
BISNISBANTEN.COM – Bakso dan mi ayam. Siapa sih yang tak kenal dengan makanan ini?
Sepertinya kedua makanan ini melekat. Jika ada bakso pasti ada mi ayam. Benar bukan?
Terbuat dari daging sapi dan kuah yang yang khas, makanan favorit semua kalangan ini hadir di setiap daerah dengan cita rasa khas.
Dari sekian banyak puluhan kedai bakso, banyak yang bisa menjado favorit. Salah satunya Bakso dan Mie Ayam Mang Khotib.
Mang Khotib Pemilik warung bakso ini berasal dari Jawa. Ia menikah dengan Teh Ncum warga Desa Binangun. Membuka warung di pertigaan pangkalan angkot Cibangkong, Desa Binangun, Kecamatan Waringinkurung.
Awalnya Mang Khotib tidak ada niatan sama sekali membuka usaha warung bakso, karena sebelumnya bekerja di proyek. Namun, pada saat itu proyek ada terkendala dan kemudian menganggur selama tiga bulan.
“Selama tiga bulan gak ada kerjaan jadi nganggur, eh temen saya ngajakin kerja tanpa ngomong gitu mau kerja di mana. Katanya udah ikut aja ternyata di warung bakso,” ujarnya tertawa sambil melayani pelanggan.

Karena tidak ada basic dan pertama kali membuat bakso, Mang Khotib Belajar untuk membuat bakso, namun ia tidak langsung diberikan resep khas bakso hanya diberikan basic resep membuat bakso. Untuk mendapatkan resep khas bakso di warung tersebut harus mengabdi selama lima tahun.
Karena memang tidak ada niatan untuk bekerja di warung bakso, akhirnya Mang Khotib resign dan pamit kepada bosnya. Ia berterima kasih atas ilmu resep basic membuat bakso.
Setelah beberapa bulan, dengan memanfaatkan peluang dan ilmu membuat bakso, pada 2016 Mang Khotib memberanikan diri membuka usaha warung bakso sendiri di Cibangkong. Kebetulan di desa tersebut tidak ada warung bakso.
Sebelum membuka warung bakso, Mang Khotib belajar di rumah terlebih dahulu. Ia membuat bakso lalu dibagikan kepada tetangga rumah sekitar untuk testimoni selama kurang lebih satu bulan. Ini dilakukan untuk mengetahui selera dan kekurangan baksonya.
Untuk testimoni, Mang Khotib mengeluarkan modal sekitar Rp1 juta-an. Tidak lama kemudian, setelah dirasa sudah pas, Mang Khotib menyewa tanah Rp3 juta per tahun untuk ditempati dan dibangun warung kecil.
Oh ya, semangkuk bakso hanya dikenakan Rp6 ribu, untuk mi ayam Rp6 ribu. Kalau mi ayam bakso hanya Rp10 ribu. Cukup murah, enak, dan bikin kenyang nih.

Melihat antusias warga terhadap bakso, saat pertama kali warung dibuka Mang Khotib sangat bersyukur karena saat itu per hari bisa menjual 200 mangkuk bakso dan mie ayam.
Kedai ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB sampai tutup. Namun untuk setiap Jumat buka setelah waktu salat Jumat.
Namun untuk saat ini, diakui Mang Khotib, penjualan mengalami penurunan sampai mencapai 50%. Ini dikarenakan banyak pedagang bakso keliling.
“Iya sekarang mengalami penurunan setengahnya lah ya karena kan ada pedagang keliling sudah masuk kesini tapi saya tetap bersyukur,” ujarnya.
Untuk omzet, Mang Khotib tidak bisa membeberkan karena tidak menentu. Baginya, yang terpenting baginya bisa untuk nafkah keluarga dan membeli bahan-bahan bakso.
Gimana para pecinta bakso? Langsung aja yuk kunjungi warung bakso Mang Khotib. (ismi)









