Bank Banten Targetkan NPL Turun ke 3,5% di 2026, Fokus pada Restrukturisasi dan Penagihan Agresif

BISNISBANTEN.COM – PT Bank Pembangunan Daerah Banten (Perseroda) Tbk atau Bank Banten menetapkan target optimis untuk menurunkan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) hingga menyentuh angka 3,5 persen pada tahun 2026. Langkah ini akan ditempuh melalui kombinasi strategi penyelamatan kredit, penyelesaian aset, hingga penguatan kualitas ekspansi kredit baru.
Direktur Utama Bank Banten Muhammad Busthami mengungkapkan, bahwa manajemen telah memetakan portofolio NPL secara mendetail dan menyiapkan tiga mekanisme utama penyelesaian yang pertama penyelamatan kredit melalui restrukturisasi.
Bank Banten melakukan inventarisasi terhadap debitur yang dinilai masih memiliki prospek usaha. “Kita lihat portofolio mana yang masih bisa diselamatkan dengan restrukturisasi, baik itu melalui perpanjangan jangka waktu maupun penyesuaian suku bunga,” ujar Busthami.
Selain itu pihak bank juga tengah mengakselerasi penyelesaian masalah double financing yang mayoritas terjadi di kantor cabang luar Banten. Masalah ini melibatkan debitur dari kalangan ASN di pemerintah daerah setempat. Identifikasi telah dilakukan untuk mempercepat proses penyelesaian regulasi terkait penggajian (*payroll*) tersebut.
“Bagi portofolio yang dinilai sudah tidak layak untuk direstrukturisasi, Bank Banten akan mengambil langkah tegas. Kami akan lakukan eksekusi, mulai dari lelang, jual saham sukarela, skema cessie, hingga penyelesaian melalui jalur hukum,” tegasnya.
Untuk mendukung target tersebut, Busthami menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) dan pembenahan proses bisnis. Peningkatan skill teknis personel di lapangan diharapkan mampu memaksimalkan angka *recovery* (pemulihan aset) dalam jumlah yang lebih besar pada tahun ini.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Kepatuhan Bank Banten Eko Virgianto menambahkan, bahwa penurunan rasio NPL juga didorong oleh pertumbuhan ekspansi kredit yang berkualitas.
“Alhamdulillah, pemberian kredit komersial kita sejak 2023 hingga 2025 kemarin tidak ada satupun yang menjadi NPL. Meski kita agresif dalam ekspansi, kita tetap menekankan prinsip kehati-hatian (low risk),” kata Eko.
Ia merinci bahwa keberhasilan menekan NPL Gross dipengaruhi oleh dua sisi yaitu kenaikan penyaluran kredit yang berkualitas dan penurunan saldo kredit bermasalah (TKN).
Dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 32% dan pemetaan NPL yang sudah berjalan, manajemen meyakini tren positif ini akan berlanjut hingga mencapai target di tahun 2026.(siska)









