Ratusan Rumah di Binuang Terendam Banjir, Warga Minta Normalisasi Sungai Cidurian

BISNISBANTEN.COM – Sebanyak 986 rumah di tujuh Desa Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Banten terendam banjir terhitung sejak 25 Januari 2026 akibat luapan air Sungai Cidurian setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Atas kondisi itu, aktivitas warga di tujuh Desa itu terhambat.
Warga pun meminta Pemerintah Pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3) agar segera melakukan normalisasi Sungai Cidurian yang dinilai sudah mengalami pendangkalan dan membangun tanggul untuk menahan air mengantisipasi banjir susulan.
Camat Binuang Mamak Abror mengatakan, wilayahnya merupakan langganan banjir dan kerap terjadi setiap awal dan akhir tahun. Kata Abror, selama musim hujan sejak Januari permukiman di wilayahnya terendam banjir akibat tingginya curah hujan sehingga air Sungai Cidurian yang hulunya dari wilayah Bogor Jawa Barat meluap.
“Jadi ada tujuh desa yang terdampak banjir sehingga warga harus mengungsi ke tempat lebih aman,” ungkap mantan Kabag Kesra Setda Pemkab Serang ini.
Abror menyebutkan, ketujuh desa yang terendam banjir itu, meliputi Desa Gambor sebanyak 173 rumah yang terendam, Desa Cakung 241 rumah, Desa Renged 406 rumah
Desa Lamaran 14 rumah, Desa Warakas 46 rumah, Desa Suka Mampur 30 rumah, dan Desa Binuang 76 rumah, sehingga total ada 986 rumah yang terendam dengan ketinggian air ada yang mencapai sepinggang orang dewasa. Pihaknya, ditegaskan Abror, sudah melakukan langkah penanganan, yakni berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Sosial (Dinsos), dan instansi terkait lainnya untuk mencari solusi pencegahan.
“Alhamdulillah kami bersinergi memberikan pelayanan kepada warga terdampak banjir,” ucap mantan Sekmat Kramatwatu ini.
Bantuan, diungkapkan Abror, dimulai dari evakuasi korban oleh BPBD, pendirian tenda-tenda darurat dari BPBD dan PMI, menerjunkan petugas kesehatan karena dampak banjir menyebabkan sebagian warga mengalami gatal-gatal, demam, dan penyakit lain sebagainya. Tidak hanya itu, pihaknya juga menurunkan alat sedot air atau Alkon dari Damkar Jawilan dan Mako BPBD Kota Serang. Abror menilai, bantuan tiga mesin sedot air sangat efektif membantu mengurangi rendam air di wilayah terdampak banjir.
Tidak sampai di situ, kata Abror, bantuan juga datang dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) yang memberikan pelayanan kepengurusan administrasi kependudukan (adminduk) secara jemput bola di beberapa desa untuk warga yang ingin mengurus BPJS maupun melamar kerja, dimana banyak dokumen kependudukan warga banyak yang rusak atau hilang akibat banjir. Warganya juga, lanjut Abror, mendapatkan bantuan sembako dan tas sekolah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) yang juga mendatangkan ahli untuk trauma healing, terutama kepada anak-anak.
Bantuan juga, lanjut Abror, datang dari organisasi seperti Dharma Wanita Persatuan (DWP), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dari PGRI. Kata Abror, semua lintas OPD bersinergi melakukan pencegahan, mengantisipasi, serta pasca banjir melakukan bersih-bersih. Keinginan warga di wilayahnya, kata Abror, bukan hanya bantuan sembako, melainkan bagaimana langkah konkret pemerintah melakukan aksi nyata menormalisasi Sungai Cidurian yang ketika hujan selalu membawa lumpur hingga sampah ke permukiman.
Menurut Abror, harus dilakukan pengerukan Sungai Cidurian yang sudah mengalami pendangkalan sehingga setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi meluap ke permukiman. Selain itu, harus membangun tanggul untuk menahan luapan air yang kerap memutus arus lalu lintas dan merendam permukiman di wilayahnya. Tidak hanya itu, banjir juga merendam wilayah pertanian. Banyak petani mengalami gagal panen.
“Jadi, luar bisa dampak yang diderita warga akibat banjir. Jadi, harapan kami banjir tidak terulang,” harapnya.
Saat ini, diakui Abror, warganya selalu waswas seriap turun hujan dengan intensitas tinggi. Untuk itu, pasca banjir pihaknya akan melakukan mitigasi bencana, mengedukasi warga agar dapat mengantisipasi terjadinya bencana.
“Jadi, banjir kemarin itu warga belum siap,” tukasnya.
Untuk itu, pihaknya akan bersinergi dengan instansi terkait untuk memberikan pemahaman kepada warga agar ketika terjadi banjir sudah bisa diantisipasi. Abror juga berharap, BBWSC3 segera melakukan normalisasi Sungai Cidurian, dimana wilayahnya berdekatan dengan Tangerang. Kata Abror, Kali Mati di wilayah Tangerang juga disinyalir salah satu penyebab banjir ke wilayahnya.
“Jadi, ketika terendam, air tidak bisa kembali ke sungai sebelum sungai surut, sehingga kami benar-benar mengandalkan serapan ke tanah. Makanya, kami langsung gercep pinjam alat sedot air,” terangnya.
Abror tidak menampik, jika banyak dampak terhadap wargany akibat banjir, seperti dampak sosial, ekonomi, dan trauma yang dirasakan warga. Abror berharap, pemerintah segera melakukan langkah konkret untuk mengantisipasi banjir seperti normalisasi Sungai Cidurian dan pembangunan tanggul dari wilayah Cikande sampai Binuang.
“Semiga tidak ada banjir lagi ke depan. Jadi, Normalisasi Sungai harus jadi skala prioritas saat ini,” pungkasnya. *(Nizar)*








