Kuliner

Berawal dari Modal Rp350 Ribu, Chef Ranu Sukses Sulap Buras “Kampung” Beromset Rp30 Juta per Bulan

BISNISBANTEN.COM — Perjalanan membangun bisnis kuliner tak selalu membutuhkan modal besar. Hal tersebut dibuktikan oleh Chef Ranu Visuda, pemilik usaha olahan buras dan arem-arem tradisional yang sukses mencatatkan omset hingga Rp30 juta per bulan, berawal dari modal nekat sebesar Rp350.000 dan peralatan masak seadanya.

Kunci sukses Chef Ranu terletak pada inovasi kemasan (cover) dan konsistensi rasa yang mengubah citra jajanan pasar menjadi produk bernilai jual tinggi.

“Melihat buras dari satuannya itu kan seperti Rp1.000 sampai Rp2.000. Tapi begitu di-cover (dikemas rapi), harganya jadi Rp5.000. Saya ingin memperjuangkan, mengangkat produk ‘kampungan’ menjadi produk yang orang kota juga mau makan,” ujar Chef Ranu, Senin (05/10/26).

Advertisement

Di awal perjalanannya pada pertengahan 2025, Chef Ranu tak malu untuk memasarkan produknya secara langsung dari pintu ke pintu (door to door) serta mendatangi kantor-kantor di wilayah Banten. Meskipun sempat diragukan oleh rekan-rekannya, langkah tersebut justru menjadi batu loncatan.

Strategi pemasaran berbuah manis ketika produknya berhasil masuk ke kantin rumah sakit besar seperti RS Sari Asih hingga RSUD Banten. Di RS Sari Asih saja, penjualan buras bisa mencapai 250 hingga 300 porsi per hari, dengan rata-rata omset mingguan menyentuh Rp8 juta hingga Rp10 juta.

“Awalnya door to door cuma dua minggu. Habis itu langsung ngirim ke rumah sakit. Bahkan banyak testimoni pengunjung datang ke rumah sakit bukan untuk berobat, tapi pengen beli buras. Penjualan tiap harinya bisa 250 sampai 300 porsi khusus buras doang,” ungkapnya.

Memasuki tahun kedua usahanya, Chef Ranu tetap mempertahankan prinsip tanpa utang modal. Seluruh pengembangan usaha dan pembelian peralatan dilakukan murni dari hasil keuntungan penjualan.

Di tengah kondisi ekonomi dan kenaikan harga bahan pokok seperti beras, daging, dan ayam, ia memilih untuk menekan margin keuntungan ketimbang mengurangi porsi atau menaikkan harga jual kepada konsumen.

“Dalam kondisi beras naik, daging naik, ayam naik, kita harga tetap dan porsi tidak dikecilin. Berarti marginnya yang dikurangi. Biarpun untung berkurang, yang penting konsisten,” jelas Chef Ranu.

Keunggulan buras dan arem-arem buatan Chef Ranu terletak pada standar kerapian dan higienitas produksi. Memiliki 6 varian, mulai dari isi ayam kecap, sayuran, hingga daging sapi seluruh bahan ditimbang secara presisi sebelum dikemas.

Proses pembuatannya memakan waktu hingga 10 jam, mulai dari perendaman beras, pembuatan aron, penimbangan, pengisian, hingga pengukusan selama 3 jam.

“Ini pekerjaan yang cukup ribet, tidak seperti di rumah yang pakai feeling. Semua bahan ditimbang satu-satu, diisi, dikemas, baru dikukus 3 jam. Proses dari awal sampai selesai itu bisa 10 jam. Setelah dingin jam 3 pagi baru dipasang label dan siap didistribusikan,” paparnya.

Kini, dengan tim penjualan mandiri dan jaringan distribusi yang terus berkembang hingga ke ajang bazar di Jakarta dan Tangerang, Chef Ranu membuktikan bahwa kuliner tradisional Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar jika dikelola secara profesional dan penuh ketekunan. (Siska)

bisnisbanten.com