Ekonomi

Imbas Kenaikan Harga Kedelai, Produsen Tahu-Tempe di Serang Siasati Strategi Agar Bertahan

BISNISBANTEN.COM – Kenaikan harga kedelai yang terjadi fluktuatif sejak sebelum Lebaran Idul Fitri mulai berdampak pada rantai bisnis komoditas tahu dan tempe di Kota Serang.

Meski stok kedelai asal Amerika Serikat dan Kanada dipastikan aman dan tidak langka, para produsen harus memutar otak demi menyiasati biaya produksi yang membengkak.

Menariknya, di tengah tantangan ini, kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi angin segar sekaligus tantangan baru bagi perputaran modal mereka.

Bagi Maulana, seorang produsen tahu di Kota Serang, kenaikan harga kedelai sekitar Rp100 hingga Rp200 per kilogram tampaknya kecil. Namun, angka ini menjadi sangat terasa bagi rumah produksinya yang mengolah hingga 1 ton kedelai per hari.

“Dari harga Rp11.000 per kilo sekarang jadi Rp11.200. Walaupun cuma 200 perak, kalau dikalikan 1 ton sehari kan lumayan terasa,” ujar Maulana saat ditemui di rumah produksi tahu pada Selasa (09/06/26).

Untuk menyiasati hal ini, Maulana memilih untuk menaikkan harga jual per papan ketimbang memperkecil ukuran tahu, demi menjaga kualitas dan menghindari komplain konsumen.

Saat ini harga tahu (baik tahu putih maupun tahu goreng) naik menjadi Rp50.000 per papan, dari yang sebelumnya berkisar antara Rp45.000 hingga Rp47.000.

“Kenaikan harga per papan dan disusul naiknya harga plastik pembungkus membuat pedagang eceran di pasar ikut menyesuaikan harga jual ke konsumen (misalnya, dari paket Rp10.000 menjadi Rp11.000),” terang Maulana.

Produksi harian mencapai ratusan papan tahu dan didistribusikan lancar ke sejumlah pasar di Serang, seperti Pasar Rau, Pasar Ciruas, Pasar Lama, Pasar Pandean, dan Pasar Karangantu.

“Kita kirimnya ke pasar kota serang aja, untuk daerah kabuoaten Serang kita hanya kirim ke pasar Ciruas aja,” tuturnya.

Berbeda dengan produk tahu, Wiryono, seorang produsen tempe di wilayah yang sama, memilih strategi yang bertolak belakang. Menyadari bahwa menaikkan harga jual tempe ke pedagang keliling sangat sulit, ia memilih untuk sedikit mengurangi volume produk.

“Kalau dinaikin harganya susah, kasihan yang keliling pada kesulitan. Jadi solusinya paling ditiper/dinipisin dikit ukurannya,” ungkap Wiryono.

Wiryono juga mengatakan rata-rata memproduksi sekitar 600 hingga 900 bungkus tempe per hari (pernah mencapai 1.600 tempe atau setara 2,5 kuintal saat tenaga kerja memadai). Harga jual tetap stabil di angka Rp4.000 untuk kemasan plastik dan Rp3.000 untuk kemasan daun.

“Kalau proses pembuatan tempe butuh waktu sekitar 4 hari, mulai dari perebusan awal. Kita jual Tempe ke Pasar Rau, pedagang sayur keliling, dan ke dapur umum,” tambahnya.

Di tengah fluktuasi harga bahan baku, para produsen tahu dan tempe di Serang mengaku sangat terbantu dengan adanya permintaan dari dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Permintaan pasar diakui tetap stabil bahkan meningkat berkat program ini.

Meski permintaan tinggi, Wiryono mengakui ada tantangan dalam sistem pembayaran. “Sebenarnya sangat kebantu dengan adanya dapur MBG, cuma proses perputaran uangnya ada yang sistem ambil dulu baru bayar (tempo 3 hari sampai seminggu), meski ada juga yang bayar cash,” jelasnya.

Hingga saat ini, para pengrajin tahu dan tempe di Provinsi Banten dipastikan masih bergantung 100 persen pada kedelai impor. Menurut Maulana, program-program swasembada kedelai lokal dari pemerintah belum sepenuhnya terealisasi di tingkat pengrajin daerah.

“Dulu ada program Pajale (Padi-Jagung-Kedelai) dari Kementerian Pertanian, tapi sampai ke tingkat Gubernur Banten sepertinya belum ada kelanjutannya ke sini. Jadi, kami memang masih mengandalkan impor,” pungkas Maulana.(siska)

bisnisbanten.com