Info Travel

Masjid Raya Al-Bantani, Kemegahan Tempat Ibadah Berdesain Nusantara dan Timur Tengah

BISNISBANTEN.COM – Masjid megah satu ini berada di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Palima, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten. Berdiri di atas tanah wakaf seluas 28.415 m2, Masjid Raya Al-Bantani yang dibangun dalam kurun waktu tiga tahun, yakni 2008-2010 ini diresmikan bertepatan dengan ulang tahun Banten ke-10 pada 4 Oktober 2010.

Peresmian masjid diadakan bersama-sama dengan rilis 30.000 mushaf Alquran Al-Bantani serta peluncuran haji kantor administrasi yang meliputi wilayah Banten.

Proses pembangunan tergolong cepat karena target peresmian bersamaan dengan peringatan ulang tahun provinsi. Pekerjaan ini melibatkan sedikitnya 300 pekerja yang bekerja secara penuh mulai pukul 08.00 WIB hingga menjelang tengah malam.

Advertisement

Masjid yang mampu menampung 10.000 jemaah dan terbesar kedua di Provinsi Banten setelah Masjid Raya Al-Azhom ini pun pernah dipakai saat musabaqah tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional pada Juni 2008. Saat itu pembangunannya belum sepenuhnya rampung.

Rencana pembangunan masjid ini berawal dari Gubernur Banten saat itu Ratu Atut Chosiyah yang terinspirasi peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Saat hijrah, Rasulullah mendirikan masjid pertama yakni Masjid Quba di Madinah. Nah, ini hampir serupa dengan pemerintah Provinsi Banten yang ramai-ramai mulai menempati area perkantoran di KP3B ini.

Sebelum dinamai Masjid Raya Al-Bantani, sejumlah nama diusulkan para tokoh ulama, kyai dan masyarakat. Nama yang muncul antara lain Al-A’la dan At-Taqwa.

Semula masjid ini akan dinamai Masjid Agung Al-Chosiyah, Masjid Al-Chosiin, Masjid Baitul Chosiin, Masjid Al-Chosiyain, serta Masjid Al-Chosiyah, Masjid Al-Chosiyah Al-Bantani. Ini karena masjid ini dibangun di era pemerintahan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Namun, hal ini menimbulkan kontroversi.

Advertisement

Nama Al-Bantani disepakati karena juga merujuk kedaerahan Banten, karena itulah disepakati nama Masjid Raya Al-Bantani. Masjid ini kemudian resmi diberi nama saat ini berdasarkan keputusan pemerintah No. 451.2/Kep.546-Huk/2010.

Sekadar tahu, nama Bantani merupakan istilah Arab untuk Banten, dan banyak ulama dari Banten yang bertugas di Arab Saudi menggunakan istilah Al-Bantani. Termasuk cendekiawan muslim terkenal dari Serang, Syekh Nawawi al-Bantani yang menjadi imam dari Masjid al-Haram di Mekah.

Selanjutnya masjid ini diharapkan mampu menjadi sentral atau percontohan bagi masjid-masjid di Banten, serta memberikan banyak kebermanfaatan dalam syiar ajaran Islam.

Bangunan masjid ini memiliki struktur indah yang menambah kesan megah. Dari luar, desain masjid tampak menggabungkan gaya khas arsitektur Turki dan lokal Banten. Gaya Turki dapat dilihat pada penggunaan empat menara di setiap sudut yang menyatu dengan bangunan utama . Bentuk ini mengingatkan pada bentuk Masjid Sultan Ahmed di Istanbul.

Pada bagian atap menggunakan kombinasi gaya Nusantara yang diwakili atap limas tumpang tiga serta gaya Arab dengan keberadaan kubah di ujung atap. Model atap masjid ini seperti Masjid Agung Jawa Tengah.

Di area dalam masjid, terlihat sangat lapang karena tidak menggunakan tiang penyangga. Kalaupun ada ruang yang tertutup oleh lantai atas, hanya sekitar seperlima dari luas ruang keseluruhan. Plafon masjid sengaja dibiarkan polos dengan menampilkan rangka besi penyangga atap beralur mengerucut ke atas semakin menambah kesan artistik.

Seni ukir kayu jati yang mengombinasikan kaligrafi huruf Arab dan motif khas Jawa mendominasi dinding depan, mulai dari ornamen hias di dinding, pigura, mihrab, hingga mimbar.

Masjid ini juga dilengkapi fasilitas penunjang bagi penyandang disabilitas. Beberapa bagian lantai bangunan dan pintu masuk dibangun dengan tanda khusus.

Melihat hasil akhir yang tampak nyaris sempurna, banyak yang tidak menyangka jika masjid ini dibangun dengan proses pembangunan fisik relatif cepat. Ini menjadi mahakarya teknis yang menciptakan detail keindahan dalam balutan religiusitas. (Hilal)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.