Kasus Penyakit Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau di Kota Serang Turun, Dinkes Tetap Minta Warga Waspada

BISNISBANTEN.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang mencatat penurunan signifikan pada jumlah kasus penyakit terdampak erupsi Anak Gunung Krakatau selama empat hari terakhir, terhitung sejak 9 hingga 12 September 2026. Data tersebut dihimpun dari 16 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Kota Serang.
Kepala Dinkes Kota Serang, dr. H. Ahmad Hasanuddin yang biasa di panggil Hasan menjelaskan, bahwa terdapat tiga jenis penyakit utama yang memapar warga akibat dampak erupsi tersebut, yaitu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dermatitis (infeksi kulit), dan infeksi mata.
“Saya sampaikan di sini bahwasanya penyakit-penyakit yang berdampak adalah penyakit infeksi saluran pernapasan akut, kemudian infeksi berupa dermatitis atau penyakit kulit, dan yang satu lagi adalah infeksi yang mengenai mata,” ujar Ahmad Hasanuddin.
Berdasarkan pemantauan Dinkes Kota Serang, ketiga jenis penyakit tersebut menunjukkan tren penurunan yang bermakna hingga tanggal 12 September 2026.
Kasus ISPA pada 5 September 2026 tercatat sebanyak 190 kasus. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 339 kasus pada 7 September dan mencapai 381 kasus pada 8 September.
Kasus ISPA masih tercatat cukup tinggi pada 9 September sebanyak 313 kasus, kemudian turun menjadi 265 kasus pada 10 September, 226 kasus pada 11 September, dan 81 kasus pada 12 September.
“Data tersebut menunjukkan penurunan ISPA yang cukup signifikan. Alhamdulillah, sekali lagi cukup signifikan terutama pada tanggal 12 September tahun 2026,” tutur Hasan.
Selain penyakit pernapasan, Dinkes Kota Serang mengidentifikasi dua masalah kesehatan lain yang dialami warga selama rentang waktu tersebut, yaitu dermatitis (gangguan kulit) dan iritasi mata.
Kasus dermatitis tercatat 24 kasus pada 5 September, meningkat menjadi 43 kasus pada 7 September dan 41 kasus pada 8 September. Setelah itu, jumlahnya berangsur turun menjadi 38 kasus pada 9 September, 36 kasus pada 10 September, 31 kasus pada 11 September, dan 11 kasus pada 12 September.
“Terlihat penurunan kasus dermatitis atau keluhan penyakit kulit yang cukup bermakna dalam empat hari terakhir ini,” tambahnya.
Sementara kasus gangguan mata tercatat 9 kasus pada 5 September, kemudian meningkat menjadi 14 kasus pada 7 September dan 17 kasus pada 8 September. Angka tersebut sempat mencapai 23 kasus pada 10 September sebelum turun menjadi 13 kasus pada 11 September dan 4 kasus pada 12 September.
“Meskipun sempat terjadi peningkatan pada tanggal 10 September, secara keseluruhan data menunjukkan penurunan keluhan atau penyakit mata yang bermakna,” terangnya.
Meski tren kasus melandai, Hasan mengimbau warga Kota Serang agar tidak lengah dan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Dinkes Kota Serang mengeluarkan imbauan resmi bagi masyarakat yaitu gunakan masker saat beraktivitas, kurangi aktivitas di luar rumah, jaga kebersihan diri dan lingkungan, pakai pelindung mata (kacamata atau helm menutup rapat) saat bepergian atau berkendara, jangan menggosok mata jika terkena debu vulkanik, perbanyak konsumsi air putih.
“Bagi penderita penyakit kronis (terutama gangguan pernapasan) diimbau lebih berhati-hati dan menyiapkan obat-obatan rutin, dan segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan kesehatan,” ungkapnya.
Hasan menegaskan bahwa jajarannya bersama seluruh fasilitas kesehatan di Kota Serang akan terus bersiaga dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan di lapangan.
“Dinas Kesehatan Kota Serang bersama seluruh fasilitas kesehatan akan terus melakukan pemantauan dan surveillance kesehatan masyarakat serta berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait. Kami mengajak seluruh masyarakat Kota Serang untuk tetap tenang, tidak panik, tetap waspada, dan disiplin menjaga kesehatan,” tutup Hasan. (Siska)









