Digitalisasi Pembayaran di Banten Melejit, Tangerang Raya Dominasi 80 Persen Transaksi

BISNISBANTEN.COM – Tren digitalisasi sistem pembayaran di Provinsi Banten menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Banten mencatat bahwa penggunaan instrumen pembayaran digital, terutama QRIS, kini bukan lagi menjadi gaya hidup eksklusif, melainkan kebutuhan dasar masyarakat di berbagai wilayah Banten.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Agus Sumirat mengungkapkan, bahwa meskipun arus kas (tunai) di Banten cenderung fluktuatif, minat masyarakat terhadap transaksi non-tunai terus meroket. Berdasarkan data terbaru hingga triwulan pertama 2026, sektor perbankan digital menunjukkan performa yang kuat.
Dalam penjelasannya, Agus menyoroti bahwa pertumbuhan digitalisasi perbankan di Banten masih berpusat di wilayah Tangerang Raya. Wilayah ini menyumbang porsi besar dalam statistik pertumbuhan ekonomi digital di Tanah Air..
“Dominasi peningkatan digitalisasi sistem pembayaran, khususnya perbankan, ada di wilayah Tangerang Raya. Kontribusinya mencapai sekitar 70 persen hingga 80 persen dalam mendominasi pertumbuhan pembayaran melalui rekening digital di Provinsi Banten,” ujar Agus dikutip pada Selasa (12/05/26).
Bank Indonesia menetapkan tiga indikator utama untuk pencapaian digitalisasi pada tahun 2026, yaitu jumlah pengguna, jumlah merchant, dan volume transaksi.
“Hingga triwulan pertama 2026, Alhamdulillah pencapaian target di Banten menunjukkan angka yang menggembirakan. Di triwulan pertama kita di Banten mencapai target untuk pengguna dan merchant itu sudah di atas 70 persen. Mudah-mudahan sampai akhir tahun bisa di atas 120 persen,” ungkap Agus.
Sementara untuk volume transaksi saat ini berada di angka 27. Meski terlihat rendah dibanding jumlah pengguna, Agus optimis target volume akan terlampaui di akhir tahun seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kami optimis di akhir tahun volume transaksi QRIS bisa melampaui target. Saat ini transaksi digital sudah bukan hal eksklusif lagi, masyarakat sudah terbiasa menggunakannya dalam transaksi harian,” tambahnya.
Fenomena menarik terjadi pada instrumen pembayaran konvensional. Penggunaan mesin ATM tercatat masih mengalami kontraksi hingga negatif 11,45 persen. Hal ini berbanding terbalik dengan penggunaan kartu kredit, uang elektronik, dan QRIS yang terus merangkak naik secara nominal.
Meskipun digitalisasi melaju kencang, Agus tidak menampik adanya kendala di lapangan, terutama terkait infrastruktur komunikasi.
“Memang di beberapa daerah masih ada kendala sinyal, namun itu bersifat minoritas. Pertumbuhan di wilayah perkotaan seperti Tangerang Raya sangat membantu mengangkat rata-rata pencapaian Provinsi Banten secara keseluruhan,” jelasnya.
Agus menekankan bahwa penggunaan QRIS telah merambah ke berbagai lapisan masyarakat. Kendala teknis seperti gangguan sinyal memang masih ditemukan di beberapa titik, namun hal tersebut dikategorikan sebagai masalah minoritas yang tidak menghambat laju digitalisasi secara umum.
“Transaksi digital, terutama QRIS, sudah bukan hal yang eksklusif lagi. Semua orang sudah menggunakannya. Kami optimis di akhir tahun pencapaian volume transaksi bisa di atas 120% dari target yang ditetapkan,” tambahnya.
Dengan performa yang kuat di Tangerang Raya sebagai motor penggerak, Bank Indonesia yakin Provinsi Banten dapat menjadi salah satu pionir transformasi digital sistem keuangan di Indonesia pada tahun 2026 mendatang.(siska









