InspirasiSosok

Ihyaudin Rosadi Albantani: Kejujuran dan Iman Jadi Modal Utama Bisnisnya

BISNISBANTEN.COM — Ihyaudin Rosadi Albantani, pria kelahiran Serang 13 Maret 1988 ini mengawali bisnis Raja Cetak pada 2011. Sebenarnya bisnis yang ia jalani ini tidak sesuai dengan jurusan yang ia ambil semasa kuliah.

“Jurusan saya sewaktu kuliah itu administrasi negara, saya kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Untirta. Awal terjun dalam bisnis percetakan bersama dua rekan saya, kami melihat dari sisi kebutuhan masyarakat dan mahasiswa saat itu. Karena mahasiswa itu selalu butuh yang namanya percetakan dalam membuat kegiatan, makanya saya dan dua rekan memutuskan untuk terjun di dunia bisnis percetakan. Awalnya karena saya tidak mengerti apa-apa tentang percetakan, saya belajar dari rekan saya. Saya belajar dan berupaya untuk suka,” kenang alumni SDN 2 Cipocok Jaya ini.

Pria yang mengenyam pendidikan di SMAN 1 Cibadak, Rangkasbitung, ini semasa kulliahnya aktif di kegiatan organisasi sehingga banyak pelajaran dan pengalaman yang ia dapat sewaktu kuliah dan diterapkan dalam bisnis ini.

Advertisement

“Sewaktu saya kuliah, saya belajar teori kepemimpinan dan marketing. Nah di percetakan ini juga dituntut cara mengatur bisnis, mempengaruhi orang agar bisa percaya, dan bagaimana memimpin,” ungkap alumni MTSN 1 Kota Serang ini.

Dalam berbisnis tentu terkadang merasakan masa-masa sukar. Ihya bilang, untuk dapat bertahan saat masa sukar tersebut adalah menjadikan kerjaan itu menjadi hobi.

“Awalnya saya juga tidak begitu paham dengan dunia percetakan, teman saya yang paham. Tapi lambat laun saya belajar, lalu berusaha untuk menjadikan pekerjaan ini menjadi hobi. Kalau kita sudah hobi terhadap pekerjaan akan lahir cinta, kalau sudah cinta apapun akan dilakukan,” tuturnya.

Ia juga berpesan untuk para pengusaha muda, jadilah pengusaha muda yang saleh.

Advertisement

“Karena ini merupakan poin penting. Lalu berbisnis lah sesuai dengan yang diajarkan Rasullulah. Dengan begitu dunia akan mengikuti, kaya raya di tangan, sedekah banyak, surga menanti,” katanya lagi.

Owner Raja Cetak yang berdiri pada 2011 ini ternyata pernah menjabat sebagai presiden mahasiswa Untirta. Ihyaudin bilang, awal memilih untuk terjun ke dalam dunia percetakan ini karena melihat sisi kebutuhan.

“Karena dunia percetakan ini dunia kreativitas dan dunia kebutuhan yang nggak pernah selesai, kebutuhan yang ada terus. Barulah kita tertarik bisnis di dunia percetakan,” tutur Ihya.

Awal perintisan bisnis ini, pertama kali mereka melakukan promosi di koran dan radio, juga dari relasi. “Relasi ini dari mulut ke mulut. Periode kedua kita memakai poster-poster di jalan, periode ketiga baru kita jemput bola,” cerita Ihya.

Nama Raja Cetak dipilih dengan harapan bisnis ini bisa menjadi percetakan yang melayani para raja.

“Raja di sini dimaksudkan dengan para konsumen itu. Semangat kita itu bagaimana kita bisa melayani konsumen seperti raja, kita juga punya tagline yaitu super tepat, orang lain mungkin super cepat tapi kita beda dari yang lain, alasannya kita ambil super tepat yaitu kita ingin menjadi tepat waktu, tepat harga dan tepat kualitas. Jadi itu tiga hal yang kita gaungkan ke konsumen bahwa tiga hal tadi yang kita coba berikan kepada mereka,” kata Ihya.

“Kita mendorong semua karyawan dan saya pribadi untuk bisa mengutamakan pelayanan prima, di tempat lain mungkin saja unggul di beberapa sisi tertentu. Kalau kita mencoba untuk mendongkrak dari sisi pelayanan, karena yang dicari konsumen itu adalah pelayanan yang terbaik bukan hasil yang terbaik. Jadi siapa pun konsumennya akan kita layani dengan sepenuh hati,” lanjutnya.

Raja Cetak juga bergerak di lima bidang, yakni percetakan, digital printing, aksesoris, dan suvenir, konveksi, dan advertising. Sampai saat ini Raja Cetak sudah mempunyai banyak konsumen, juga banyak partner bisnis dan relasi, mulai dari personal, intansi ataupun kampus-kampus, sekolah-sekolah.

Dia mengungkapkan, sebenarnya untuk menyakinkan pelanggan itu tidak begitu sulit, yang jelas berkata jujur. Menurutnya, yang dibutuhkan oleh konsumen itu kejujuran.

“Kalau kita sudah berkata jujur insya Allah konsumen akan yakin, apa yang ditanyakan, apa yang dibutuhkan, apa yang dicari kita bantu sejujur-jujurnya. Maka dari kejujuran itu akan lahir pelayanan yang prima tadi,” tutur Ihya.

Dalam hal berbisnis tentu banyak suka duka yang dialami, sama seperti Raja Cetak. “Sukanya alhamdulilah banyak, mulai dari bertambahnya rezeki, relasi, dan ilmu. Dukanya tentu dalam berbisnis tentu ada utang-piutang. Di sini biasanya dalam mengelola utang-piutang itu menjadi kadang suka kadang duka,” ungkap Ihya.

Ia juga mengatakan, kunci keberhasilan dari usaha, setiap apa pun yang dilakukan tentu wajib melibatkan Tuhan yang memberikan rezeki.

“Karena dengan begitu permintaan kita terhadap usaha kita akan dikabulkan. Contoh dari kita melibatkan Tuhan yaitu kita ingin seluruh karyawan Raja Cetak ini menjadi saleh dan salehah, seperti minimal salat tepat waktu, bersedekah, kita juga ada pengajian rutin setiap Jumat itu akan menjadi bekal dan tips sukses,” lanjutnya.

Ihya dan seluruh karyawannya berharap, Raja Cetak ini menjadi bisa referensi terbaik untuk para konsumen.

“Kita juga berkeinginan bisa memberikan kebutuhan yang penuh kepada semua karyawan, dan bisa menjadikan Raja Cetak ada di mana-mana,” tutup Ihya. (milenia)

Advertisement
LANJUT BACA

Hilal Ahmad

Pembaca buku-buku Tereliye yang doyan traveling, pemerhati dunia remaja yang jadi penanggung jawab Zetizen Banten. Bergelut di dunia jurnalistik sejak 2006.