Jelang Lebaran 2026, Produksi Gipang di Kasemen Kota Serang Melonjak Dua Kali Lipat

BISNISBANTEN.COM – Memasuki pertengahan Ramadan 1447 H, geliat produksi camilan tradisional gipang di Kampung Magelaran Cilik, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengalami peningkatan signifikan. Permintaan konsumen terhadap kudapan manis renyah ini melonjak tajam menjelang Hari Raya Idulfitri.
Pemilik usaha Gipang Cahaya Nawaf, Sam’ani, mengungkapkan bahwa grafik pesanan mulai merangkak naik tepat saat memasuki hari ke-15 puasa. Kondisi ini menjadi berkah tahunan yang selalu dinanti para perajin gipang di wilayah tersebut.
“Kalau mau Lebaran memang beda dengan hari biasa. Biasanya mulai ramai sekitar 15 hari puasa,” ujar Sam’ani saat ditemui di lokasi produksinya, dikutip pada Sabtu (07/03/26).
Lonjakan permintaan ini memaksa dapur produksi bekerja ekstra. Sam’ani menyebutkan, pada momen puncak seperti sekarang, produksinya bisa mencapai 50 kilogram (setengah kuintal) per hari. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa yang hanya berkisar di angka 25 kilogram.
Meski harga sejumlah bahan baku di pasar mulai merangkak naik, Sam’ani memilih untuk tidak menaikkan harga jual agar tetap terjangkau oleh pelanggan setia. Sebagai gantinya, ia melakukan penyesuaian pada ukuran gipang.
“Sekarang satu toples Rp20.000, itu sudah lama. Walaupun bahan-bahan naik, harga tetap,” tegasnya.
Gipang Cahaya Nawaf tidak hanya dinikmati warga lokal Serang. Produk ini telah merambah pasar di luar daerah, seperti Jakarta, Cilegon, hingga Anyer. Dari beberapa wilayah tersebut, Cilegon tercatat sebagai penyumbang permintaan terbanyak.
Dalam kondisi ramai, Sam’ani mampu mengirim hingga 50 lusin gipang dalam sekali pengiriman. Jumlah ini berbanding jauh dengan hari sepi yang hanya berkisar lima lusin saja.
Kualitas gipang ini pun terbilang awet. Jika disimpan di tempat sejuk atau di dalam lemari es, camilan ini mampu bertahan hingga tiga sampai empat bulan tanpa mengurangi cita rasanya.
Usaha yang telah ditekuni Sam’ani selama tiga tahun ini melibatkan proses pembuatan yang cukup memakan waktu. Anis Fu’ad, salah satu pekerja bagian produksi, menjelaskan bahwa dalam sehari mereka mampu menghasilkan sekitar 25 papan gipang.
“Seluruh tahapan dilakukan bertahap, mulai dari memasak bahan, mencetak adonan, hingga proses pemotongan setelah adonan mengeras,” kata Anis.
Dibutuhkan waktu sekitar dua hari dari proses awal hingga gipang benar-benar siap dikemas ke dalam toples dan dipasarkan. Dengan tekstur yang garing dan rasa manis yang khas, gipang tetap menjadi primadona hidangan meja saat hari kemenangan tiba.(siska)









