Info Bisnis

Siapa Bilang Kartu Lebaran Tidak Lagi Diperjualbelikan?

BISNISBANTEN.COM — Dulu, di era 1990-an kartu Lebaran berisi selamat mengucapkan hari raya dan bermaaf-maafan booming diperjualbelikan. Maklumlah, teknologi komunikasi saat itu baru mengandalkan telepon umum dan telegram. Jadi, korespondensi masih menjadi budaya populer di kalangan masyarakat.

Nah, saat telepon pintar dan internet menjadi budaya populer saat ini penggunaan kartu ucapan Lebaran tidak terlalu dominan dipakai. Durasi pengiriman kartu lebaran yang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan fasilitas lain dari berbagai aplikasi komunikasi yang ada saat ini.

Ini juga menjadikan kartu lebaran susah dicari. Jika dahulu kartu lebaran gampang ditemukan karena dijual di toko, minimarket, supermarket, saat ini justru sebaliknya. Tapi jangan khawatir, bagi Anda yang ingin bernostalgia dengan kartu lebaran, bisa mendapatkan di Lotte Grosir Serang.

Advertisement

Kartu-kartu lebaran produksi Capricorn ini dijual secara paket dan satuan. Harga dan desain pun beragam. Mulai dari Rp7.500 sampai Rp68.500. Desainnya ada yang hanya tulisan, ada juga gambar kartun, masjid, dan panorama alam. Ukurannya pun beragam. Dari yang kecil sampai yang besar.

Sejarah
Sebenarnya kebiasaan mengirim ucapan sudah dikenal sejak 4.000 tahun yang lalu oleh bangsa Mesir. Orang Mesir mengirimkan “scarabs” atau bebatuan berharga berbentuk kumbang. Sedangkan pada orang Romawi, saling bertukar buah-buahan kering dan madu maupun lempung bakar yang merupakan simbol kesehatan dan kemauan yang baik.

Kartu ucapan kemudian dipelopori oleh John Calcott Horsley yang merupakan seorang seniman asal London. Pada 1843 ia membuat kartu Natal pertama. Sebuah ucapan yang ia tulis adalah “A Merry Christmas and A Happy New Year to You” yang kemudian kalimat tersebut menjadi terkenal hingga kini. Pada 1880, kartu Natal dijadikan bisnis besar dan memberikan peluang untuk seniman.

Advertisement

Kebiasaan berkirim kartu ucapan juga tidak bisa lepas dari perkembangan kartu pos yang pada awalnya merupakan ide dari Heinrich von Stephan yang berasal dari Jerman pada tahun 1865, walau kemudian Dr Emmanuel Hermann yang diakui sebagai pencetus kartu pos.

Di 1871 Belanda mulai mengadopsi briefkaart (kartu pos) namun tanpa gambar, kemudian disusul Hindia Belanda. Baru pada 1893 muncul kartu pos bergambar pertama di Batavia. Gambar pada kartu pos pada masa awal itu umumnya bergambar keeksotisan alam Hindia Belanda.

Untuk kartu lebaran, sulit menentukan kapan mulai digunakan. Walaupun populer di kalangan terbatas, penggunaan kartu lebaran juga sempat dikenal di Hindia Belanda. Sebagian umat Islam menganggap kartu Lebaran bukan tradisi Islam. Tradisi di sejumlah daerah di Indonesia tak mendukung popularitas kartu Lebaran.

Sejaarawan JJ Rizal dalam “Menemukan Makna Tradisi Lebaran”, Tempo, 5 November 2006, menjelaska, kartu Lebaran kali pertama beredar pada 1927. Pada masa kependudukan Belanda, gambar pada kartu lebaran bergambar orang berperahu sembari mengibarkan bendera Belanda sesuai dengan kondisi sosial pada zaman itu.

Dua tahun kemudian, ketika krisis melanda dunia, Idulfitri dijadikan momentum politis. “Sebagai simbolisasi harapan-harapan itu, rakyat mengganti kartu Lebaran yang beredar pertama kali tahun 1927 dengan gambar orang berperahu sambil mengibarkan bendera Belanda dengan desain baru yang lebih sesuai dengan semangat zaman,” tulis Rizal.

Penggunaan kartu Lebaran juga dikenal di Hindia Belanda secara terbatas. Pada 1918, sebuah kartu Lebaran dibuat oleh Singer Sewing Machine Co. Isinya, selain ucapan selamat Lebaran, juga peringatan kepada para peminjam mesin jahit agar menyimpan uang untuk membayar sewa mesin jahit bulan Juli dan Agustus 1918.

Di masa pendudukan Jepang, kartu Lebaran juga dipakai penguasa militer untuk kepentingan politis, yakni merangkul umat Islam demi tujuan perangnya. Tak heran jika penguasa memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk saling mengirim karcis Lebaran, sebutan untuk kartu saat itu.

“Mulai sekarang telah diperkenankan oleh Djawatan Pos untuk mengirimkan kartu Lebaran dengan tak memakan batas. Pengiriman dengan menerangkan alamat yang lengkap di dalam amplop. Adapun ongkos pengiriman seperti biasa, dua sen,” tulis Tjahaja, 18 September 1943.

“Akhirnya diperingatkan kepada umum bahwa pada sampul-sampul karcis-karcis Lebaran pun harus ditulis juga nama dan alamat si pengirim dengan lengkap dan terang,” tulis Soeara Asia, 23 September 1943.

Setahun kemudian, kembali penguasa militer memanfaatkan momen Idulfitri untuk mendapat dukungan dari umat Islam di tanah air. Pada 7 September 1944, dalam Sidang Istimewa ke-85 Teikoku Ginkai (Parlemen Jepang), Perdana Menteri Koiso mengumumkan bahwa Hindia Timur (Indonesia) akan merdeka di kemudian hari.

Janji itu juga tercermin dalam kartu Lebaran. Selain berisi ucapan “Selamat Idul Fitri”, karcis lebaran rata-rata disertai salam “Indonesia Merdeka”.

“Slogan ‘Indonesia Merdeka’ itu ibarat obat mujarab bagi bangsa Indonesia yang menderita selama dijajah Belanda. Kita harus memakainya dengan baik-baik sesuai dengan petunjuk dan resep dokternya, yaitu Dai Nippon.

Yang tidak dapat ditawar lagi ialah kita harus berani dan ikhlas berkorban untuk mencapai Indonesia merdeka itu dengan berjuang mati-matian bersama Dai Nippon dalam perang Asia Timur Raya ini. Dai Nippon menang, Indonesia pasti merdeka!” tulis Tjahaja, 22 September 1944.

Politisasi kartu Lebaran juga terjadi pada masa Orde Baru. Pada 1997, Ketua Umum Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) Sri-Bintang Pamungkas membuat kartu Lebaran berisi agenda politik PUDI yang menentang rezim Soeharto. Penguasa menganggap Bintang melakukan makar. Bintang pun menghuni LP Cipinang.

Hingga pengujung 1990-an, kartu Lebaran masih diminati hingga posisinya mulai tergantikan oleh internet dan ponsel. Kantor Pos pun mesti tertatih-tatih mempertahankan keberadaan kartu Lebaran, termasuk dengan membagikannya secara gratis. (hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.