Minum Teh Setelah Makan? Kebiasaan Sepele Yang Bisa Menghambat Penyerapan Zat Besi
BISNISBANTEN.COM – Minum teh setelah makan terasa seperti kebiasaan yang tidak perlu dipikir panjang. Rasanya segar, apalagi setelah menyantap makanan berat. Namun, justru kebiasaan kecil seperti inilah yang sering luput dari perhatian. Padahal, dampaknya cukup besar bagi kesehatan, terutama dalam penyerapan zat besi.
Teh mengandung senyawa alami seperti tanin dan polifenol. Senyawa ini berkaitan dengan zat besi, khususnya zat besi non-heme yang berasal dari sumber nabati seperti bayam, kangkung, kacang-kacangan, tahu, dan tempe. Ketika teh diminum bersamaan atau terlalu dekat dengan waktu makan, maka zat besi menjadi lebih sulit diserap di usus. Artinya, walaupun seseorang sudah makan sayur atau sumber zat besi lain, tubuh belum tentu mendapatkan manfaat optimal jika langsung disertai teh.
Zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin (Hb) atau bagian dari sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Jika kadar Hb rendah akibat kekurangan zat besi, terjadilah anemia defisiensi besi. Gejalanya sering dianggap sepele, yakni mudah lelah, pusing, pucat, sulit fokus dan bahkan mengantuk. Itulah yang membuat anemia berbahaya karena sering tidak disadari sejak awal.
Remaja putri merupakan kelompok yang paling rentan. Selain sedang dalam masa pertumbuhan, mereka juga mengalami menstruasi setiap bulan yang meningkatkan kebutuhan zat besi. Jika pola makan kurang beragam dan kebiasaan minum teh setelah makan terus dilakukan, maka risiko gangguan penyerapan zat besi menjadi lebih besar.
Yang sering dilupakan, interaksi itu tidak hanya terjadi pada makanan sehari-hari, tetapi juga ketika mengonsumsi Suplemen Tablet Tambah Darah (TTD).
Teh dan kopi sama-sama dapat menurunkan penyerapan zat besi non-heme. Sebaliknya, vitamin C justru membantu meningkatkan penyerapannya. Maka dari itu, pendekatan terbaik bukan melarang teh, melainkan mengatur waktu konsumsinya. Memberi jeda sekitar 1 sampai 2 jam setelah makan sebelum minum teh merupakan langkah sederhana, namun berdampak besar.
Mengonsumsi buah seperti jeruk, jambu biji, atau tomat bersama makanan juga membantu tubuh menyerap zat besi lebih optimal. Upaya pencegahan anemia tentu tidak bisa hanya bergantung pada perubahan perilaku individu, tetapi dibutuhkan dukungan sistem dan kebijakan yang konsisten. Dalam hal ini, langkah yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang sebagai bentuk komitmen yang patut diapresiasi.
Melalui Program Aksi Bergizi, dimana berbagai kegiatan dilakukan di sekolah, seperti edukasi gizi seimbang, aktivitas fisik bersama, pemeriksaan kesehatan, serta pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin kepada remaja putri. Program itu dinilai sangat strategis, karena menyasar remaja pada fase penting pertumbuhan. Namun, efektivitasnya tentu bergantung pada pemahaman yang benar tentang cara konsumsi zat besi. Jika remaja sudah minum TTD tetapi tetap langsung minum teh setelahnya, maka manfaatnya bisa berkurang.
Untuk memperkuat pesan kesehatan, dibentuk pula kader sebaya Yuk Jaim (Yuk Jadi Remaja Anti Anemia) di setiap SMP dan SMA. Kader ini berperan sebagai pengingat, penyampai informasi, sekaligus teladan dalam praktik gizi sehat. Pendekatan sebaya itu lebih efektif, karena remaja cenderung lebih terbuka terhadap informasi yang disampaikan oleh teman seusianya.
Pada akhirnya, anemia bukan hanya soal nilai Hb, tetapi soal kualitas generasi muda. Perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil, termasuk keputusan sederhana seperti tidak langsung minum teh setelah makan. Jika kesadaran individu berjalan seiring dengan dukungan program pemerintah, maka upaya pencegahan anemia akan menjadi gerakan bersama berkelanjutan.
Penulis:
Muhammad Dary Amjad
Dietsien Universitas Esa Unggul
Editor: Nizar
Daftar Pustaka
Ahmad Fuzi, S. F., Koller, D., Bruggraber, S., Pereira, D. I., Dainty, J. R., & Mushtaq, S. (2017). A 1-h time interval between a meal containing iron and consumption of tea attenuates the inhibitory effects on iron absorption: a controlled trial in a cohort of healthy UK women using a stable iron isotope. The American journal of clinical nutrition, 106(6), 1413-1421.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri dan wanita usia subur. Kementerian Kesehatan RI.
Piskin, E., Cianciosi, D., Gulec, S., Tomas, M., & Capanoglu, E. (2022). Iron absorption: factors, limitations, and improvement methods. ACS omega, 7(24), 20441-20456.
Sanjiwani, P. A., Pratiwi, D., & Sitorus, N. L. (2025). IRON ABSORPTION; NATURE, AND NURTURE INTERACTIONS. Journal of Indonesian Specialized Nutrition, 3(1), 46-61.
World Health Organization. (2020). WHO guideline on use of ferritin concentrations to assess iron status in individuals and populations. WHO.
World Health Organization. (2023). Anaemia in women and children: Global health estimates. WHO.









