Bersikap Tawadhu

Bismillah
Saudaraku Fillah.
Bersikap tawadhu atau rendah hati kepada orang lain merupakan salah satu tuntunan ajaran pokok dalam Islam. Rasululloh SAW menjadi contoh sikap tawadhu dalam menjalani kehidupan bermasyarakat Nabi SAW selalu mengedepankan sikap rendah hati kepada siapapun tanpa memandang status sosial, ras, dan golongan.
Ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaih al-Ibad (Nasihat-nasihat kepada para hamba) menjelaskan, dengan menukil ungkapan dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani radliyallahu ‘anh sebagaimana berikut:
Jika kamu bertemu salah seorang, maka pandanglah bahwa dia memiliki keutamaan dibandingkan dirimu, dan (tanamkan dalam hatimu) katakan bahwa bisa jadi menurut Allah, dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya dibandingkan diri sendiri
Jika melihat orang yang lebih muda, maka katakan bahwa dia tidak (belum) melakukan dosa kepada Allah, sementara saya telah melakukan dosa kepada-Nya, maka tidak dapat dibantah lagi bahwa dia lebih baik daripada saya.
Jika melihat orang yang lebih tua (umurnya), maka katakan bahwa dia telah lebih dulu beribadah kepada Allah dibandingkan saya.
Jika melihat orang alim, maka katakan bahwa dia telah berkonstribusi dengan ilmunya sedang saya belum mampu melakukannya dan dia mendapatkan apa yang belum saya capai dan mengetahui apa yang tidak saya ketahui dan dia mengamalkan ilmunya.
Jika melihat orang bodoh, maka katakan bahwa dia melakukan dosa kepada Allah karena kebodohannya, sementara saya melakukan dosa dalam keadaan sadar, saya tidak tahu bagaimana kelak saya berakhir atau bagaimana dia berakhir?
Jika melihat orang kafir, maka katakan saya tidak tahu barangkali ia masuk Islam dan berakhir dengan amal yang baik dan barangkali saya jadi kafir dan berakhir dengan amal yang buruk.
Tawadhu ini adalah lawan dari sifat sombong. Maka, umat muslim yang mempraktikannya seharusnya tidak pernah terbesit sedikitpun di dalam hatinya untuk sombong dan merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Itu karena orang yang berakhlak Tawadhu sepenuhnya menyadari bahwa semua kenikmatan dan kejayaan yang diperoleh itu bersumber dari Allah SWT.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq
Oleh: Ustadz H Dedi S Al Ghifary SPd.I
Ketua MT An Nahl Cendekia dan Praktisi Dakwah Kota Serang, Banten