Info Bisnis

Semakin Langka yang Jual, Semakin Mahal!

BISNISBANTEN.COM — Di era 2000-an penjual CD bajakan pernah menjamur di Indonesia. Di berbagai pasar tradisional bahkan mal, sangat gampang menemukan penjual CD, VCD, DVD, MP3 dan sejenisnya.

Bahkan geliat para penjualnya sempat mengusik industri musik dan perfilman di tanah air. Film bioskop seperti Ada Apa dengan Cinta langsung beredar versi bajakannya secara cepat. Begitu pula film-film India. Untuk di ranah musik, banyaknya acara musik di televisi, menjadi bahan rekaman video dalam VCD bajakan untuk dijual secara massif dan cepat.

Berbeda dengan sekarang. Usaha ini kini mulai tidak mendapat tempat di tengah kepungan zaman yang serba daring. Perkembangan teknologi membuat cara mendengarkan musik di kalangan masyarakat, bergeser. Yang semula mengandalkan keping CD dan perangkat player, sekarang jauh lebih simpel. Karena mendengarkan musik, menonton film, dan sebagainya bisa dilakukan melalui ponsel.

Advertisement

Ini juga yang menjadikan pedagang CD susah ditemui. Jika dulu di Pasar Royal, Kota Serang misalnya ada sekitar 10 pedagang CD baik gerobak maupun emperan, saat ini hanya tersisa satu. Yakin yang mangkal tak jauh dari perempatan Taman Sari. Sementara di Pasar Lama Kota Serang, sudah tidak ada satupun.

Kondisi serupa terjadi di Pasar Rau. Di luar area pertokoan gedung pasar, hanya tersisa satu pedagang. Yakni di pertigaan Pasar Rau arah ke Sumur Pecung. Sementara di dalam gedung pasar, tersisa sekitar dua atau tiga pedagang.

Hal serupa juga terjadi di mal-mal Kota Serang. Jika sebelumnya di Giant Sempu dan Ramayana Serang ada pedagang CD, sekarang sudah tidak ada lagi.

Advertisement

Selain langka, harga keping CD bajakan saat ini lebih mahal. Untuk keping VCD misalnya, jika sebelumnya dijual Rp10.000 mendapatkan 3 atau 4 keping, saat ini harga menjadi Rp6.000 untuk satu keping saja. Untuk keping MP3, biasanya Rp8.000 saat ini menjadi Rp12.000. Sedangkan keping DVD biasanya Rp7.000 menjadi Rl10.000.

Selain lebih mahal, ketersediaan pilihannya pun lebih sedikit. Jika dulu, hampir semua album musik baru, film-film Korea, India, Thailand dan film kartun terbaru dan terpopuler gampang ditemukan, saat ini kebalikannya. Hanya penyanyi-penyanyi tertentu yang tersedia, misalnya Lesti Kejora.

Keping CD nasibnya serupa kaset. Pergeseran cara mendengarkan musik lewat digital membuat orang beralih tidak lagi menggunakan keping CD yang ribet. Di rumah-rumah sudah menggunakan cara paling simpel dengan mendengarkan Youtube, Spotify, Joox, dan sebagainya jika ingin menikmati musik. Kalaupun masih ada yang menggunakan keping CD, biasanya untuk di mobil.

Kondisi ini juga terjadi di berbagai penjuru daerah di Indonesia. Usaha penjualan cakram musik ini kiranya sudah di ujung senja. Tak bisa dipungkiri, internet dan teknologi digital telah menggeser paradigma musik secara global. Ring back tone (RBT) atau nada pesan lagu sebagai alternatif distribusi musik awal 2000-an menjadi penanda pergeseran tersebut.

Cara masyarakat menikmati musik pun telah berubah total. Situs-situs yang menawarkan pemutaran musik baik audio dan video kian menyemak saat ini.

Orang-orang mulai beralih, meninggalkan CD/VCD/DVD, dan sejenisnya. Pun demikian dengan toko-toko musik fisik yang menjualnya: tutup.

Usaha keping CD ini siap memasuki masa kadaluarsanya setelah melewati masa keemasannya. Seperti halnya warnet, wartel, sewa DVD VCD, dan toko kaset.

Setelah era CD berakhir, entah teknologi apa lagi yang akan menggeser keberadaan era internet? (Hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.