Harga Masker melonjak di Tengah Erupsi Anak Krakatau, Nana Mirdad Geram

BISNISBANTEN.COM — Nana Mirdad turut menyoroti melonjaknya harga masker di tengah kondisi erupsi Anak Gunung Krakatau. Seperti diketahui, erupsi tersebut berdampak hingga sejumlah wilayah Jawa Barat dan Jabodetabek yang mengalami imbas abu vulkanik. Kondisi itu membuat masyarakat berbondong-bondong membeli masker untuk melindungi diri.
Namun, meningkatnya permintaan masker disebut turut dimanfaatkan oleh sejumlah penjual untuk menaikkan harga secara drastis. Hal tersebut membuat Nana Mirdad geram dan menyampaikan kritiknya melalui akun Threads miliknya.
Nana menyoroti adanya masker yang sebelumnya dijual dengan harga sekitar Rp12 ribu, tetapi kemudian disebut mengalami kenaikan hingga Rp180 ribuan per buah. Menurutnya, kenaikan harga secara spontan ketika masyarakat sedang menghadapi bencana bukanlah tindakan yang pantas.
“Agak gila juga disaat rakyat banyak yang kesusahan liat brand penjual masker proper malah naikin harga jadi 180rb-an per biji. Sementara paginya masih dijual di harga 12rb aja,” ujarnya.
Nana juga mengaku mengetahui kisaran harga distributor masker N95 karena sang suami bekerja di perusahaan yang salah satu produknya adalah masker tersebut. Dengan begitu, ia merasa cukup mengetahui harga produk tersebut di tingkat distributor. “Kebetulan suami saya juga salah satu product list di perusahaannya adalah masker N95 jadi harga distributornya saya tau persis berapa,” tuturnya.
Menurut Nana, mengambil keuntungan dari tingginya kebutuhan masyarakat dalam situasi bencana merupakan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Ia pun mempertanyakan keputusan menaikkan harga secara mendadak ketika banyak orang justru sedang membutuhkan masker. “Mark up spontan kaya gini nggak berperikemanusiaan,” tulisnya.
Kritikan Nana tersebut kemudian mendapat perhatian dari warganet. Pernyataannya menjadi sorotan karena kenaikan harga kebutuhan yang berkaitan dengan keselamatan masyarakat memang dapat menimbulkan keresahan, terutama ketika terjadi kondisi darurat seperti bencana dan abu vulkanik. Nana pun mengingatkan bahwa kondisi bencana seharusnya menjadi momentum untuk saling membantu, bukan justru memanfaatkan kepanikan masyarakat untuk mendapatkan keuntungan besar.
(Sarah)









