Keuangan

Dolar AS Tembus Rp17.400, Ini Perjalanan dan Faktor Pendorongnya

BISNISBANTEN.COM —  Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS. Angka ini menjadi salah satu level tertinggi dalam sejarah pelemahan rupiah dan mencerminkan kuatnya tekanan global serta dinamika domestik yang memengaruhi pasar keuangan.

Perjalanan dolar AS hingga mencapai level tersebut tidak terjadi secara instan. Dalam beberapa tahun terakhir, mata uang Negeri Paman Sam memang menunjukkan tren penguatan, terutama sejak kebijakan moneter ketat yang ditempuh oleh Federal Reserve. Kenaikan suku bunga acuan secara agresif dilakukan untuk menekan inflasi di AS, yang berdampak pada meningkatnya daya tarik aset berbasis dolar.

Sejak 2022, dolar AS mulai menguat signifikan terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah. Saat itu, rupiah masih berada di kisaran Rp14.000–Rp15.000 per dolar AS. Namun, tekanan mulai meningkat seiring lonjakan inflasi global dan ketidakpastian ekonomi akibat konflik geopolitik seperti Perang Rusia-Ukraina yang mendorong harga energi dan pangan.

Memasuki 2024 hingga 2026, penguatan dolar semakin solid. Hal ini didorong oleh ketahanan ekonomi AS yang relatif lebih baik dibandingkan negara lain, serta aliran modal global yang kembali ke aset safe haven. Investor cenderung menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh kebutuhan impor yang tinggi, terutama untuk energi dan bahan baku industri. Selain itu, defisit neraca transaksi berjalan serta sentimen pasar terhadap stabilitas global turut memperburuk kondisi.

Pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia telah mengambil berbagai langkah untuk menahan pelemahan rupiah. Intervensi di pasar valuta asing, penguatan cadangan devisa, hingga penyesuaian suku bunga menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas.

Meski demikian, para analis menilai bahwa level Rp17.400 mencerminkan kombinasi faktor global yang sangat kuat, bukan semata persoalan fundamental domestik. Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga global, kondisi ekonomi AS, serta stabilitas geopolitik dunia.

Dengan kondisi ini, pelaku usaha dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi kenaikan harga barang impor dan tekanan inflasi yang dapat mengikuti pelemahan nilai tukar rupiah.

bisnisbanten.com