Pedagang Daging Mogok Jualan: Pedagang Bakso Putar Otak, Stok Mulai Menipis

BISNISBANTEN.COM – Aksi mogok jualan para pedagang daging sapi yang berlangsung hingga Selasa (27/1/26) mulai memberikan dampak nyata bagi ekosistem kuliner di Kota Serang.
Pantauan di lapangan menunjukkan respons beragam, mulai dari pedagang kecil yang memilih tidak menyetok barang hingga pengusaha bakso yang terpaksa “jemput bola” ke tempat pemotongan.
Nur, pemilik gerai sayur Jaya Bersama di Jalan Lingkar Selatan Ciracas, mengungkapkan bahwa dirinya tidak berani menyimpan stok daging dalam jumlah banyak di tengah situasi yang tidak pasti. Menurutnya, distribusi daging saat ini sangat bergantung pada pesanan khusus.
“Di sini enggak pernah nyetok. Paling kalau ada pesanan para pelanggan saja,” ujar Nur saat ditemui pada Selasa siang.
Ia menambahkan, para pelanggan setianya—terutama pedagang bakso—kini harus berjuang lebih keras. Mereka terpaksa mencari pasokan langsung ke rumah pemotongan hewan (RPH).
“Mereka nyari sendiri ke pemotong daging. Dapat, tapi harganya lebih tinggi,” tambah Nur.
Di sisi lain, beberapa pelaku usaha kuliner sudah mengantisipasi aksi mogok ini sejak jauh hari. Susi, pemilik kedai Bakso Tak Terduga di Jalan Sayabulu, mengaku usahanya masih berjalan normal karena ia telah mendapat bocoran rencana mogok sejak beberapa hari lalu.
“Sudah ada info dari pihak daging kalau mau mogok Senin-Selasa, jadi kemarin-kemarin sudah siapin stok. Sampai saat ini masih ada, tapi tidak tahu kalau mogoknya lebih dari dua hari,” kata Susi.
Terkait harga, Susi menyebutkan bahwa meskipun ada gejolak stok, ia masih mematok harga Rp13.000 per porsi. Menurutnya, harga daging sapi saat ini sebenarnya masih dalam kisaran normal, yakni Rp125.000 hingga Rp130.000 per kilogram.
Ia menyebut pada Lebaran terakhir, harga daging sempat menembus Rp135.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Kenaikan tersebut bersifat sementara dan kembali turun setelah hari raya. “Lebaran kemarin sempat Rp140.000-an. Habis itu turun lagi ke harga normal,” katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, gejolak harga sapi di Kota Serang belakangan ini dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dolar Australia.
Hal ini berdampak langsung pada biaya impor sapi hidup, mengingat sebagian besar pasokan sapi potong di wilayah Serang masih bergantung pada komoditas impor.
Para pelaku usaha berharap aksi mogok ini segera berakhir. Jika terus berlanjut, dikhawatirkan biaya produksi bakso akan membengkak dan memaksa mereka menaikkan harga jual kepada konsumen.
“Mudah-mudahan enggak lama mogoknya. Kalau sampai diperpanjang, kami juga bakal kesulitan,” tutup Susi. (Siska)









