Ekonomi

SHAFARA x FERBA 2025 Soroti Ekosistem Kuliner Halal dalam Sesi Casual Talk #2, Simak Penjelasannya

BISNISBANTEN.COM — Hari kedua Festival SHAFARA x FERBA 2025 yang berlangsung di Bintaro Jaya Xchange Mall 2, Sabtu (30/8), dipenuhi antusiasme pengunjung melalui sesi Casual Talk #2 bertema “Ekosistem Kuliner Halal Banten Menuju Pusat Halal Dunia”. Diskusi ini menghadirkan Dr. Ir. Eden Gunawan, MM., IPU., ASEAN-Eng, Direktur Industri Produk Halal KDEKS Banten; Dian Widayanti, Founder & CEO @eatever_indonesia; Mori Satria, Founder PT Damory Food Indonesia Group. 

Dalam pemaparannya, Eden menekankan besarnya potensi Banten sebagai pusat kuliner halal. Faktor sejarah Kesultanan Banten, letak geografis strategis, hingga jumlah populasi muslim yang terus meningkat, menjadi modal penting. Namun, ia menyoroti sejumlah tantangan, seperti minimnya sosialisasi halal, data ekosistem yang belum terintegrasi, serta anggapan masyarakat bahwa sertifikasi halal rumit, lama, dan mahal.

Untuk menjawab itu, Eden memaparkan strategi percepatan sertifikasi halal, pendampingan dan pendaftaran sertifikasi UMKM halal, pengembangan Kawasan Industri Halal, hingga digitalisasi data. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media, sangat penting untuk membangun ekosistem halal yang solid. Menurutnya, SHAFARA merupakan bentuk nyata kegiatan stakeholders.

Advertisement

Adapun program kerja prioritas yang ada mengacu pada tiga pilar rencana strategis KDEKS, yakni kodifikasi data industri produk halal, master plan industri halal Indonesia (MPIHI) 2023–2029, serta percepatan implementasi sertifikasi halal digitalisasi data dan mapping permasalahan.

Sementara itu, Dian Widayanti mengangkat peran media sosial dalam meningkatkan kesadaran halal. Ia mencontohkan kasus-kasus kuliner yang sempat viral, mulai dari produk yang mengandung bahan non-halal hingga penjualan minuman beralkohol. Menurutnya, fenomena viral itu mendorong publik semakin melek halal dan memberi tekanan positif kepada brand untuk segera mengurus sertifikasi.

“Meskipun populasi umat muslim di Indonesia mayoritas, yakni 87%. Namun kesadaran dan pemahaman masyarakat muslim terkait halal masih tergolong rendah,” kata Dian. Baginya, apa yang ia lakukan bukan hanya sekadar sharing halal, melainkan sebagai salah satu upaya mendorong resto atau brand untuk melakukan sertifikasi halal. “Ternyata suara kita di dengar, beberapa resto/brand yang tadinya belum halal kemudian melakukan sertifikasi halal agar dapat menyesuaikan dengan market muslim,” tulisnya dalam materi yang ia bagikan pada acara Casual Talk SHAFARA dan FERBA 2025.

Menariknya, sesi Casual Talks SHAFARA dan FERBA 2025 ini juga diselingi paparan spiritual yang mengaitkan halal food dengan diterima atau tidaknya doa seorang muslim. Kisah-kisah yang diangkat antara lain hadis tentang doa seorang musafir yang ditolak karena mengonsumsi makanan haram, serta pesan Rasulullah kepada Sa’ad bin Abi Waqqash bahwa memperbaiki makanan adalah syarat doa mustajab. Hal ini menegaskan bahwa konsep halalan thayyiban tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada keberkahan hidup.

Advertisement

Pesan moral yang disampaikan adalah bahwa makanan halal dan baik (thayyib) bukan sekadar kebutuhan jasmani, melainkan amal shaleh yang berdampak langsung pada hubungan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya. Hal ini sejalan dengan semangat SHAFARA x FERBA yang tidak hanya menekankan aspek ekonomi syariah, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan rangkaian paparan dari aspek regulasi, sosial, hingga spiritual, sesi Casual Talk #2 menegaskan bahwa ekosistem kuliner halal adalah isu menyeluruh. Banten diharapkan mampu menjadi pionir dalam pengembangan kuliner halal, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga menuju persaingan global, sekaligus meneguhkan peran Indonesia sebagai pusat halal dunia.

(Sarah)

Advertisement

Susi Kurniawati

Wartawan bisnisbanten.com
bisnisbanten.com