Xiaomi, OPPO, dan Vivo Tertekan Krisis Memori, Samsung dan Apple Justru Makin Diuntungkan

BISNISBANTEN.COM — Pasar smartphone global tengah menghadapi tantangan baru akibat krisis pasokan komponen memori. Kenaikan harga RAM dan penyimpanan (storage) membuat sejumlah produsen ponsel, terutama di segmen menengah dan terjangkau, harus menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin besar.
Kabarnya, kondisi ini dipicu oleh perubahan fokus sejumlah produsen chip memori. Pabrik-pabrik semikonduktor kini lebih banyak mengalokasikan produksinya untuk memenuhi kebutuhan pusat data (data center) dan teknologi kecerdasan buatan (AI), sehingga pasokan memori untuk industri smartphone menjadi lebih terbatas.
Akibatnya, harga komponen RAM dan storage melonjak drastis, bahkan disebut meningkat hingga empat sampai lima kali lipat dalam kurun satu tahun. Padahal, pada ponsel kelas menengah dan entry-level, komponen memori dapat menyumbang sekitar 60 persen dari total biaya produksi perangkat.
Kondisi tersebut memberikan dampak yang berbeda bagi setiap produsen smartphone. Merek seperti Xiaomi, OPPO, dan Vivo diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak karena ketiga perusahaan tersebut memiliki porsi penjualan yang besar di segmen ponsel dengan harga terjangkau. Kenaikan biaya produksi membuat ruang untuk menjaga harga tetap kompetitif menjadi semakin sempit.
Di sisi lain, Samsung dan Apple dinilai berada dalam posisi yang lebih menguntungkan. Samsung dikabarkan memilih menaikkan harga pada lini ponsel budget, seperti seri Galaxy F dan Galaxy M, sementara harga flagship Galaxy S26 tetap dipertahankan agar tetap kompetitif di pasar premium.
Sementara itu, Apple disebut menjadi satu-satunya merek besar yang belum menaikkan harga iPhone. Meski demikian, perusahaan asal Cupertino tersebut telah lebih dulu menyesuaikan harga pada beberapa produk lain, seperti iPad dan MacBook. Krisis komponen ini juga berdampak pada pasar smartphone secara keseluruhan. Pengiriman smartphone global pada kuartal II 2026 dilaporkan turun 6,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadi penurunan terdalam sejak 2013. Di tengah penurunan pasar, Samsung justru berhasil meningkatkan pangsa pasarnya hingga mencapai 24 persen. Apple juga mencatatkan rekor pangsa pasar sebesar 20 persen. Sebaliknya, Xiaomi diprediksi mengalami penurunan pengiriman hingga 28 persen sepanjang 2026. Selain itu, harga jual rata-rata smartphone di pasar global kini mencapai sekitar 550 dolar Amerika Serikat atau menjadi level tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan tersebut mencerminkan semakin mahalnya biaya produksi akibat krisis komponen memori yang masih membayangi industri smartphone.
(Sarah)









