Banten24

Luncurkan Program ‘Ratu Tani’ Perkuat Ketahanan Pangan

DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN KABUPATEN SERANG

BISNISBANTEN.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus berupaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Salah satu langkah nyatanya, yakni meluncurkan Program Kolaborasi Terpadu Pertanian ‘Ratu Tani’ yang dirangkaikan dengan gerakan tanam dan panen bawang merah di Desa Toyomerto, Kecamatan Keramatwatu, Kabupaten Serang, Senin (7/7/2025).

Program tersebut merupakan upaya strategis Pemkab Serang untuk meningkatkan produksi bawang merah guna mencukupi kebutuhan daerah, baik di Kabupaten Serang sendiri maupun Provinsi Banten secara umum.

Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo, S.Pi.,MM menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk terus membangun ketahanan pangan lokal. Suhardjo pun mencontohkan potensi lahan untuk penguatan program di Kecamatan Kramatwatu yang mencapai 160 hektare atau baru sekira 10 persen yang dimanfaatkan untuk budidaya bawang merah dan hasil panennya pun cukup menggembirakan.

Advertisement

“Ada tanaman yang sudah berusia 20 hari dan beberapa lahan sudah siap panen dengan hasil sekitar 6 sampai 7 ton per hektare,” ungkapnya.

Suhardjo juga menyampaikan pentingnya faktor cuaca terhadap pertanian, terutama untuk tanaman bawang merah. Menurutnya, curah hujan sangat dibutuhkan, terutama pada malam hari. Air hujan bermanfaat untuk membersihkan embun yang menempel di daun bawang, karena jika tidak hilang bisa menimbulkan bercak putih dan penyakit. Untuk konsumsi bawang merah masyarakat Kabupaten Serang saat ini masih tergolong rendah, rata-rata 3 kilogram per orang per tahun. Namun, secara kumulatif kebutuhan bawang merah pada momen tertentu bisa melonjak drastis. Contohnya, saat Ramadan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri kebutuhan bisa mencapai 450 ton. Kendati demikian, Suhardjo tidak menampik, produksi bawang merah di Kabupaten Serang masih belum mencukupi kebutuhan lokal, meskipun potensinya besar.

“Kita sebenarnya mampu memproduksi hingga 619 ton, tapi kenyataannya masih ada kekurangan. Saat panen raya, distribusi menjadi tantangan, karena tidak semua petani bisa langsung menjual hasilnya,” terangnya.

Disebutkan Suhardjo, Kecamatan Kramatwatu merupakan sentra produksi bawang merah terbesar, disusul Kecamatan Pabuaran. Ia berharap, kolaborasi antardaerah bisa diperkuat agar distribusi dan stabilitas harga bawang merah tetap terjaga. Saat kekurangan, pihaknya bisa suplai dari daerah lain, tetapi saat panen diupayakan harganya jangan sampai jatuh. Artinya, perlu ada kerjasama agar hasil pertanian bisa didistribusikan ke berbagai pasar di Indonesia. Suhardjo pun mengajak masyarakat, khususnya petani untuk memanfaatkan sarana dan prasarana pertanian yang sudah tersedia, seperti pupuk dan obat-obatan, serta meningkatkan pengetahuan dan kerja sama.

“Petani bawang ini mirip petani cabai, sangat tergantung musim dan harga. Maka dari itu, strategi peningkatan produksi dan stabilitas harga sangat penting untuk kita pikirkan bersama untuk menyukseskan program ‘Ratu Tanu’ ini,” tutupnya.(Adv)

Advertisement
bisnisbanten.com