Perkuat Kemandirian Ekonomi, Baznas dan Pemprov Banten Cetak Santripreneur Melek Finansial

BISNISBANTEN.COM – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Banten bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten berkomitmen memperkuat ekosistem kemandirian ekonomi melalui program Santripreneur.
Langkah strategis ini bertujuan agar lulusan pesantren tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki mental kepemimpinan dan kewirausahaan yang tangguh.
Ketua Baznas Provinsi Banten Wawan Wahyuddin menjelaskan, bahwa pihaknya terus mendorong program pendidikan “Satu Keluarga Satu Sarjana” sebagai fondasi lahirnya pengusaha baru dan pemimpin pesantren.
“Ke depan kita akan ciptakan satu keluarga satu pengusaha sebagai wujud konkretnya. Saat ini, secara kuantitas sudah ada kurang lebih 100 orang yang lulus studi S1 melalui bantuan pendidikan kami yang tersebar di beberapa universitas,” ujar Wawan dikutip pada Sabtu (14/02/26).
Sejalan dengan visi tersebut, Pemprov Banten kini tengah memfasilitasi koordinasi antar lembaga keagamaan dan pendidikan. Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Banten, Tubagus Rubal, mengungkapkan pihaknya sedang menyiapkan payung hukum berupa Peraturan Gubernur (Pergub) terkait bantuan pendidikan.
“Kami sedang menyusun Pergub bantuan pendidikan untuk teman-teman santri yang sedang menyelesaikan semester akhir. Selain itu, kami juga menggagas program ‘Satu Desa Satu Sarjana’ sebagai bagian dari program Bangun Banten,” jelas Rubal.
Untuk tahap awal tahun ini, program tersebut ditargetkan menyasar sekitar 83 orang secara bertahap.
Penguatan kurikulum kewirausahaan di lingkungan pesantren juga mendapat dukungan penuh dari Ikatan Alumni UIN (IKALUIN) Jakarta wilayah Banten. Ketua IKALUIN Banten, Dr. Agus Syabarrudin, M.Si, menekankan pentingnya materi Leaderpreneur dan melek finansial bagi para santri.
Mengingat Banten menempati posisi ketiga nasional sebagai basis pesantren terbanyak, Agus menilai potensi ini harus dimaksimalkan dengan program yang aplikatif.
”Kita perkuat forum literasi di pondok pesantren. Santri diajarkan cara menganalisa potensi usaha di sekitar mereka, membuat proyek bisnis, hingga benar-benar merasakan pengalaman menjadi pengusaha,” kata Agus.
Ia menambahkan, poin krusial dari Santripreneur adalah pemahaman manajemen keuangan. “Santri harus melek finansial; tahu bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik agar usaha yang dirintis di lingkungan pesantren bisa berkelanjutan,” tutupnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, santri di Banten diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa dan berperan aktif dalam pembangunan daerah, bukan sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.(siska)









