Banten24

Bahas Persoalan Ekonomi Bangsa, FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta Gelar KNEMA 2018

 

BISNISBANTEN.COM — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta (FEB UMJ) menggelar Konferensi Nasional Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi (KNEMA) 2018. KNEMA digelar sebagai upaya memberikan masukan dan solusi bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam mewujudkan ekonomi yang berkeadilan. Kegiatan ini menyelenggarakan dua kegiatan pokok yakni Workshop dan Seminar Nasional dengan tema ‘Penguatan Kelembagaan Bisnis: Peran Manajemen dan Akuntansi untuk Mencapai Ekonomi Berkeadilan.’

Dekan FEB UMJ, Dr Andry Priharta, SE MM, mengatakan Workshop Metodologi Penelitian Eksperimen dan Religionis digelar hari ini, Jumat (23/2) di Aula FEB, UMJ, Cireundeu, Tangerang Selatan, Banten.

Advertisement

Workshop menghadirkan trainer dari Perguruan Tinggi ternama, seperti Prof Iwan Triyuwono, PhD dari Universitas Brawijaya, Hilda Rossieta, CA MComm PhD dari Universitas lndonesia, Dr. Ahim Abdurahim dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. M Nur Birton dari Universitas Muhammadiyah (UMJ), dan Dr. Dini Rosdini dari Universitas Padjajaran.

“Kegiatan yang diperuntukkan untuk akademisi dan pelaku usaha ini juga melaksanakan Call for Papers dengan subtema yang relevan dengan ekonomi, manajemen, dan akuntansi,” kata Andry dalam keterangan tertulisnya.

Sementara, Seminar akan digelar esok dengan menghadirkan pembicara utama Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Muliaman D Hadad PhD yang juga mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2012-2017.

Seminar juga menghadirkan pembicara lainnya, diantaranya Prof Dr Nunuy Nur Afiah SE, MSi, Ak CA selaku Ketua lAl Kompartemen Akuntan Pendidik, serta Prof Dr Irwan Prayitno SPsi MSc, Guru Besar FEB UMJ dan Gubernur Sumatera Barat.

Advertisement

Andry mengatakan KNEMA didasari berbagai permikiran seperti pemerintah Indonesia yang mencanangkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada APBN 2018 atau lebih tinggi dari realisasi Tahun 2017 sebesar 5.1 persen.

Target pertumbuhan yang tinggi akan percuma jika tidak diiringi dengan pemerataan sehingga akan menimbulkan ketimpangan.

Andry mengutip Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta yang menilai idealnya setiap tahun bisa menyerap 500.000 tenaga kerja baru. Angka tersebut masih jauh dari kenyataan saat ini yang baru bisa menyerap 200.000-300.000 tenaga kerja. Inilah yang menjadi kendala untuk menurunkan angka kemiskinan di tanah air.

Solusi lain adalah dengan memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah dengan memberikan kemudahan bagi UMKM dalam mengembangkan usahanya. Dengan demikian Sila ke-5 Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat indonesia diharapkan bisa terwujud. (NUA)

Advertisement
LANJUT BACA

Susi Kurniawati

Wartawan bisnisbanten.com