Banten24

Strategi Pemkot Serang Kendalikan Inflasi: Dari Pantauan Harga Beras hingga Antisipasi Program MBG

BISNISBANTEN.COM Pemerintah Kota (Pemkot) Serang terus memperkuat langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi di wilayahnya. Fokus utama saat ini tertuju pada beberapa komoditas pokok, terutama beras, meskipun stok dipastikan masih dalam kondisi aman.

Asisten Daerah (Asda) II Kota Serang Yudi Suryadi mengungkapkan, bahwa langkah-langkah yang diambil didasarkan pada hasil rapat evaluasi rutin pengendalian inflasi. Menurutnya, pemerintah telah mengaktifkan berbagai instrumen untuk merespons dinamika harga di masyarakat.

“Ini salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan supaya tetap terkendali,” ujar Yudi Suryadi menjelaskan rangkaian program seperti Gerakan Pangan Murah (GPM), subsidi pangan, hingga monitoring intensif di pasar-pasar tradisional.

Advertisement

Salah satu perhatian serius Yudi adalah komoditas beras. Walaupun pihak Bulog serta Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan menyebut stok aman, fluktuasi harga tetap diwaspadai karena masa panen mulai berakhir.

“Masyarakat biasanya masih menginginkan beras hasil panen. Sementara beras SPHP merupakan beras tahun sebelumnya,” kata Yudi menjelaskan alasan mengapa harga di tingkat pasar tetap perlu dipantau ketat. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga beras, sekecil apa pun, akan sangat berdampak pada pengeluaran warga.

Selain beras, Yudi juga menyoroti potensi kenaikan permintaan pada gula pasir dan daging ayam. Khusus untuk daging ayam, peningkatan permintaan diprediksi terjadi seiring dengan mulai beroperasinya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan data inflasi month to month (mtm), Yudi memaparkan beberapa komoditas unik yang memberi tekanan harga di Kota Serang, seperti ketimun, jengkol, sigaret, hingga kenaikan harga BBM. Sementara secara year on year (yoy), komoditas seperti emas, bensin, dan telepon seluler turut memberikan kontribusi.

Terkait masuknya telepon seluler sebagai penyumbang inflasi, Yudi menilai hal ini dipicu oleh gaya hidup dan kebutuhan masyarakat yang meningkat. “Banyak orang mungkin membeli telepon baru atau mengganti. Kebutuhan per orang terhadap telepon seluler meningkat, sehingga permintaannya juga banyak,” jelasnya.

Di tengah upaya menekan kenaikan harga, Yudi membawa kabar baik mengenai beberapa komoditas dapur lainnya yang justru mengalami penurunan harga atau deflasi.

“Kalau cabai malah kita minus. Cabai merah minus, bawang merah minus,” ungkap Yudi. Sementara itu, harga telur ayam dilaporkan masih berada dalam kondisi yang relatif stabil hingga saat ini.

Sebagai strategi jangka panjang, Pemkot Serang akan terus memperkuat koordinasi antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan memperluas kerja sama antardaerah (KAD), terutama dengan wilayah penghasil pangan. Hal ini penting agar rantai pasok tetap terjaga dan gejolak harga dapat diantisipasi lebih dini.

Menurut Yudi, langkah-langkah proaktif ini sangat krusial karena stabilitas harga bukan hanya soal angka inflasi, melainkan tentang menjaga daya beli masyarakat di Kota Serang. (Siska)

bisnisbanten.com