama Islam.

Sejak itu tempat tersebut menjadi pusat belajar para santri dan kini disebut Gunung Santri.

Oh ya, syiar agam Islam yang dilakukan Sultan Hasanudin mendapat tantangan dari Prabu Pucuk Umun karena berhasil menyebarkan agama Islam di Banten sampai bagian Selatan Gunung Pulosari (Gunung Karang) dan Pulau Panaitan Ujung Kulon.

Keberhasilan ini mengusik Prabu Pucuk Umun karena semakin kehilangan pengaruh, dan menantang Sultan Hasanudin untuk bertarung dengan cara mengadu ayam jago. Sebagai taruhannya akan dipotong lehernya. Tantangan Prabu Pucuk umun diterima oleh Sang Sultan.

Setelah Sultan Hasanudin bermusyawarah dengan Syekh Muhamad Soleh, akhirnya disepakati yang akan bertarung melawan Prabu Pucuk Umun adalah Syekh Muhammad Sholeh yang bisa menyerupai bentuk ayam jago seperti ayam jago biasa. Ini terjadi karena kekuasaan Allah SWT.

Pertarungan dua ayam jago berlangsung seru dan akhirnya ayam jago milik Sultan Maulana Hasanudin yang memenangkan pertarungan. Ayam jago ini berubah menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh sekembalinya di rumah Sultan Maulana Hasanudin.

Akibat kekalahan adu ayam jago ini, Prabu Pucuk Umun pun tidak terima dan mengajak berperang Sultan Maulana Hasanudin. Namun pasukan Prabu Pucuk Umun kalah dalam perperangan dan mundur ke selatan bersembunyi di pedalaman Rangkasbitung yang sekarang dikenal dengan suku Baduy.

Usai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung Santri dan melanjutkan aktivitasnya sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali.

Sang Syekh Beliau wafat pada usia 76 tahun. Ia berpesan kepada santrinya jika ia wafat dimakamkan di Gunung Santri. Di dekat makamnya terdapat pengawal sekaligus santri yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani syekh dalam menyiarkan agama Islam.

Jika di puncak Gunung Santri terdapat makam Muhammad Soleh maka di Gunung Lempuyang terdapat makam keramat, yakni makam Buyut Agung. Lempuyang mempunyai makna lampu penerang. Karena, di tempat tersebut tempat belajar mengaji para sesepuh Banten. Di puncak Gunung Lempuyang, diceritakan juga sebagai tempat para ulama untuk mengintai para penjajah pada masa Kolonial Belanda.

Nah, itulah cerita tentang Gunung Santri. Tertarik berziarah ke sana? Siapin stamina ya. (Hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.