InspirasiYoungpreneur

Riza Rinaldi, Menciptakan Sesuatu Melalui Doing.nothing Project

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran saat mendengar istilah doing nothing? Tentunya tidak melakukan apapun kan. Tapi dengan brand ini, Reika Cindy Andita dan Riza Rinaldi mampu menghasilkan karya.

Doing.nothing adalah projek iseng yang awalnya tidak diniatkan sebagai pure bisnis, sesuai dengan namanya Doing.nothing. Berdiri sejak September 2017, konsep bisnis yang diterapkan Riza Rinaldi santai dan kalem.

Menurut alumni Untirta Jurusan Fisika ini, awal mula berdiri Doing.nothing belum mempunyai arah yang jelas. Sambil mencari jati diri dan seiring berjalannya waktu, akhirnya ditemukan konsep yang cocok.

Advertisement

“Kami mencoba menjual kaos untuk kalangan anak muda dengan kata-kata menyentil. Kemudian dibuat desain logo dan konsep dengan tagline ‘hidup terlalu bercanda buat diseriusin’,” tutur kelahiran Pandeglang, 27 November 1996 ini.

Sejak saat itu Doing.nothing project mulai announce kepada dunia bahwa ada local pride yang menjunjung asas doing nothing meski begitu kita menghasilkan karya.

Sebelumnya, Riza merupakan Human resource development di salah satu perusahaan manufacturing, wartawan di Radar Banten, dan logging development di perusahaan retail swasta di Kabupaten Tangerang.

Riza bilang, di awal usaha mereka langsung membuat kaos original dengan punya item asli yang hanya dijual di brand mereka. Setelah melihat perkembangan pasar, mereka membuat peruntungan di custom item. Awalnya di kaos lalu membuka pesananan di sweeter atau jaket. Lalu mulai merambah perlahan, akhirnya membuka pesananan custom di totebag, mug, tumblr, e-money card, dan case, yang dapat didesain bebas dengan gambar dan tulisan sesuai order.

Advertisement

Untuk cash on delivery Doing.nothing hanya menerima di wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang. Di luar daerah doing.nothing menerima pemesanan dengan menggunakan jasa kirim. Doing.nothing sering menerima order hingga luar daerah bahkan Jogja.

“Sebenarnya doingnothing project ini tidak hanya fokus pada bisnis. Sedang digarap artikel, podcast dan lainnya yang membahas seputar life, dari berbagai perspektif. Jadi kami berharap orientasi doing.nothing tidak hanya bisnis. Tapi juga mengenai anak muda. Karena olshop bukan fokus utama, tapi juga memberikan sedikit manfaat,” tutur alumni SMAN 1 Pandeglang ini.

Menurut Riza, ide ini lahir dari keresahan pribadi kedua founder-nya di mana banyak anak muda yang tersesat raga dan jiwanya. Doing.nothing mencoba mengambil peran di dunia remaja dan ikut terlibat, kemudian secara bersama-sama berkolaborasi untuk menjadi lebih baik.

“Karena kami founder-nya datang dari Gen Z, pemikirannya pun sama, banyak hal yang kami rasakan saat usia pubertas hingga menjelang 30 ini penuh pergolakan batin dan pertaruhan jiwa hal itu yang menjadi dorongan bagi kami untuk bisa berbagi hal dan menjadi acuan untuk generasi muda. Movement ini masih proses penggodogan, dan semoga rilis di pertengahan Februari ini,” tambah cowok yang pernah menjadi kru Zetizen Radar Banten.

Riza berharap, Doing.nothing semakin maju dan memiliki offline store kami juga ingin bisa tembus di event clothing, semoga dalam waktu dekat. Selain itu semoga doing.nothing lebih baik dan semakin konsisten dalam menggerakkan bisnis dan juga movement-nya, sesuai dengan taglinenya, hidup terlalu bercanda buat diseriusin, tapi jangan terlalu bercanda juga. (hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.